
Ting. Tong. Ting. Tong.
Melihat siapa yang datang, gadis yang berdiri dengan tongkat itu tersenyum miring lalu memencet tombol monitor untuk memberikan akses masuk laki-laki tersebut.
Tanpa berlama-lama, Jackson menghampiri Helena dengan wajah kusut, marah dan juga takut tercampur menjadi satu.
Helena memiringkan kepalanya. “muka lo kenapa? Kayak abis nyemplung di comberan” tanyanya polos.
“lo masih sempet-sempetnya ngatain gue setelah lo cungkir balikin mobil gue. Dasar gila” serunya lantang.
“ooohh… ternyata hadiah gue udah nyampek.” Setelah berkata seperti itu, Helena langsung berlalu menuju dapur yang di ikuti Jackson di belakangnya.
“lo cuma bilang ‘oh’. Lo sebenernya punya otak gak sih. itu mobil kesayangan gue dan sekarang lo rusakin. Kalo bokap gue tau gimana. Bisa-bisa gue di paksa sekolah ke luar negri. Astaga gue gak habis pikir sama kegilaan lo” sunggutnya sambil mencengkram kepalanya frustasi.
Helena mencari sesuatu di laci sambil berkata. “ya itu derita lo kenapa gue harus pusing. Seharusnya lo itu makasi sama gue. Gue bisa aja ngelakuin sesuatu yang lebih mengerikan dari ini bahkan lo sendiri gak bisa bayangin. Ini termasuk hukuman ringan buat lo”
“ahh.. akhirnya ketemu juga. nih buat lo. mulai hari ini, lo harus pakek ini dan jangan ngebantah sebelum gue lempar lo dari gedung ini” lanjut Helena sambil menyerahkan sebuah celemek.
Laki-laki itu mengambil celemek tersebut lalu membentangkannya. “lo bener-bener gila. Masa gue harus pakek celemek warna pink lagi. Lo sengaja kan ngerjain gue.” Teriak nya di depan wajah Helena.
“udah gak usah emosi. Lebih baik lo pakek itu terus beres-beres semua bagian apart gue sampai bersih. Oh atau lo mau gue ngelanjutin balas dendam gue”
Jackson berpikir senjenak untuk melanjutkan ini atau tidak tapi kalau ia tidak melanjutkan ini otomatis gadis itu akan melakukan sesuatu yang lebih mengerikan nantinya. Mau tak mau, ia harus menjadi pembantu.
“bukan cuma aneh tapi juga gila. Seumur-umur baru kali ini gue nemuin cewek semengerikan dia ini sampai-sampai gue jadi mati kutu kayak gini” batin Jackson sambil menggunakan celemek tersebut.
Tanpa ia ketahui, Helena tersenyum samar bahkan tak terlihat. Di dalam hatinya, ia merasa puas sudah membuat laki-laki itu tunduk.
.
.
.
Harga diri Jackson kali ini benar-benar sudah di injak-injak. Pasalnya ia selalu di salahkan Helena karena salah cara membersihkan rumah tapi saat ia meminta gadis itu untuk mengajarinya, ia di tolak mentah-mentah dan di suruh belajar dari internet.
Perlahan-lahan ia bisa melakukannya sampai ketika tugas terakhir yang benar-benar menguji ketahanannya untuk tidak mual. Ia di suruh membersihkan kamar mandi termasuk closet yang sebenarnya udah bersih tetapi Jackson selalu membayangkan hal menjijikan saat membersihkan closet tersebut. Ia benar-benar merasa tersiksa.
“baru aja hari pertama udah di siksa kayak gini. Gimana jadinya gue selama dua minggu. Bisa-bisa nangis darah gue di buatnya. Gue pingin pulang.” gumamnya lirih sambil menitihkan air mata.
“woy udah selesai belum, lama amat ngerjain gitu aja” sontak saja Jackson terkejut mendengar suara Helena.
“ya lo sih lama. Udah segitu kerjanya. Ini udah waktunya makan malam. ayo makan bareng, keburu pingsang nanti gue yang repot.” Setelah berkata seperti itu, Helena langsung berlalu dari hadapannya.
Diam-diam Jackson tersenyum melihat Helena yang ternyata masih peduli dengannya walaupun di bubuhi kata-kata pedah tapi dia percaya kalau gadis itu tidak sejahat yang ia pikirkan. Dengan cepat ia membersihkan tangannya, meninggalkan semua yang di kerjakan lalu menghampiri Helena yang menunggunya di meja makan.
Entah karena lapar atau kenapa tapi ia melihat tumis kangkung, telur dadar, ayam balado dan tempe goreng berbaris rapi di meja makan mampu membuat dirinya menjilat bibirnya sendiri. Walaupun masakannya sederhana tapi ia benar-benar tak sabar untuk mencicipinya.
“ayo duduk” ajakan Helena membuyarkan lamunannya. Dengan segera ia duduk lalu mengambil nasi. Saat ia ingin mengambil lauk, gadis itu lebih dulu mengambilkannya. Ada perasaan menggelitik di hatinya di perlakukan seperti ini.
“ini enak banget. Lo beli di mana?” kata Jackson di sela-sela makannya.
“gue masak sendiri”
“masa sih. pinter juga lo masak. Biasanya cewek-cewek sekarang lebis suka beli atau makan di restoran”
Helena minum dulu lalu berkata. “gak semua cewwk kayak gitu. gue itu lama di luar negri dan gue emang lebih suka masakan rumah. Jadi mau gak mau gue harus belajar masak. Tapi sesekali gue juga makan di luar biar gak bosen makan sendirian."
“kenapa gak tinggal sama bonyok lo dari pada di sini?”
“di sini itu lebih deket dari tempat kerja gue. Jadi gue tinggal di sini deh”
Jackson hanya ber ‘oh’ ria saja lalu melanjutkan makannya tapi ia masih penasaran dengan satu hal. “sebenernya lo kerja di mana kok sampek anak-anak yang lain gak boleh tau.”
“lo ya. makan aja kenapa sih. nanya mulu kayak reporter. Udah di diem sebelum gue buang ini makanan” ancaman Helena membuat dia bungkam. Ia tak mau makanan se enak ini harus di buang.
.
.
.
Setelah makan malam, Jackson langsung pulang kerumahnya sama seperti tadi menggunakan taksi. Seluruh badannya begitu sakit dan pegal, ingin rasanya berendam dengan air hangat lalu tidur nyenyak sampai besok siang.
“Jackson, kamu dari mana saja seharian ini?” baru saja memasuki rumah, ia sudah d sambut dengan suara yang mengintimidasi.
“biasa lah pah. Namanya juga anak muda” jawabnya sesantai mungkin.
“terus mobil kamu kenapa?” pertanyaan ini yang benar-benar ia takuti.
-BERSAMBUNG-