LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 98



Sesampai di kediaman Damara, Johan membuka pintu utama dengan keras sehingga mengejutkan orang-orang yang ada di dalamnya.


“daddy kenapa sih dateng-dateng main banting pintu kayak gitu. Ini lagi kenapa penampilan daddy berantakan, mukanya juga pakek bonyok segala. Daddy abis ngapain?” ucap Merry beruntun.


“daddy berantem sama papah Logan tadi, mom.” Helena dengan santainya melawati mereka berdua dan menduduki dirinya di atas sofa.


“jangan pernah panggil dia ‘papah’ lagi. Daddy tidak sudi punya besan penipu seperti dia.” teriak Johan.


“dad, jangan marah-marah gak baik buat kesehatan.” Walaupun Merry tidak mengerti, ia tetap berusaha menengkan suaminya.


“gimana daddy gak marah. Bertahun-tahun kita di tipu oleh keluarga mereka bahkan dengan liciknya menjerumuskan Helen masuk ke keluarga mereka. Pasti mereka segaja melakukan itu agar Helen tidak sampai hati membalas perbuatan mereka.” Mata dan wajah Johan mulai memerah mengingat semua yang sudah terjadi.


“maksud daddy?” Helena mulai angkat bicara karena bingung.


Johan menghampiri Helena lalu berlutut di hadapannya sambil menggenggam erat tangan tersebut. “Helen, kenapa kau menutupi masalah sebesar ini sama daddy. Apa daddy tidak cukup pantas menjadi orang tuamu sehingga kau tidak mau berbagi luka dengan daddy.” Airmata Johan semakin tidak terbendung melihat keponakannya itu.


Helena mengerutkan alisnya. “apa ya__”


“kematian orang tuamu. Mereka bukan kecelakan tapi di bunuh kan.” Potong Johan.


Seketika Helena menjadi tegang mendengar hal tersebut. Ternyata itu yang membuat Johan bertengkar dengan Logan. Ia lupa memberitahu Logan untuk tetap merahasiakan ini semua.


“APA!! ini gak mungkin.” pekik Merry


“itu semua mungkin. Mereka keluarga penipu. Pembohong besar bahkan mereka berpura-pura menjadi teman untuk menutupi kebusukan meraka.” Akhirnya Johan menceritakan semua yang ia dengar dan sesekali menggeram kesal mengingat semua yang sudah terjadi pada keluarganya.


Merry sampai terduduk lemas di lantai sambil menangis pilu bahkan ia memukul-mukul dadanya karena merasa sesak dan sedangkan Helena hanya bisa memalingkan wajahnya menutupi airmatanya yang tumpah.


Sudah cukup ia menangis, ia harus tegar menerima kenyataan ini dan membalas semua perbuatan seseorang yang sudah membuat keluarganya terluka. Helena bersumpah akan menemukan Shasa apapun yang terjadi walaupun harus pergi ke akhirat sekalipun.


“mom sudah, berhentilah menangis.” Helena berjongkok di hadapannya lalu memeluknya.


“hiks… bagai… bagaimana mereka bisa sejahat ini padamu nak. Apa salahmu pada mereka. Hiks… tidak… tidak… ini semua karna perbuatanku. Aku yang sudah mendorong anakku sendiri ke dalam keluarga itu. hiks… aku yang salah. Aku yang berdosa. Andai saja aku tidak melakukannya, anakku tidak mungkin tersiksa. Hiks…” Merry terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


“tapi kau tersiksa nak apalagi sekarang kau hamil dari keturunan mereka. Tidak, kau harus gugurkan anak itu. jangan biarkan darah mereka mengalir di keluarga ini.” Johan menghampiri mereka.


Helena langsung memeluk perutnya sendiri. “tidak dad. Aku tidak akan menggugurkannya. Mereka anakku dan selamanya akan seperti itu. Darah apapun yang mengalir dalam tubuhnya, akan kupastikan kalau itu adalah darahku, tak akan aku biarkan daram mereka mengalir setetes pun pada tubuh anakku.” Tegas Helena.


“iya… hiks… dia anakmu, sayang. keturunan keluarga Damara. Sekarang kamu tinggal di sini ya. jangan kembali ke rumah terkutuk itu. mommy gak rela kamu di sana. Mereka akan semakin menyiksamu. Hiks…” ucap Merry.


“benar, tinggalah di sini. daddy janji tidak akan memintamu menggugurkan anakmu lagi atau apapun itu. kau bisa melakukan semua yang kau ingini. Tapi tolong jangan kembali kerumah itu.” timpal Johan.


“baiklah. Aku akan tinggal di sini.” Sahutnya.


“bagus. Sekarang kau kembalilah ke kamar. Kau pasti lelah dengan semua ini. ingat kau sedang mengandung, jangan biarkan mereka lelah juga.” Merry sedikit demi sedikit berusaha menengkan dirinya. Dia harus menjadi penyemangat Helena.


Helena hanya menggukan kepala lalu melangkah pergi meninggalkan mereka yang masih di liputi kesedihan. Ia menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua tetapi langkahnya terhenti di anak tangga paling atas. Ia melihat seseorang berjongkok sambil menutup mulutnya dengan tangan agar suara isak tangisnya tidak terdengar.


“kak Luci?”


Luciana terperanjat dan seketika ia langsung berdiri lalu membersikan sisa airmata di wajahnya. Ia berusaha tersenyum tapi terlihat jelas itu adalah senyum yang di paksa.


“ayo ke kamar.” Ajak Helena dan Luciana hanya menurut saja.


Saat sampai di kamar, Helena menutup pintu dan saat berbalik tubuhnya di tubruk oleh Luciana. Gadis itu memeluk Helena begitu erat dan tangisannya akhirnya kembali pecah.


“hiks… kenapa lo gak pernah bilang. Hiks… kenapa lo sembunyiin hal sebesar ini ke gue. Hiks… lo jahat. Lo tau gue sayang banget sama mamah papah lo dan lo sembunyiin hal sebesar ini dari gue. Mereka udah kayak orang tua gue sendiri. gue gak nyangka mereka harus meninggal setragis ini. apa salah mereka. Hiks…” Ternyata Luciana mendengar semua pembicaraan mereka tadi.


Tapi Helena bisa apa. wanita itu hanya bisa membalas pelukan kakaknya, ia harus kuat untuk keluarganya. “sudah kak. Lo gak usah nangis lagi. Lo mau liat gue nangis apa. lebih baik sekarang kita tidur, kasian dedek bayinya capek pengen tidur katanya.” Luciana menganggukan kepalanya tapi ia masih memeluk Helena.


Helena hanya bisa terkekeh karena tingkah kakanya kembali manja seperti sebelumnya.


-BERSAMBUNG-