
Setelah dari rumah sakit, Helena ngotot ikut ke kantor suami padahal Jackson ingin istrinya istirahat di rumah. Karna hormon kehamilan Helena yang selalu membuat moodnya berubah-ubah jadinya wanita berbadan tiga itu menangis pilu dan membuat sang suami pasrah mengikuti kemauan sang istri. tetapi sebelum ke kantor, Jackson mengajak Helena makan dulu di restoran karena ini sudah jam makan siang.
“Yang, nanti malem anak-anak ngajak ngumpul.” Ucap Jackson di sela-sela makan.
“gumpul di mana?” Tanya Helena dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Jackson di buat gemas melihat istrinya. Wajah yang manis dan pipi yang semakin chubby membuatnya tak tahan mencubit pipi istrinya.
“jangan di cubit, sakit tau. pasti merah ini.” Seru Helena memegang giginya.
“aku gemes liat pipi kamu apalagi pas makan. Makin bulat.”
“maksud kamu aku gendutan gitu? dasar suami jahat.” sungut Helena.
“gendutan kan wajar karna bawaan bayi tapi kalo buat kamu bukan gendut melainkan montok. Makin sexy.” Jawab Jackson santai.
“kamu pasti bohong.”
“kalo gak percaya liat cowok-cowok yang ada di restoran ini. itu liurnya sampai netes.”
Helena mencoba melihat sekeliling dan benar kata suaminya, semua laki-laki yang ada di sini memperhatiakan dia tanpa ada yang berkedip sedikitpun.
“tapi cewek-cewek di sini juga sama. Dasar tukang tebar pesona.” Gumam Helena.
“di mata aku Cuma ada kamu, sayang. apalagi pas di kasur, cantiknya nambah.” ucap Jackson dengan senyuman genit.
“dasar buaya. Dah gak usah di bahas lagi. Mereka janjian di mana?”
“di club biasa.”
“aku ikut….” Seru Helena seperti anak kecil.
“gak boleh. Kamu lagi hamil, di sana banyak orang. Kalo baby nya ke gencet gimana.”
“tapi kan aku udah lama gak ke sana. Aku janji deh di sana Cuma duduk doang di sebelah kamu. dulu sebelum hamil kamu selalu ngajak aku jalan-jalan tapi sekarang boro-boro jalan-jalan, aku baru aja ke kantor sejam di suruh pulang. Istirahat.” Ucapnya dengan wajah sedih.
Perkataan Helena memang ada benarnya, semenjak istrinya hamil kelakuan Jackson semakin mengerikan alias posesif. Dia tidak mengijinkan istrinya keluar rumah dan di rumah di larang melakukan apapun hanya makan, tidur dan nonton tv. Kuliah pun terpaksa ia lakukan secara online. sebenarnya niat Jackson baik supaya anak dan istrinya tidak terjadi apa-apa tetapi niatnya itu malah membuat Helena tidak senang.
“aku minta maaf ya sayang. ya udah boleh ikut tapi kamu harus selalu di samping aku. Kemana-mana harus sama aku, oke?”
Helena bangun dari kursinya lalu menghampiri suaminya. “makasi suamiku tercinta. Muach.. muach.. muach..” dia mencium pipi suaminya berkali-kali tanpa peduli para pengunjung yang berteriak histeris melihat kemesraan mereka.
“kalo kamu selalu semanis ini apapun akan aku lakukan.” Ucap Jackson dengan memandang mata Helena.
.
.
.
Di malam hari.
Jackson tengah merapikan penampilannya tiba-tiba padangannya teralih kearah pintu walk in closet yang terbuka, ia melihat penampilan Helena yang begitu sexy dengan dress hitam yang begitu pas di badannya.
Jackson mendekati istrinya lalu merangkul pinggang Helena. “kalo kayak gini aku gak niat pergi. Kamu terlalu sexy untuk tidak dicicipi.” Bisik Jackson tepat di wajah Helena.
Helena mendorong Jackson lalu berkata. “dasar mesum. Ayo nanti telat.” Ia mengambil tas tangannya lalu pergi dari kamar tanpa menunggu Jackson.
Jackson merapikan sedikit penampilannya lalu bergegas menyusul istrinya yang ternyata sudah duduk manis di dalam mobil. Mereka segera meninggalkan mansion.
Sesampai di club mereka langsung masuk keruangan VVIP dan teman-teman mereka ternyata sudah ada di sana. Jackson mengajak Helena duduk di sofa lalu memesankan juice untuk istrinya.
“kenapa dia?” tanya Jackson melihat Demian yang mulai mabuk.
“sebenernya kita kumpul di sini gara-gara dia.” sahut Leon.
“emangnya kenapa?” tanya Jackson sambil meminum minumannya.
“jangan kebanyakan. Kamu nyetir lho.” Ingat Helena dan di jawab anggukan kepala oleh Jackson.
“perusahaan bokapnya terancam bangkrut. Uang perusahaan di bawa lari sama wakil CEO dan sekarang lagi opname di rumah sakit. Penyakit jantungnya kambuh.” Tutur Yasmin.
“padahal dia sahabat bokap gue. Bangun bisnis bareng dari nol tapi dia nusuk bokap gue dari belakang. Dasar ba******. Ke*****. Gue bakal bunuh dia.” racau Demian.
“sekarang orang itu melarikan diri sama keluarganya. Udah lapor polisi tapi jejak mereka belum ketemu.” Ucap Leon.
“kita mau nolong tapi gak tau gimana caranya.” Tambah Luciana.
“hmmm…. Parah juga masalahnya. Nanti gue coba suruh orang-orang gue buat bantu.” Ucap Jackson.
Sejenak orang-orang di ruangan itu diam. Sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Jackson menoleh ke samping, melihat istrinya anteng main game di ponselnya. “kamu gak ada pendapat?”
Semua langsung menoleh ke Helena kecuali Demian yang masih marah karna perbuatan Helena waktu itu.
“emang apa? masalah sepele gitu di pikirin.” Ucap Helena tanpa mengalihkan pandangannya dari game tersebut.
“lo bilang masalah sepele. Lo punya otak gak. Bokap gue sekarat di rumah sakit gara-gara ba****** itu.” teriak Demian marah.
Dia langsung berdiri dari duduknya lalu menghampiri Helena tapi teman-temannya malah memeganginya dan berusaha membawanya kembali duduk di tempatnya.
Helena mengalihkan pandangannya lalu menatap Demian dengan datar. “dengan lo marah-marah kayak gini. Bukan bikin masalah selesai. Lo harus bisa berpikir jernih bukan mabuk-mabuk di sini.”
“sudah… sudah… tenang semua. Jangan ribut-ribut. Kita dengerin Helena dulu. kamu ada solusinya sayang?” ucap Jackson.
“ada.” Jawabnya enteng.
“kenapa gak bilang dari tadi.” Teriak mereka semua serempak.
"yeee... gak usah nge gas dong... kalian aja yang gak nanya. ya gue diem aja." seru Helena lalu kembali memainkan gamenya.
"kalo gitu solusinya apa?" tanya Demian tidak sabar.
"lo harus sadar dulu. besok kita bahas di kantor gue." sahutnya
-BERSAMBUNG-