LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 50



Setelah beberapa jam, Dewi dan dokter lainnya keluar dari ruang operasi. Segera ‘serigala putih’ menggerumuni mereka semua dengan rasa penasaran. Sebelum salah satu dari mereka berbicara, Dewi memberikan isyarat pada semua dokter di belakangnya untuk pergi meninggalkan ia bersama mereka.


“kondisi kak Bima sekarang sudah melewati masa kritis. Dia kehilangan banyak darah karena beberapa bagian tubuhnya sobek seperti habis di cambuk dengan benda tajam dan juga pendarahan otak yang tidak terlalu parah”


“sedangkan nona kita. Hahh… dia mengalami patah tulang di kaki kanannya, tulang rusuk dan bagian pinggulnya retak. Untung saja tadi kita dengan cepat memanggil dokter bedah ortopedi sehingga langsung di tangani. Termasuk tapi ada kerusakan di bagian hatinya.” Jelas Dewi


“lalu sekarang bagaimana keadaan Black Rose?” Tanya Nathan khawatir.


“dia sudah baik-baik saja, tinggal tunggu dia sadar begitu juga kak Bima” sahutnya yang membuat mereka semua bernafas lega.


Segera Nathan memindahkan Helana dan Bima keruangan VVIP lalu memperketat penjagaan untuk kedua bosnya itu.


Ia tidak lupa mengabarkan Dewa tentang keadaan mereka berdua. Tentu saja Dewa syok mendengarkan kabar tersebut lalu ia menghubungi Satria. Tanpa menunggu lama, Dewa dan Satria terbang ke Thailand menyusul mereka.


.


.


.


Di pagi hari yang cerah, seorang gadis membuka matanya perlahan-lahan lalu mengedip-ngedipkannya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk dalam penglihatanannya. Ia melihat ada beberapa orang memperhatikannya.


“Len… lo bisa denger gue? Liat jari gue. Angka berapa?” Tanya Dewi dengan menunjukkan 2 jarinya.


“10” sahutnya datar yang membuat Dewi  manggut-manggut sendiri.


“Ya!! Len. Kenapa lo tiba-tiba jadi b***? Apa kepala lo kebentur sesuatu? Atau lo amnesia? Len jangan bikin gue takut. Kalo lo kenapa-napa\, siapa lagi yang bisa gue jailin? Siapa lagi yang ngerjain tugas-tugas gue? Siapa lagi yang gue suruh beliin burger di restoran favorit gue? Huuuuaaa…. Wi lo coba periksa dia sekali lagi. Takutnya dia kenapa-napa.” Oceh Dewa histeris dan dramatis yang mendapatkan hadiah pukulan di belakang kepalanya.


“lagian lo lebay amat sih jadi orang. Helen gak papa, lo ngomongnya ngelantur kemana-mana” gerutu Dewi.


“gak papa gimana. Itu tadi dia jawab sepuluh”


Sontak Dewi menepuk jidatnya lalu berkata. “dasar lola. Dia jawab sepuluh tapi mukanya tetep melempem kayak gitu ya berarti dia gak papa oon”


“ooohhh” akhirnya dia paham sekarang.


“puas kalian? Puas\, udah ngehina gue. Dasar kembar gak tau diri. Gue giling lo baru tau rasa. Enak aja bilang gue B***\, melempem. Terus tadi apa tu beli-beliin burger\, lo kira gue pembantu apa?” omel Helena yang di balas cengiran oleh mereka berdua.


“sudah. Kalian berdua selalu aja bikin Helena emosi. Liat, kasian dia lagi sakit jangan di buat marah-marah terus” tegur Satria.


“kalo orang tua ngomong dengerin tuh. Om, aku mau duduk” mendengar permintaan Helena, ia langsung memencet remot kasurnya agar ia bisa duduk.


“oh ya. kok kalian semua ada di sini?” Helena baru menyadari kalau mereka bertiga tiba-tiba sudah ada di hadapannya.


“om dan Dewa denger kabar kamu masuk rumah sakit. Jadi kita berdua langsung kesini” jelas Satria.


“kalo Dewi dari awal gue suruh standby di sini. Takutnya lo kenapa-napa eh ternyata bener” Dewa ikut menyahutinya.


“aaaahhh… gitu. Thanks ya, Wi” ucap Helena tulus.


“gak masalah. itu udah tugas gue kok. Sekarang lo banyak istirahat biar cepet sembuh.”


-BERSAMBUNG-