LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 84



Hari-hari berlalu begitu lambat, itulah yang dirasakan keluarga Bernadette semenjak perginya Helena yang menyisakan kerinduan. Ternyata sosok Helena benar-benar sudah melekat di hati mereka.


Terlebih Jackson, ia seperti kehilangan arah hidupnya lagi. Sekarang ia lebih banyak murung, melamun, menyendiri bahkan untuk menyelesaikan tugas kantor ia pun malas-malasan. Teman-temannya berusaha menghiburnya dan tak jarang mengajaknya hang out ketempat-tempat favorite mereka tetapi laki-laki itu sama sekali tidak meresa terhibur, ia hanya memandangi layar ponselnya.


Jika setiap malam ia tidur memeluk istri tercintanya sekarang ia hanya akan bisa tidur dengan memeluk baju Helena lalu menghirup baunya dalam-dalam. Sungguh Jackson sangat merindukannya.


CEKLEK


“pah…” terdengar panggilan lembut dari arah pintu membuat pandangan Logan beralih dari pekerjaannya lalu tersenyum tipis.


“mamah udah dateng. Emangnya ini udah jam berapa?”


Wanita itu berjalan ke arah sofa ruangan tersebut di susul Logan yang duduk di sebelahnya. “ini udah waktunya makan siang. makanya jangan terlalu fokus sama kerjaan kan jadi lupa waktu kayak gini.”


“iya mah… maaf. Papah sibuk banget hari ini. banyak berkah yang harus papah beresin apalagi Jackson akhir-akhir ini males masuk kantor. Jadinya mau gak mau papah juga yang harus beresin.” Curhat Logan.


Seketika tangannya Agnes yang tadinya sedang mengatur kotak makan di meja terhenti lalu ia menatap suaminya dalam. “apa Helen masih gak ada kabarnya pah?”


“belum. Bahkan papah juga gak tau keberadaan dia. semua akses di tutup sama anak buah Helen.”


“mau sampek kapan gini terus, pah. Aku Khawatir Jackson semakin terpuruk lagi. Ini aja baru sebulan di tinggal, anak kita udah gak karuan kayak gini apalagi kalo Helen gak balik lagi.”


“ussstt… mamah gak boleh ngomong gitu. Helen pasti kembali sama kita. Papah akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan dia. jangan pikir yang engak-engak. Kalo mamah juga lemah seperti ini, siapa yang menguatkan papah.” Tegur Logan.


“papah benar. Seharusnya aku gak boleh lemah. Aku harus jadi kekuatan papah. Kita sama-sama berusaha untuk keluarga kita.” Agnes menggenggam tangan suaminya menyalurkan kekuatan.


Logan membalas genggaman tangan tersebut tidak kalah kuatnya. “iya… aku yakin kita pasti bisa.”


“ya udah sekarang kita makan dulu. keburu makanannya dingin nanti.”


Setelah itu tidak ada pembicaraan lain dan hanya fokus dengan makanan mereka masing masing. Setelah makan Logan kembali bergulat dengan pekerjaannya sedangkan Agnes pamit pergi menjemput Kallie di sekolah lalu pulang.


.


.


.


Di sebuah kamar mandi terdengar suara wanita sedang muntah-muntah. Memang beberapa hari terakhir ini setiap pagi selalu terdengar suara kegaduhan dari kamar tersebut.


“udah lega sekarang?” tanya Bima yang sedang memijat tengkuk wanita itu.


“lemes.” Sahutnya singkat.


Dengan sigap Bima mengendongnya ala bridal style keluar dari kamar mandi lalu menurunkannya di atas kasur. “kamu sarapan dulu ya. jangan kasi perut kamu kosong.”


“gak laper…”


“kamu jangan gitu dong Rose. Kamu harus makan. Inget badan kamu itu bukan Cuma kamu doang, ada anak kamu di sana.”


Ya, perempuan itu adalah Helena dan sekarang sedang berbadan dua. Ia baru mengetahui hal tersebut seminggu yang lalu karena ia tidak berhenti muntah-muntah sampai jatuh pingsan. Untung saja waktu itu ada pelayan masuk kekamarnya lalu menghubungi dokter dan ternyata ia positif hamil.


Persahan Helena campur aduk antara senang dan juga sedih. Ia senang karena mempunyai anak tetapi di saat yang sama ia juga sedih karena anaknya terlahir dari orang yang paling ia benci tapi mau bagaimana lagi anak yang belum jelas jenis kelaminnya itu harus ia besarkan meskipun hanya seorang diri nantinya jika harus harus berpisah dengan Jackson.


“tapi aku gak laper Bim.” Ucap Helena dengan suara lemah.


“kamu jangan keras kepala. Setidaknya isi sedikit perut kamu ya.”


“ya udah aku makan. Tapi jangan banyak-banyak ya.” kalau bukan karena anak yang di perutnya ini mungkin saja ia akan menendang Bima keluar dari kamarnya.


Mendengar hal tersebut buru-buru Bima memanggil pelayan membawa makanan sebelum wanita itu berubah pikiran. Setelah makanannya datang, dengan penuh perasaan ia menyuapi Helena sampai tak sadar kalau wanita itu mengabiskan semuanya.


“tadi bilangnya makan dikit aja tapi sekarang makannya lahap banget. Dasar bumil” dalam hati Bima tertawa geli.


Laki-laki itu menyodorkan air beserta obat untuknya. “ini minum obatnya dulu habis itu istirahat. Inget kamu jangan kemana-mana. dokter nyaranin kamu untuk bedrest dulu untuk sementara waktu karena kamu banyak pikiran dan kerja sampek lupa waktu. Dan kalo kamu butus sesuatu, kamu bisa panggil pelayan. Jangan sek__”


“iya.. iya… aku tau kok. Aku juga gak bakal pergi kemana-mana. dasar bawel. Bukannya bikin rileks, ini malah bikin pusing. Udah kayak emak-emak aja. sana pergi sebelum aku makin pusing.” Sargah Helena yang sudah mulai lelah mendengar ocehan Bima


-BERSAMBUNG-