
Halo semuanya…
Semoga kalian suka sama tulisan aku ini.
Jangan lupa Like, Comment dan juga Votenya agar aku semakin bersemangat menulisnya.
Dan Jangan lupa tekan Favorite supaya kalian gak ketinggalan update-an terbarunya.
Selamat membaca.
.
.
.
“gak usah terlalu benci sama orang, Rose. Nanti kalo jadi cinta gimana?” goda Bima yang di balas tatapan tajam dari Helena.
“Bimbim, kamu nyumpahin aku jodoh sama dia?” seru Helena.
“bener kata kakak, Len. Cinta sama benci itu cuma beda tipis. Lo terlalu benci sama orang berarti lo udah nempatin nama dia di hati lo.” Dewa ikut mengodanya.
“kok lo ikut-ikutan sih. iiihhh… kalian berdua mah ngeselin” rengek Helena yang di balas cekikikan dari Bima dan Dewa.
“eh bukan kita yang ngeselin nyonya. Tapi memang lo yang aneh. Helena yang kita kenal gak bakal pakek perasaan kalo berurusan sama musuh. Sekali bermasalah langsung di basmi sampai keakar-akarnya. Lah sekarang gak tegaan nih ceritanya?” kata Dewa.
“kamu gak ada niat bawa dia kemarkas apa?” Tanya Bima.
“dia gak bakalan mau kak. Kan udah cinta mati.” Goda Dewa lagi.
“sekali lagi lo ngomong. Gue robek mulut lo” bentak Helena mampu membungkam Dewa. Ya walaupun Dewa sering jail terhadap Helena tapi dia tidak berani membuat Helena benar-benar marah. Karena setiap yang dia ucapkan itu akan menjadi kenyataan.
“aiish capek gue berurusan sama kalian berdua. Lebih baik gue pergi aja kekampus. Males gue sama lo berdua” Helena segera mengambil tas, ponsel dan kunci mobilnya lalu beranjak dari situ sambil menghentak-hentakan kakinya kesal.
Setelah melihat Helena tidak ada. “menurut kakak gimana sekarang?” Tanya Dewa.
“gue juga gak tau. Mudahan aja tu bocah bisa jadi pengaruh positif buat Rose. Gue gak tahan liat Rose hidup sendirian walaupun ada kita tapi dia pasti merasa ada sesuatu yang kosong dihatinya”
“aku juga berharap seperti itu” inilah kenapa Dewa selalu jail sama Helena. Ia juga dapat merasa kalau hidup Helena begitu hampa. Dia memiliki segalanya tapi bukan untuk dia melainkan untuk keluarga dan orang-orang sekitarnya.
Bekerja keras, menjadi egois, selalu merasakan sakit dan menahan kepedihan sendirian hanya itu yang dilakukan Helena demi orang lain. Dia tidak pernah melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.
.
.
.
Kini Helena sudah berada di parkiran kampus berbarengan dengan sepasang sejoli yang baru keluar dati mobil. Awalnya Helena tidak ingin memperdulikan dua orang itu tapi…
“eh bocah sombong berhenti lo” teriak Jackson yang tidak di hiraukan Helena.
Laki-laki itu menari tangan Helena. “eh gue dari tadi gue manggil. Lo budeg ya” seru Jackson.
Helena menghempaskan tangan Jackson. “kapan lo manggil gue. Kok gue gak tau ya” ucapnya pura-pura bingung.
“heh… lo gak usah sok b*** kayak gitu”
“gue B***? Lo yang bego. Gue punya nama. Nama gue Helena.
Paham!”
“sayang kok kamu ninggalin aku sih.” Vina menghampiri kekasihnya.
“eh ngapain lo ada di sini. Lo juga kuliah atau nyari penglaris di sini?” Vina memandang Helena heran.
Helena memutar matanya malas lalu melipat tangannya di dada. “yayaya… terserah kalian mau ngomong apa. gue bodo amat. Lebih baik gue pergi aja. bye” Helena benar-benar malas berurusan dengan kedua orang itu.
“heh siapa yang suruh lo pergi” Jackson mencoba memegang bahu Helena tapi naas tangannya malah menjadi korban gadis itu. Helena memelintir tanganya ke belakang.
“AUUUWW AUUUW SAKIT WOY” teriak Jackson yang mengundang perhatian semua mahasiswa yang sedang ada disana.
-BERSAMBUNG-