
“kan sudah aku bilang untuk istirahat bukan ngelamun terus mikirin aneh-aneh. Kondisi kamu ini masih lemah karena hamil muda. Apa susahnya sih nurut. Apa perlu aku suruh pelayan nemenin kamu terus seharian full.” Oceh Bima.
“jangan seperti ini lagi Helena. Kamu buat om khawatir.” Lirih Satria.
“lo ya bener-bener nyusahin. Gue tau lo punya masalah tapi jangan siksa keponakan gue. Kalo lo mau mati ya mati aja tapi tunggu keponakan gue yang unyu-unyu itu keluar dulu. setelah itu terserah deh lo mau jungkir balik, salto atau apapun itu. terserah.” Ketus Dewa.
Wanita itu memijat kepalanya merasa sakit mendengar ocehan mereka bertiga. Apa mereka lupa kalau dia baru saja sadar tapi mereka terus saja berbicara sampai urat leher mereka keluar.
“DIAM KALIAN SEMUA! Apa kalian bodoh. Aku baru sadar tapi mulut kalian gak bisa diem.” Bentak Helena yang seketika membuat ketiganya bungkam.
Sedangkan Dewi yang berdiri di sebelahnya cekikikan sendiri melihat ketiga orang tersebut mati kutu.
“apa lo juga bakalan terus ketawa hah?” sindir Helena dan seketika ia ikut bungkam sebelum mendapat hukuman.
Keheningan tiba-tiba menyelimuti ruangan tersebut. Tak ada satupun yang berani membuka suara sampai akhirnya Helena berbicara. “kapan aku bisa pulang?”
“kalo keadaan lo terus membaik setiap harinya, lo bisa pilang paling cepet seminggu. Kenapa?” tutur Dewi hati-hati.
Setelah mendengar tersebut, wanita itu terdiam sejenak lalu. “seminggu lagi aku akan kembali ke rumah Jackson. Jadi kalian juga harus bersiap.”
Semuanya menatap Helena heran karena selama ini mereka membujuknya tapi selalu di tolak.
“tapi sebelum itu aku mau kalian mencari tau siapa yang ada di balik Shasa.” Lanjutnya.
“maksudnya?” tanya Bima.
“coba kalian fikir. Shasa itu cumalah orang biasa, dia menikah dengan papah karena hutang dan setelah bercerai bagaimana dia bisa tinggal berpindah-pindah tanpa uang sepeserpun.”
“bisa saja dia menjual tubuhnya.” Celetuk Dewa.
“mungkin saja tapi yang jadi pertanyaannya kepada siapa ia menjual dirinya sendiri dan seberapa berkuasanya orang tersebut sampek bisa menghilangkan segala jejaknya Shasa. Apa kalian sudah mengerti sekarang.?” jelas Helena lagi.
“jadi ada orang yang ngebantu Shasa untuk melarikan diri?” ucap Dewi.
“dan orang itu juga menutupi kasus pembunuhan tersebut?” imbuh Satria.
“kalian benar. Jadi selidiki lebih lanjut. Cari di manapun termasuk di keluarga mertuaku. Aku sudah tidak bisa mempercayai siapapun.” Titah Helena.
“kau tenang saja. Kami semua akan membantumu dan sebisa mungkin kita akan menjagamu beserta anakmu jika terjadi sesuatu.” Ujar Bima sambil mengelus puncak kepalanya dengan lembut.
Di waktu yang sama, kantin kampus Jackson dan teman-temannya baru saja datang sudah mengundang perhatian banyak mata. Tentu saja karena mereka mahasiswa dan siswi terpopuler di kampus ini apalagi Jackson.
Di saat mereka baru mendaratkan bokongnya di tempat favorite mereka tiba-tiba ada suara yang menggundang perhatian semua orang.
“JACKSONNN….” Teriak seseorang.
Orang yang di panggil pun menoleh, berkali-kali ia mengedipkan matanya tak percaya. Orang yang sudah lama tidak ada kabarnya tiba-tiba kembali muncul.
“Lianna…” gumamnya saat gadis itu berlari ke padanya.
Gadis itu tanpa permisi memeluk Jackson begitu erat bahkan sedikit menggoyangi badannya saking senangnya.
Semua orang di buatnya bertanya-tanya siapa gadis dengan perawakan manis yang sudah berani menyentuh Jackson seenaknya padahal mereka juga ingin seperti itu dan mereka semakin di buat terkejut saat Jackson membalas pelukannya dengan penuh kasih sayang. Dalam hati mereka menjerit iri.
“hai bagaimana kabarmu? Kenapa kau ada di sini dan kenapa selama ini kau menghilang ha?” ucap Jackson saat pelukan mereka lepas lalu mengajaknya duduk di sebelahnya.
“aku pindah ke jerman. Ikut papah setelah mereka bercerai tapi sekarang aku pindah ke sini karena kangen sama kamu. udah lima tahun gak ketemu kamu makin ganteng aja.” ucapnya sambil tersenyum manis.
“kamu pulang kok gak ngabarin sih. terus sekarang kamu tinggal di mana?”
“gak papa biar surprise. Sekarang aku tinggal di apart tapi sendirian. Papah gak ikut.”
“ngapain tinggal di apart. Kamu kan takut sendirian. Lebih baik tinggal di rumah aku.”
“boleh nih?” tanya Lianna sumbringah dan di jawab anggukan kepala.
Mereka sibuk bertukar kabar tanpa memperdulikan temannya menatap heran. Jackson bukan seorang yang akan dengan mudah berinteraksi dengan seseorang kecuali Helena.
Tapi entah mengapa Luciana seperti mendapatkan sinyal lain, ia merasakan ada bau-bau calon pelakor dalam rumah tangga adik sepupunya. Ia tidak bisa membiarkan hal tersub terjadi. Selama adiknya tidak ada, ia akan mengawasi gadis bernama Lianna ini. jangan sampai adiknya di sakiti lagi, cukup dulu saja dia tidak bisa membantu saat ada Vina di tengah-tengah mereka.
-BERSAMBUNG-