
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan!!
...^_________^...
Pagi hari, di Kelas Komputer Universitas Pemoeda terlihat Virra sedang duduk dan mengecek handphone nya yang menunjukkan kalender, ternyata hari ini tanggal pernikahannya.
Dia kembali mematikan handphonenya dengan wajah yang berseri-seri.
"Apa yang lucu? Bahkan senyum mu terlihat aneh." Kata Ella mengintip dari belakang kursinya.
"Lucu? aku sangat serius tentang itu." Jawab Virra serius.
"Biarkan aku lihat sendiri." Kata Ella mengambil handphone Virra dan melihatnya.
Tiba-tiba datanglah Lina dengan heboh dan menarik-narik lengan Virra.
"Eh! Hei-hei! Kapan kita akan menyiapkan kursi untuk pertandingan basket?" Heboh Lina tidak bisa diam.
Dina dan Ella yang kepo pun ikut nimbrung membicarakan tentang pertandingan bola basket.
"Oh! Yeah! Pertandingan basket juga hari ini. Aku tidak bisa perg,i aku sibuk." Jawab Virra lupa.
"Apa!? Kau akan benar-benar melewatkan pertandingan basket senior Ravan? Kami akan menendang mu keluar dari Master Club." Kata Lina tak percaya dan mendorong pundak Virra dengan jari telunjuknya.
"Ayo pergi! Tidak banyak gadis dari Departemen Ilmu Komputer. Kita harus pergi dan menyemangati mereka." Kata Dina mencoba Virra.
"Ayolah!" Bujuk Ella, Dina dan Lina serempak.
"Oke, aku akan pergi, tapi aku tidak bisa lama-lama." Kata Virra tak enak.
"Ayo! Ambil tas kita!" Kata Lina bersemangat.
"Ayo pergi!" Kata Dina heboh.
Virra akhirnya membereskan meja nya dan mengambil tasnya, Virra hanya pasrah ditarik oleh mereka karena merasa tak enak hati.
...^_________^...
Di sebuah apartemen mewah, seorang pria terlihat sedang berkaca dan merapikan penampilannya yang bersetelan kemeja putih.
Selanjutnya, dia memilih jas yang pantas untuk dipadu-padankan dengan kemejanya tersebut dan memakainya.
Menutup lemarinya dan beranjak mengambil tas kantornya.
"Aku pergi sekarang, sampai ketemu." Kata dia menjawab telepon seseorang.
Dia pergi menuju pintu apartemen dan mematikan semua lampu yang menyala di apartemennya sebelum, dia beranjak keluar.
...^_________^...
Kembali lagi, kepada 4 orang mahasiswa yang baru saja datang ke lapangan basket, yang akan mengadakan pertandingan bola basket Universitas.
"Ella, itu Reza." Kata Lina menemukan dan menunjuk seorang pria yang berstatus pacarnya Ella.
"Beruntung kau di sini kalau tidak, kau tidak akan dapat tempat duduk." Kata Reza kepada Ella.
"Ini pukulĀ 3, ini tidak akan mulai sampai pukul 6, kan?" Tanya Virra pada Reza.
"Semua orang menyimpan kursi untuk melihat Ravan, aku dengar bahkan Keyva Labibi di sini." Kata Reza dengan wajah berbinar.
"Oh! Si cantik kampus itu, kan? Kenapa kau peduli jika dia di sini atau tidak?" Tanya Ella cemburu.
"Tidaklah! Aku hanya mendengar itu dari orang lain. Aku bahkan tidak melihatnya." Kata Reza mengelak.
"Ck! Tunjukkan dimana kursi kita." Kata Ella kesal.
"Oke! Ayo!" Kata Reza pasrah.
Mereka terkecuali Ella, hanya bisa menahan tawa melihat Reza mengalah pada Ella.
Mereka pun beranjak mencari kursi kosong untuk mereka duduk menonton pertandingan.
"Di sana!" Tunjuk gereja menunjuk kursi Tribun yang paling depan.
Dina yang terlalu bersemangat langsung duduk di kursi yang paling tengah.
"Eh! Reza, jam berapa Ravan akan datang? Jangan katakan pukul 6. Dia harus di sini untuk pemanasan, kan?" Tanya Ella kepo.
"Itu benar, alasan kita datang lebih awal, agar kita tidak melewatkan pemanasan." Kata keceplosan.
"Ella, kau disini untuk melihat ku atau Ravan?" Tata Reza cemburu.
"Ravan, pastinya. kenapa aku harus melihat mu?" Jawab Ella yang sangat jujur.
"Jadi kau ke sini untuk melihat Ravan? Mungkin kau juga akan pergi karena kemungkinan dia tidak datang hari ini." Kata Reza cemburu dan malah keceplosan.
"Hah! Tapi ada apa dengan pastor itu?" Tanya Lina protes.
"Itu ide kita. Jika tidak kita tidak akan mendapatkan banyak penonton seperti ini." Jawab Reza jujur.
"Apa? Kau benar-benar menipu semua gadis di sini?" Tanya Dina tak percaya.
"Kita tidak pernah bilang kalau Ravan yang ada di poster itu. Ini hanya dalam imajinasi mu." Jawab Reza mengelak.
"Aku tidak akan datang lebih awal jika aku mengetahui ini. Ayo kembali ke asrama, kita bisa kembali setelah makan malam." kata Ella marah dan kecewa.
"Eh! Ella! Kau harusnya jadi pacarku. Bagaimana jika kau kehilangan kursimu?" Kata Reza menghalangi.
"Huh! Jangan khawatir. Sejak Ravan tidak datang, akan ada banyak kursi kosong disini." Kata Ella melewati Reza begitu saja.
"Eh, eh! Ella, Ella!" Panggil Reza pasrah.
...^_________^...
Di sebuah aula Perusahaan UNO Technology's, terdapat banyak kursi berjejer dengan setiap meja bernamakan nama-nama perusahaan game, termasuk Perusahaan RaV's Technology's.
[Konferensi Pengusaha Game Online]
Di luar ruangan rapat, banyak orang yang berlalu-lalang rata-rata memakai kemeja dan jas.
Sedangkan, 3 orang pria terlihat sedang cemas menunggu seseorang.
"Dia disini!" Kata Davie menepuk tangan Grady dan menunjuk seorang pria yang baru saja datang.
Mereka pun menghampiri seorang pria tersebut yang tak lain ketua mereka, Ravan Abercio.
"Sudah banyak tim ada di sini. Aku sudah melihat daftar tamu. Mereka semua perusahaan-perusahaan besar." Kata Davie memberi tahu.
"Beberapa dari mereka termasuk VD technology dan banyak lagi perusahaan besar." Lanjut Grady menjelaskan.
"Ravan, jangan gugup." Kata menepuk kedua bahu Ravan.
"Kau bercanda?" Kata Ravan menatap Grady dan mereka tertawa.
"Bagus, untuk mu Ravan." Kata Bevan mengangkat jempolnya.
"Ayo!" Ravan dkk memasuki ruangan rapat karena akan segera dimulai.
...^_________^...
Di atas Tribun lapangan bola basket, Keyva dan Mika yang sedang menunggu dan datanglah Vira dkk.
Mika yang melihat kedatangannya, menepuk tangan Keyva dan menunjuk Vira dkk dengan menggunakan dagunya.
"Lihat, seperti yang aku bilang. Jauh lebih sedikit orang yang sekarang di sini." Kata Ella menunjuk Tribun.
"Virra!" Panggil Lina melirik kan matanya pada tempat duduk Keyva dan Mika.
"Aku melihat Keyva dan temannya di sana." Kata Lina menarik tangan Virra dan menunjuk tempat duduk Keyva.
"Apakah dia menyukai Ravan?" Gumam Dina dekat telinga Lina.
"Pertanyaan seperti apa itu? Aku yakin dia menyukainya, untung saja Ravan terlalu tinggi untuk memperhatikannya. Aku akan menangis selama 3 hari jika dia menyukai nya." Kata Lina lebay.
"Permainannya mulai, perhatikan!" Tegur Virra menunjuk kedua matanya dengan jarinya.
Saat mereka akan fokus melihat pertandingan, datanglah seorang laki-laki yang mengenakan seragam basket dan mendribble bola basket nya sambil berjalan menghampiri Virra.
"Dia datang lagi!" Kata Dina melirik Virra mengkode.
"Virra, jika kita menang bisakah aku mengajak mu keluar untuk snack malam?" Kata Elza malu-malu.
Teman-teman Virra menahan tawa mendengarnya.
"Apa kau pikir kau akan kalah?" Tanya Virra menusuk.
"Tentu saja tidak." Jawab Elza percaya diri.
"Semoga beruntung." Kata Virra singkat.
"Aku pasti akan menang." Kata Elza sebelum pergi ketengah lapangan.
Virra dkk tertawa, Virra mencubit tangan Ella karena kesal.
"Dia sangat naif." Kata Lina merasa kasihan.
"Aku tak tahan dengan laki-laki muda ini, mereka selalu menggunakan permainan sebagai ancaman. Bagaimana Virra bilang tidak? Dia akan menyalahkan Virra jika kalah bermain?" Kata Dina panjang lebar.
"Akan lebih baik Virra mengatakan tidak pada kalian sekarang." Kata Ella memanasi.
"Tidak juga, aku hanya memiliki pengalaman yang lebih." Kata Virra sombong.
Mereka bertiga yang kesal pun, serempak menyuguhkan kepalan tangan mereka ke depan wajah Virra.
...^_________^...
...Jangan lupa VOMENT!!! Dan terimakasih atas vote dan membacanya...