LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 72



AYOOO... AYOOO... AYOOO... Kesayangannya Author.


Jangan bosen-bosen buat Like, Comment, dan juga VOTE-nya ya...


Sekalian tekan Favorite supaya kalian gak ketinggalan update-an selanjutnya.


Selamat membaca.


.


.


.


Ada keraguan yang terbesit di hatinya saat melihat gedung pencakar langit yang ada di hadapannya saat ini. mustahil bagi seorang perempuan apalagi di usianya yang akan menginjak dua puluh tahun membuat perusahaan sebesar ini.


Ia ingin mengurung niatnya masuk kedalam sana yang kata gossip di luar sana kalau tempat ini adalah tempat yang sangat menakutkan. Mau itu karyawannya ataupun bosnya. Tetapi Helena ada di dalam sana, ia harus menemui gadis itu.


“selamat sore. Ada yang bisa saya bantu tuan tampan.” Ucap resepsionis dengan centil.


“saya ingin bertemu dengan Helena.” Jackson jengah melihat wanita-wanita yang seperti ini.


“di sini gak ada yang namanya Helena tuan. Adanya saya. Kenalin nama saya Mimi.”


“usstt… lo apa-apaan sih.” seru resepsionis satunya lagi yang baru saja datang.


“lo yang apaan. Orang gue lagi usaha, lo gangguin. Jangan bilang lo mau juga. gak ada ini punya gue. ” Cerocos Mimi.


“siapa juga yang mau ngehalangin lo cari cowok tapi lo salah target. Lo gak pernah liat medsos apa. ini kan anaknya tuan Bernadette, tunangannya bos kita.” Seketika wajah Mimi mendengar perkataan Winda.


“apa kalian berdua udah selesai bisik-bisiknya?” suara Jackson membuat mereka berdua terkejut apalagi Mimi. Ia menyembunyikan dirinya di belakang Winda.


“maafkan kesalahan teman saya tuan. Dia memang sedikit ceroboh. Oh iya, nona muda sedang ada di ruangnya di lantai dua puluh. Anda bisa menggunakan lift khusus CEO yang ada di sana.” Ujar Winda


Tanpa mengucapkan terimakasih atau yang lainnya, laki-laki tersebut  langsung pergi ketempat yang di tunjukan Winda.


Ia sempat tertegun melihat interior di lantai dua puluh. Benar-benar mewah dan berkelas. Ia semakin tidak percaya bahwa calon istrinya ternyata wanita yang begitu sukses.


Saat sampai di depan pintu yang paling besar, ia yakin ini adalah ruangan Helena. Tetapi tidak ada satupun ada orang di sini untuk di tanyai apalagi meja yang terletak di depan pintu tersebut terlihat kosong.


CEKLEK


ia memasuki ruangan tersebut tanpa permisi.


“kenapa kau bisa ada di sini.” Suara laki-laki mengejutkan dia.


“bukankan ini ruangannya Helena?” tanya Jackson.


“benar. Ini adalah ruangnya.” Sahut Bima.


“lalu siapa kau? Kenapa kau ada di sini. Bukannya ini jam karyawan pulang semua?” ucap Jackson mengernyitkan dahinya.


“Rose ada di ruangan sana. Minta maaflah padanya. Aku pergi dulu.” lanjut Bima sambil menepuk bahu Jackson lalu pergi meninggalkan dia yang otaknya di penuhi tanda tanya.


“dasar orang aneh” gumamnya pelan.


Ia melangkah mendekati ruangan tersebut lalu di buka pintunya pelan-pelan. Terlihat Helena tidur membelakanginya, terlihat begitu tenang dan damai. Matanya beralih ketangan gadis tersebut yang di liliti perban. Hatinya juga ikut merasakan sakit.


Pelan-pelan ia naik kekasur agar tidak membangunkan Helena lalu menyelipkan tangan sebagai bantalan untuk gadis tersebut dan tangan satu lagi melingkar di perutnya.


Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke kepala Helena. Ia mengecupnya berulang kali dan menghirup dalam-dalam aroma yang membuatnya bergairah setiap kali mereka berdekatan.


.


.


.


Gadis itu merasakan tidurnya tergangu karena ada sesuatu yang menimpa perutnya. Ia melihat sebuah tangan memeluknya, segera ia berbalik untuk mengetahui siapa pelakunya. Ia terkejut mendapati wajah Jackson yang begitu dekat memandanginya dengan wajah sendu.


“maaf…” kata itu yang pertama kali terucap di mulut Jackson.


“maaf untuk apa?”


“aku sudah membuatmu kecewa.”


Seketika nafas Helena tertahan. Ia mengira Jackson meminta maaf karena tidak bisa melupakan mantannya. Gadis itu ingin bangun namun pinggangnya di tari agar mereka lebih dekat lagi.


“mau apa lagi? Bukannya kau masih mencintai dia. sekarang kau kembalilah padanya. Kita batalkan pernikahan ini.” jujur Helena merasa kecewa tetapi gadis itu pintar menutupinya dengan wajah dinginnya.


“bukan itu maksudku.”


“lalu apa?”


“aku minta maaf karena di saat tadi kau terluka, aku tidak bisa menolongmu bahkan aku membuatmu marah. Maaf” ucapnya lirih.


Helena masih diam menantikan apa yang akan di katakan Jackson lagi.


“aku memang laki-laki berengsek. Aku laki-laki bejat yang suka ‘jajan’ di luar sana. Tapi semenjak aku memutuskan menikah denganmu. Aku sudah meninggalkan itu semua. Yang di katakan Vina memang ada benarnya. Aku pernah tidur dengannya tapi aku tidak pernah menyentuhnya lagi semenjak kami putus bahkan penculikan itu tidak pernah aku lakukan. Tolong sekali saja percaya denganku.” Jelas Jackson dengan sendu.


-BERSAMBUNG-


Halo kesayangan author


Sekilas info


Dua hari kedepan author libur dulu di karenakan sakit...


Doain aja kita ketemu lagi hari jumat ok!