
Setelah kepergian Bima kini hanya Helena saja di dalam kamar tersebut. Ia menatap langit-langit membanyangkan betapa dulu ia begitu bahagia bersama orang tuanya. jalan-jalan ke taman bermain, menonton film, piknik di taman, bahkan membacakan dongeng sebelum tidur.
Tak terasa ia kembali menitihkan air mata sambil mengusap perutnya. Sekuat tenang ia menahan isak tangisnya tapi malah tangisannya semakin menjadi.
“mamah… papah… apa yang harus Helen lakuin… di saat Helen mau bahagia kenapa Tuhan seakan engan untuk memberikan itu… apa karena Helen banyak dosa? Apa karena Helen lahir hanya untuk tersakiti? Kalo emang gitu… lebih baik biarin Helen mati dari pada harus hidup tersiksa seperti ini. Helen juga gak mau anak Helen akan merasakan hal yang sama."
Lama ia meratapi nasibnya beserta anak di dalam kandungannya sampai penglihatannya berubah menjadi buram lalu menghitam.
.
.
.
Di sebuah taman yang begitu indah dengan danau besar di tengahnya terdengar suara wanita dan pria memanggil-manggil namanya. Helena melihat sekeliling tapi ia tidak menemukan siapapun.
“Helen… Helen…. Helen…” suara itu semakin jelas dan Helenpun mengenali suara siapa itu tapi kenapa ia tidak bisa melihat mereka.
“mah… pah… itu kalian? Mamah papah di mana… Hiks… Helen kangen kalian… Helen mau ikut kalian…”
“kita di sini sayang.” Terdengar suara dari belakangnya sontak saja ia menoleh dan mendapati kedua orang tuanya yang tubuhnya memancarkan cahaya dengan baju serba putih yang begitu indah.
Tanpa pikir panjang ia berlari memeluk kedua orang tuanya dengan erat. Helena begitu bahagainya melihat kembali sosok yang ia rindukan selama ini. harapannya bertemu dengan kedua orang tuanya akhirnya terwujud sekarang.
“kenapa kamu di sini nak?” tanya Daniel setelah pelukan mereka lepas.
“iya. Kenapa kamu bisa ada di sini?.” Nadin juga ikut bertanya.
“Helen kangen mamah sama papah.” Sahutnya dengan sisa airmata di wajahnya.
“di sini bukan tempat kamu sayang.” Kata Nadin.
“tapi Helen mau sama kalian.”
“dengar sayang, kamu itu masih hidup jadi tempat kamu bukan di sini. Kamu gak boleh lama-lama ada di sini karena tugas kamu di dunia sana masih banyak sedangkan papah dan mamah sudah selesai. Jadi pergilah dari sini.” Tutur Daniel.
“tapi pah… Helen mau ikut kalian… Helen udah capek di sana nanggung semuanya sendirian. Helen gak punya siapa-siapa lagi… Hiks…” wanita itu kembali terisak.
Dengan mengusap air mata di wajah Helena, Nadin berkata. “siapa bilang kamu sendirian di sana. Ada mommy, daddy, Luci, mamah papah mertua kamu dan masih banyak lagi termasuk suami kamu. mereka semua menyayangi kamu, sayang. Tapi kamu yang tidak menyadarinya. Coba lihat sekeliling kamu, jangan fokus dengan dendam yang kamu simpan selama ini. ikhlaskan.”
“mereka?” Helen menangkap sesuatu yang aneh.
“tuh kamu liat di sana.” Helena mengikuti arah jari Daniel yang menunjukan dua bocah perempuan sedang bermain kejar-kejaran dengan boneka Barbie di tangannya.
Tak sadar Helena kembali menitihkan air mata. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata bahagia. Ternyata Tuhan memberikan kedua putri kepadanya sekaligus untuk menyembuhkan rasa sakit hatinya.
“mamah….” Kedua bocah itu melambaikan tanganya ke arah Helena yang tentu saja di balas dengan lambaian juga.
“sana… anak-anak kamu nyariin itu… jangan biar mereka menunggu.” Seru Nadin.
“iya mah…”
“jangan lupa bahagiakan mereka. Doa papah dan mamah selalu bersama kalian dan jangan membalskan dendammu nak.” Kata Daniel.
“Helen pasti akan membahagiakan mereka tapi untuk membalaskan dendam Helen gak bisa janji.” Setelah berkata seperti itu Helena menghampiri kedua putrinya lalu menggandeng mereka di sisi kiri dan kanan dan berjalan menjauhi taman tersebut.
Walaupun Daniel dan Nadin tidak bisa menasehati anaknya yang keras kepala itu tetapi setidaknya mereka sudah senang karena Helena mau kembali ke dunianya. mereka selalu berharap anak mereka yang cantik itu memiliki hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
.
.
.
“Helen… Helen… lo udah sadar…. Tunggu gue panggil dokter sebentar.” Samar-samar terdengar suara yang memanggil manggil namanya.
Ia mencoba membuka mata, menyesuaikan cahaya di ruangan tersebut. Tempat yang tidak asing bahkan tempat ini beberapa sudah ia datangi selama sebulan ini. wanita itu menghela nafasnya panjang, ternyata ia kembali di bawa rumah sakit.
“pasti aku pingsan lagi.” Gumam Helen sambil memegang kepalanya sedikit pusing.
Tak lama dokter Dewi dan beberapa suster datang lalu mengecek keadaannya setelah itu suster itu pergi dan beberapa orang masuk ke dalam. Dewa, Bima dan juga Satria.
“akhirnya lo sadar juga Len. Lo udah dua hari pingsan karena terlalu setres sama kebanyakan nangis. Tolong jaga diri lo buat anak-anak lo.” tutur Dewi.
-BERSAMBUNG-