LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 99



Setelah puas menangis akhirnya Luciana mengurai pelukannya. Ia menatap sendu Helena yang tidur menyamping menghadapnya. “menurut lo apa papah sama mamah bahagia di sana?”


“tentu.” Sahutnya singkat.


“tapi mereka ninggalin lo di sini pas umur lo masih kecil. Mereka pasti sedih.”


“tapi mereka juga ninggalin gue ke orang-orang yang tulus sayang sama gue.”


“kok lo bisa setenang dan setegar ini sih. kalo gue jadi elo, gue mungkin udah nangis-nangis kayak orang gila apalagi orang yang nyakitin kita ternyata orang terdekat kita.” Ucap Luciana


Helena mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya. “dulu pas gue tau kejadian sebenernya kayak gimana, sempet depresi dan berkali-kali nyoba bunuh diri tapi sayangnya gagal karena om Satria slalu ngehalangin niat gue itu.”


Luciana langsung bangun dadn duduk menghadap Helena. “kapan? kok gue gak tau.”


“awal gue kuliah di Harvard University dan itu masa-masa yang paling berat buat gue.”


“Helen…” Luciana tidak bisa berkata-kata dan lagi air matanya kembali tumpah.


“tapi kalo bukan karena dia, gue gak bisa sampek sekarang ini. banyak orang-orang yang harus gue lindungin termasuk elo, mommy dan daddy. Tanpa kalian semua, gue pasti udah mati.”


“jangan ngomong gitu lagi hiks… gue gak mau kehilangan lo. hiks… lo saudara gue satu-satunya dan Cuma lo adek yang paling gue sayang. jangan pernah ninggalin gue.” Luciana memeluk leher Helena erat yang masih posisi berbaring di kasur.


“cup… cup… cup… jangan nangis lagi. Dasar cengeng.” Ejek Helena.


Sontak Luciana melepaskan pelukannya dan langsung mengambil batal lalu memukul Helena dengan kesal. tak mau kalah Helena juga mengambil bantal dan balik memukulnya. Dan terjadilah perang bantal.


Sedangkan di luar kamar ada dua orang yang sedang menguping pembicaraan mereka. Sakit yang Helena alami bisa mereka rasakan. “dad…” ucap Merry lirih dengan wajah yang sudah basah karna air mata.


Tanpa menjawab, Johan mengiring Merry ke kamar mereka dan di sana mereka menangis sepuas hati mereka.


.


.


.


Di tempat lain.


Sedangkan Jackson lebih memilih memasuki kamarnya dari pada harus mendengarkan suara wanita yang ia anggap hanya menyakiti telinganya saja. belum Jackson sampai ke tangga, suara Logan menghentikan langkahnya.


“Jackson, papah mau bicara sama kamu berdua di ruang kerja.”


Dari nada bicaranya Agnes bisa menangkap bahwa ada hal yang serius dan tidak bisa di tunda. ia hanya bisa memandang punggung kedua orang tersebut tanpa berniat mengikuti mereka. Dia tau bukan saatnya untuk bertanya atau merecoki mereka.


Sesampai di ruang kerja, Logan langsung mengajak Jackson duduk di sofa. “mau sampai kapan kamu bertengkar terus sama Helen?” tanya Logan pelan seakan sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdebat.


“kita lagi gak bertengkar.” Kilah Jackson.


“jangan bohong kamu. papah tidak buta. papah tau kalian sedang bertengkar. Apa kalian berdua tidak bisa menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin? Papah gak mau pernikahan kalian yang beru seumur jagung ini kandas di tengah jalan.”


“bukan aku yang ngajak berantem duluan pah tapi Helen. Dia terlalu negative thinking sama perempuan-perempuan yang deket sama aku bahkan saat aku meeting bersama klien, dia buat aku malu setengah mati.” Akhirnya Jackson jujur juga.


Sekilah Logan tersenyum tipis tanpa di ketahui Jackson. Laki-laki paruh baya itu akhirnya tau di mana akar permasalahan mereka.


“Jackson, di sini papah tidak akan membela siapapun. Helen memang salah karna tidak bisa memilih waktu untuk membicarakan masalah yang bersifat pribadi dan kamu juga sama salahnya.” Ujar Logan.


“emangnya aku salah apa? persaan aku sudah melakukan yang terbaik untuk menjadi suami. Aku berusaha menafkahi. walaupun aku tau dia sudah memiliki semua itu tapi aku harus tetap menjadi suami bertanggung jawab.” Pembelaan Jackson.


“menafkahi? Menafkahi apa yang kamu maksud? Menafkahi dia secara lahir? Bagaimana dengan nafkah secara batin?” tanya balik Logan.


“maksudnya?” Jackson mengernyitkan dahinya bingung.


“Jackson menafkahi seorang istri itu tidak hanya secara materi tetapi juga secara batin. Tidak ada ketenangan batin di dalam berumah tangga sama saja tidak menafkahi seorang istri. wanita mana yang rela melihat suaminya sendiri bersama wanita lain. Wanita itu butuh kepastian walaupun mereka sudah menikah apalagi kamu mantan playboy tentu saja membuat Helen curiga terus sama kamu.”


“tapi aku sudah berubah pah. Aku gak mainin cewek lagi.” Belanya


“kalo gitu buktikan. Buat Helen percaya kalo kamu bener-bener berubah dan bukan diem-dieman seperti ini tanpa ada salah satu dari kalian mengalah. Papah gak mau karna permasalahan ini kalian harus bercerai. Apa kalian tidak kasian sama anak yang sedang Helen kandung.”


Perkataan Logan sontak membuat Jackson membulatkan matanya. “bercerai? Aku tidak pernah ada niat untuk menceraikannya.” Serunya.


“makanya selesaikan secepatnya sebelum terlambat.”


-BERSAMBUNG-