
Selama berjalan di lorong kampus, Lianna tidak memperdulikan orang-orang yang menyapanya atau sekedar basa-basi. Pikirannya fokus mencari cara untuk menghancurkan Helena. Ada terbesit di pikirannya untuk membunuh Helena tetapi selama hidupnya ia tidak pernah membunuh, ia takut.
Tak sadar ia sudah ada di depan kelasnya tapi langkahnya terhenti mendengar suara orang di dalam kelas.
“gue masih gak nyangka si Helen bunting anak lo. padahal kan dulunya lo ribut terus sama dia bahkan lo sampai di jadiin babu. Hahaha…” celetuk Leon.
“yang itu gak usah di bahas peak.” Ucap Jackson sambil menoyor kepala Leon.
“tapi serius. Gue aja masih gak nyangka lo bakal nikah sama Helen cepet banget di tambah sekarang udah hamil. Dua lagi. Lo apain si Helen ha?” timpal Demian.
“ya di goyang lah tiap hari kalo perlu tiap saat. Kecantikan istri gue itu gak bisa di anggurin walaupun gak mandi tetep cantik dan harum.” Jackson membanggakan istrinya.
“eh… eh… eh… tapi kalo di pikir-pikir lo nikah sama Helen udah lebih dari tiga bulan kan. Berarti lo udah menang taruhan nih.” Ucap Leon.
“maksud lo apa?” Jackson mengerutkan dahinya bingung begitu juga Demian.
“lah masa kalian lupa true or dare kita di club. Pas pertama kali kita ketemu Helen. Elo berdua kan bikin taruhan. Kalo Jackson bisa dapetin Helen dan pacarin lebih dari tiga bulan, dia dapet Lamborghini lo Demian. Gue aja baru inget lho.”
“gue lupa.” Gumam Jackson.
“bego kenapa lo ingetin sih. udah bagus pada lupa, lo malah nyari gara-gara. Gue gak bisa kasi mobil kesayangan gue ke dia.” Demian memukuli Leon tanpa henti.
“tapi lo sendiri yang bikin taruhan. Lo gak bisa ngehindar. Segala sesuatu yang sudah di mulai harus di pertanggung jawabkan. Serahin kunci mobil lo ke Jackson, mobil itu udah haknya Jackson.” Ujar Leon.
Akhirnya mau tidak mau Demian menyerahkan kunci mobilnya dengan terpaksa pada Jackson. Sedangkan di sisi lain ada Lianna yang menyeringai melihat hasil video yang sudah ia dapatkan tadi.
“akhirnya pembalasan aku datang juga. selamat bersenang-senang Helenku sayang.” Gumam Lianna jahat sebelum mengirim video itu.
Kali ini Helena akan mengajar di kelas Jackson, ia merapikan semua bukunya yang berserakan di meja perpustakaan setelah itu beranjak dari sana.
Dengan santai ia berajalan menuju kelas suaminya. Ia tidak mau terburu-buru karna kondisinya yang sedang hamil dan juga waktunya juga masih longgar. Tapi getaran Handphone nya menghentikan langkahnya. Terlihat ada sebuah pesan dari nomor yang tidak di kenal.
Penasaran apa isinya ia membukanya yang ternyata adalah sebuah video. Ia sejenak melirik sekitar apakah tidak ada orang di sana dan setelah itu ia mutar video tersebut.
Seketika rahang Helena mengerah, ia mencengkram handphone nya kuat. “berani dia menjadikan aku mainan. Kau lihat saja nanti suamiku tercinta.” Wanita itu menyeringai yang mampu membuat semua orang ketakutan.
Helena melanjutkan langkahnya dan sesampai di kelas ia meletakkan buku-bukunya di meja lalu berjalan beberapa langkah mendekat ke meja mahasiswa-mahasiswanya dengan penuh wibawa. “hari ini kita kuis dadakan tentang pelajaran yang kita bahas minggu lalu. Jangan ada yang berani mengeluh atau kalian keluar dari kelas ini.”
Seketika semua orang bungkam mendengar kata-kata Helena yang begitu tegas dan datar. Walau ia baru saja di kejutkan oleh pesan yang tidak tau asal usulnya dari mana tetapi ia tetap mengajar dengan pprofesional
Berbeda dengan Helena, Lianna justru mengerenyitkan dahinya bingung pasalnya ia berharap Helena akan membuat keributan sehingga membuat Jackson malu mempunyai istri yang bar-bar dan tidak tau tempat membahas masalah pribadi.
Tapi apa yang sekarang ia lihat justru kebalikannya. “ada apa dengannya? Apa di tidak membaca pesanku? Tapi aku jelas melihat pesanku sudah di buka olehnya” batin Lianna.
Akhirnya semua orang fokus mengerjakan soal-soal tersebut tanpa ada yang berbisik atau mencontek. Mereka tau Helena tidak akan segan-segan menghukum orang-orang yang berusaha bekerja tidak jujur.
-BERSAMBUNG-