LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 58



AYOOO... AYOOO... AYOOO... Kesayangannya Author.


Jangan bosen-bosen buat Like, Comment, dan juga VOTE-nya ya...


Sekalian tekan Favorite supaya kalian gak ketinggalan update-an selanjutnya.


 


 


Selamat membaca.


“ya, gue tau lo kaya tujuh turunan bahkan gak akan habis-habis.” jeda helena sebentar. “tapi dengan tingkah lo yang suka foya-foya dan menyepelekan semua yang ada di depan mata lo. itu adalah awal dari kehancuran keluarga lo.”


BRAKKK…


Jackson memukul meja dengan keras lalu berkata. “tarik ucapan lo sekarang” ucap Jackson geram.


“kenapa? Di bagian mana gue salah? Itu semua kenyataannya” Helena menyederkan tubuhnya dan melipat tangannya di dada.


“itu semua gak bakalan terjadi” bentak Jackson.


“itu semua akan terjadi karena lo gak pernah pikirin masa depan. Coba lo liat bokap lo gak selamanya dia akan sehat dan selalu kerja buat menuhin semua kemauan lo. Suatu saat lo harus gantiin posisi dia sebagai kepala keluarga dan memimpin perusahaan. Perusahaan itu bakal jatuh kalo lo gak jaga dengan baik. Lo akan kehilangan semuanya perusahaan, keluarga bahkan masa depan lo yang selalu lo bangga-banggain itu.”


Seketika Jackson tersentak mendengar penuturan Helena. Gadis itu benar, gak selamanya ia selalu meminta pada orang tuanya dan dia juga tidak mungkin hanya duduk santai melihat perusahaan itu hancur.


Sudah waktunya ia berubah, dia harus mempersiapkan masa depannya nanti memimpin perusahaan dan dia juga masih ingat apa yang ibu kandungnya katakan untuk tetap bertahan di rumah itu. ia tidak akan membiarkan ibu tirinya berkuasa atas harta keluarganya jika papahnya sudah tidak ada lagi.


Dia harus mengambil itu semua sebelum itu semua terjadi dan dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membawa mamah Sasha kembali ke rumah. Ia ingin hidup bersama dengan mamahnya tanpa harus takut pada siapa-siapa lagi.


“bener yang lo bilang, gue harus berubah. Gue gak mungkin selamanya terus seperti ini” ujar Jackson.


“bagus kalo gitu.” Helena memasang kembali kaca matanya.


“tapi gue gak tau caranya gimana. Lo mau gak nolongin gue?” ucap Jackson pelan.


“what…?” pekik Helena sedikit terkejut.


“ya… bantu gue, gue mau belajar tentang semua hal termasuk tentang tugas kuliah. Gue bener-bener gak tau. Lo kan pinter, jenius malah jadi lo gampang ngajarin gue. Tolong bantu gue ya.” mohon Jackson.


Helena berpikir sebentar, ia sebenarnya males melakukan ini karena buang-buang waktu saja tetapi Jackson sudah menolong dia menjaga Mia seharian yang tidak bisa di lakukan oleh anak buahnya sendiri.


“ok gue bantu lo.” jawab Helena pasrah.


Mendengar jawaban tersebut, sontak saja Jackson berseru sendiri sambil mengatakan ‘YES’. Kebahagian sungguh terpancar di wajah Jackson tanpa malu-malu lagi seperti sebelumnya.


“jack, lo kemana aja sih akhir-akhir ini. gak pernah ngumpul lagi ke club. Selesai jam kampus langsung hilang kayak jin.” Seru Leon sedang memakan bakso.


Leon, Demian, Yasmin, Luciana dan juga Jackson sedang makan di kantin kampus tiba-tiba laki-laki yang duduk di depannya itu membuka suara menanyakan ke anehannya selama ini.


“gue gak kemana-mana kok” sahut Jackson cuek.


“alah gak usah bohong deh lo. bilang aja lo di hukum sama bokap lo gak boleh keluar rumah gara-gara mobil lo rusak. Dasar anak perawan.” sontak saja perkataan Leon mengundang gelak tawa teman-temannya kecuali Jackson yang hanya mendengus pelan.


“tapi bener yang di bilang Leon, Jack. Lo aneh hari-hari ini. apa ada masalah? cerita ke kita-kita. Siapa tau kita bisa bantu.” Ujar Demian setelah tawanya mereda.


“iya jack, kita kan temen. BFF lagi, masa main rahasia-rahasiaan sih.” seru Yasmin.


Dengan penghembuskan nafas berat. “oke… oke… gue kasi tau. Sebenarnya gue jadi babunya Helen.”


“APA!!..” pekik mereka semua bersamaan.


“ussttt… bisa kecilin gak suara kalian semua. Bikin malu aja.” sungut Jackson.


“lo jadi babunya Helen? Gimana ceritanya?” Tanya Luciana heran dan juga bingung.


“ya… itu… waktu itu gue minta maaf sama dia gara-gara suka ngerjain dia tapi dianya gak mau. ya udah gue paksa terus dan akhirnya dia mau maafin gue dengan syarat gue harus jadi babunya dia sampai dia sembuh.” Jelas Jackson lesu.


Dan kali ini pengakuan Jackson membuat mereka tertawa bahkan lebih keras dari yang tadi. Terlihat dari wajahnya yang merah, Jackson merasa malu. Bukan hanya karena perkataannya tapi juga tawa mereka yang mengundang tanda Tanya seisi kampus.


“seorang Jackson, playboy kelas kakap jadi pembantu. Hahahaha…. Aduh jack… jack… kocak banget sih lo.” seru Luciana sambil memegang perutnya saking lucunya.


“puas ketawa. Puas.”


Perlahan mereka menghentikan tawanya takut membuat Jackson emosi. Tetapi sesekali mereka masih terkekeh geli membayangkan Jackson menjadi pembantu.


Demian tersentak lalu berkata. “eh berarti akhir-akhir ini lo ngabisin waktu berdua sama Helen dong. Wah berarti udah mulai pendekatan nih.”


“ya gak lah. Buat apa gue deketin cewek stress kayak gitu. Bisa-bisa mati berdiri gue di buatnya” elak Jackson.


“Masa sih. kok gue gak percaya ya.” goda Demian dengan menaik turunkan alisnya.


“terserah deh lo mau ngomong apa.” Jackson melanjutkan acara makanya yang ter tunda.


“sih Jackson main kerumah Helen gak ngajak-ngajak. Dasar lu gak setia kawan” celetuk Leon.


“emangnya lo mau ke tempat Helen mau ngapain? Mau liat gue ngepel gitu?” ketus Jackson.


“boleh deh.” Sahut leon polos yang sontak saja mendapatkan pukulan sendok di kepalanya.


-BERSAMBUNG-