LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 82



Laki-laki paruh baya itu menjatuhkan dirinya di kursi. Ia begitu terkejut bahkan tubuhnya lemas mengetahui kenyataan pahit yang ternyata juga menghancurkan kehidupan menantunya.


“kenapa… kenapa kalian melakukan ini padaku… hiks… setelah menghancurkan masa kecilku bersama orang tuaku, sekarang kalian kembali menghancurkan masa depanku dengan menikahkan kami… hiks…” Helana menangis sejadi-jadinya sambil menari kerah baju Logan dan menggoncangkannya.


Laki-laki itu hanya pasrah menerima semua kemarahannya Helena. Jujur, ia juga bisa merasakan sakit yang Helena rasakan bahkan dalam kebisuannya ia menitihkan air mata. Ternyata luka yang sudah lupakan bertahun-tahun lalu ternyata masih menganga lebar sampai saat ini.


Apa yang harus ia perbuat? Berlutut sambil memohon ampun pun tidak cukup menebus dosa-dosanya.


“maafkan papah, nak.” Serunya parau dengan kepala yang tertunduk. Ia tak berani melihat wajah Helena.


“sebenarnya dari awal papah dan mamahnya Jackson menikah, Shasa tidak pernah mencintaiku begitupun juga aku. Tapi aku selalu mencoba menjadi suami setia dan bertanggung jawab. Selama bertahun-tahun aku tau Sasha selalu bermain di belakangku dan menghambur-hamburkan uangku untuk bersenang senang. Sampai pada akhirnya aku mengetahui kalo Shasa masih mencintai cinta pertamanya bahkan berniat membunuh istri dari laki-laki tersebut.


“kesabaranku sudah melampaui batas. Aku menceraikannya bahkan menghapus semua kenangan ku bersamanya di manapun agar aku bisa membuat lembaran baru lagi dengan keluarga kecilku. Tapi sayang, kenangan itu malah menghancurkan menantuku ini. dan aku juga tidak mengetahui kalo orang yang ingin dia bunuh adalah orang tuamu. maaf...” cerita Logan panjang lebar.


“tapi… dia sudah melakukannya… hiks… bahkan aku ada bersama meraka saat itu.”


“aku… hiks... aku juga tidak tau kalo Shasa senekat itu. aku kira dia akan membatalkan niat jahatnya itu.”


Helena hanya menggelengkan kepalanya. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan ini. hancur… hancur sudah semuanya. “sekarang di mana dia?”


“aku tidak tau bahkan Jackson pun tidak tau. Terakhir kali dia menerima surat dari mamahnya itu sekitar satu tahun yang lalu dan itu pun alamatnya selalu berpindah-pindah. Kadang di Canada, kadang di jerman dan yang terakhir di London.” Tutur Logan.


Helena terdiam sejenak, ia mencoba menenangkan diri. Tapi usahanya sia-sia, ia tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini. wanita itu mengambil tasnya lalu bergegas pergi dari sana.


Sebelum mencapai pintu, ia berhenti tanpa menoleh. “untuk sementara jangan ganggu aku, aku butuh waktu sendiri dan buatlah alasan apapun pada Jackson.” Setelah berkata seperti itu ia benar-benar pergi tanpa mendengar dulu ucapan Logan.


Satria melihat majikannya berjalan terburu-buru menghampiri, segera ia membukakan pintu belakang mobil untuknya dan ia pun beralih membuka pintu depan kemudi.


“kita mau kemana?” tanya Satria.


“ke pantai tempat mamah, papah.”


.


.


.


Mengapa hidupnya seperti ini. hidupnya benar-benar hancur setelah kepergian orang tuanya bahkan di saat ia ingin membuka hati untuk seseorang, ia harus kembali merasakan sakit. Apakah ia harus mati saja agar tidak merasa sakit lagi?


Dari kejauhan Satria menatap Helena sendu. Ia tidak habis pikir kenapa gadis kecil itu mendapatkan penderitaan yang bertubi-tubi. Tubuhnya begitu mungil tetapi sudah menanggung beban begitu banyak.


Bahkan keluarga gadis itu tak ada yang mengetahui kalau kecelakaan Daniel dan Nadin sudah di sabotase Shasa dan sekarang ia menikah dengan anaknya Shasa. Apa sepanjang hidupnya, gadis itu akan menderita? Kenapa dunia ini begitu kejam padanya.


.


.


.


Hari sudah berganti malam tetapi istrinya belum ada kabarnya. Saat jam makan siang pasti mereka akan makan bersama tapi tadi saat mengunjungi kantor Helena, ia tidak ada di sana bahkan sekertarisnya juga tidak mengetahui kemana ia pergi.


Bukan hanya itu, Helena bahkan menonaktifkan ponselnya seharian ini. ia seperti merasa dejavu, mencari wanita itu kemana-mana tetapi ia tetap tidak menemukannya.


Sekarang ia hanya bisa menunggu istrinya pulang di ruang tamu dengan perasaan cemas bahkan Jackson berjalan bolak-balik seperti setrikaan tanpa henti.


CEKLEK


Mendengar pintu utama terbuka, ia berlari dengan semangat. Namun, kegembiraannya itu langsung luntur saat melihat papahnya yang baru pulang bukan istri tercintanya.


“sedang apa kamu malem-malem di sini, Jackson?” tanya Logan.


“lagi nungguin Helen, pah. Dari tadi dia ngilang gak ada kabar apalagi hpnya dari tadi gak aktif.” Sahutnya lirih.


“oh itu. kalo gak salah tadi Helen udah kasi tau ke papah kalo dia pergi ke kantor cabangnya di luar negri untuk beberapa hari karena ada masalah dan mungkin dia gak bisa untuk di hubungin sementara waktu.” Bohong Logan.


“astaga… ternyata gitu. Aku kira Helen di culik. Aku nyari dia seharian kayak orang gila tau gak pah. Tapi kok dia kasi tau papah sih bukan aku. Aku kan suaminya.”


“mungkin dia buru-buru makanya dia Cuma kepikiran buat kasi tau papah. Udah sana kamu balik ke kamar. Ini udah malem. Inget besok kamu harus kuliah pagi jangan sampek kamu ketiduran di kelas.” Sebenarnya Logan tidak berniat membohongi anaknya tapi kalau ia tau kejadian sebenarnya mungkin ia akan menderita seperti dirinya dan Helena saat ini.


-BERSAMBUNG-