
Setelah Bima bebas, Helena membopongnya untuk keluar dari sana. “ayo Bimbim. Kita pasti bisa keluar dari sini.” Serunya.
“ak…aku tidak bisa. Aku tidak bisa berjalan lagi.” Ucap Bima lirih. Ia tidak bisa menggerakan tubuhnya karena terluka parah.
“ayo. Kita pasti bisa.” Gadis itu tidak langsung menyerah membantunya walaupun kesulitan karena tubuh Bima tiga kali lebih besar darinya tapi ia mampu berjalan mendekati pintu. Tiba-tiba…
DUARRR…
Suara ledakan kembali terdengar sangat keras di telinganya membuat Helena menoleh kebelakang dan dengan cepat ia mendorong Bima menjauh. Persekian detik reruntuhan bangunan tersebut menimpa Helena.
“ROSEEE!!...” teriak Bima yang tekejut melihatnya.
Tak lama datang Nathan dan kedua anak buahnya. “Black Rose…” mereka juga ikut terkejut.
“eeem… cepat ka..lian selamatkan Bima.” Perintah Helena.
“ta..tapi Black Rose__”
“sudah jangan membantah. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Cepat bawa Bima keluar dari sini” Helena memotong perkataan Nathan.
Mau tak mau mereka harus menuruti Helena untuk mengevakuasi Bima agar mereka bisa menyelamatkan gadis itu di dalam sana.
Setelah mereka pergi, Helena berusaha mengangkat reruntuhan tembok besar dari kakinya. Dengan sisa kekuatannya, ia berhasil mengangkatnya sebelum ledakan kembali terjadi.
Baru saja Nathan dan Kedua anak buahnya ingin masuk, ledakan dan kobaran api sudah menutupi jalan. Nathan, Bima dan yang lainnya syok.
“ROSE!!”
Mereka berteriak dan tidak menyangka, orang yang selama ini panutan dan melindungi mereka semua harus mati di depan mata mereka dengan sangat teragis. Apalagi Bima orang yang dekat dengannya mulai meratapi kebodohannya sendiri.
“i..ini tidak mungkin. Rose tidak mungkin mati. Ini semua salahku. Seharusnya aku yang mati disana supaya dia tidak kemari menyelamatkanku. Seharusnya aku tidak membiarkannya sendirian. Bodoh. Bodoh. Bodoh kau Bima. Buat apa Lo hidup kalo alasan lo hidup sudah mati di sana.” Bima berulang kali memukul dadanya sesak sambil menitihkan air mata.
PRANGG!!!....
Mendengar suara pecah membuat mereka langsung menoleh kearah kiri. Ternyata orang yang di anggap mati itu sedang melompati kaca jedela sebelum api kembali berkobar lebih besar lagi. Mereka benar-benar tidak menyangka melihat keajaiban itu termasuk Bima. Namun, mereka kembali syok melihat Helena tersungkur lalu tak sadarkan diri setelah itu di susul Bima karena sudah tidak kuat lagi.
“cepat bawa angkat mereka dan masukan kemobil. Kita pergi ke rumah sakit **** di sana sudah ada nona Dewi menunggu kita” perintah Nathan.
.
.
.
Sesampai di rumah sakit, Helena dan Bima di bawa keruang operasi yang berbeda karena mereka berdua benar-benar terluka parah. Dewi, adik Bima dan juga dokter pribadi Helena dengan cepat memasuki ruang operasi gadis itu sedangkan Bima di operasi oleh dokter lain.
Di luar ruang operasi, Nathan dan Juga lainnya menunggu dengan rasa resah menyelimuti hatinya. Tiba-tiba ada seorang dokter perempuan belari kearah mereka lalu menerobos masuk ke pintu tersebut. Perasaan mereka semakin kalut, takut terjadi sesuatu pada Helena ataupun Bima.
“ada apa sebenarnya ini? Siapa dokter tadi? Kenapa dia masuk ke sana?” racau Nathan sambil mengacak-acak rambunya frustasi. Ia benar-benar takut jika salah satu atau keduanya tiada. Kalau tidak, bagaimana mereka bisa bertahan hidup tanpa tuntunan kedua orang itu.
“Tuhan tolong selamatkan mereka. Jangan biarkan sesuatu terjadi pada mereka. Aku mohon.” Doa mereka dalam hati.
-BERSAMBUNG-