
“sa…sayang kenapa kamu nangis? Ada apa?” tanya Jackson malah membuat tangisan Helena semakin pecah.
“kamu kenapa ter…teriak ke aku? Kamu m…marah aku suruh belanja. Kalo gak mau bilang aja. aku bisa kok be… beli sendiri.” ucapnya sesegukan.
“siapa yang marah sayang. Aku gak marah. Aku Cuma kaget kamu pengen es yang ada di jalanan. Kita cari es cincau di restoran aja ya yang lebih bersih dan sehat.” Jelas Jackson.
“tapi aku maunya yang itu.” tukas Helena.
“tapi sayang__”
“mau beli es yang itu. aku pengen banget.” Rengek Helena manja sambil mengoyang-goyangkan tangan Jackson.
Untuk pertama kalinya laki-laki itu melihat tingkah manja istrinya yang begitu menggemaskan bahkan ia berusaha diri agar tidak tersenyum.
“baiklah aku akan belikan tapi dengan satu syarat, kamu harus panggila aku ‘hubby’ mulai dari sekarang. ok?”
“ok, hubby. Cepet beliin nanti keburu pergi bapaknya.” Ucapnya tanpa pikir panjang.
Seketika senyum yang dari tadi ia tahan akhirnya terbit bahkan saking bahagianya ia mencium pipi istrinya gemas dan barulah ia keluar membelikan es cincau tersebut. Setelah mendapatkan apa yang istrinya mau, Jackson langsung masuk mobil dan menyerahkan es tersebut.
Wajah Helena begitu berbinar melihat es tersebut dan segera ia menerimanya lalu meminumnya tetapi baru sekali tegukan, Helena mengerutkan dahinya.
“kenapa sayang? Gak enak ya?” tanya Jackson.
“bukan. Tapi kok rasanya aneh ya.”
“masa sih? sini aku coba.” Laki-laki itu mengambil minuman Helena lalu mencicipinya. “enak kok. Manis dan gak ada rasa yang aneh-aneh.”
Ia menyerahkan kembali minuman tersebut tapi Helena malah mendorongnya kembali dan berkata. “kalo gitu habisin.”
“kok aku? Tadi katanya pengen banget kenapa sekarang gak di minum. Kalo kayak gini jadinya lebih baik gak usah beli tadi.” Gerutu Jackson malah membuat mata Helena kembali berkaca-kaca.
“kalo gak ikhlas bilang dari tadi kek jadi aku bisa keluar beli sendiri pakek uang aku.” Helena terisak.
“ehhh… bukan itu maksudku sayang… aduh gimana ngomongnya… maksud aku kalo gak pengen-pengen banget gak usah sampek ngagetin aku. Untung aja tadi gak ada mobil di belakang. Cup… cup… jangan nangis lagi.” Jackson meraih tubuh Helena dan membawanya ke dalam pelukan.
Laki-laki itu menjauhkan tubuh istrinya lalu menangkup wajah mungil itu dengan tangan besarnya . Terlihat wajah istrinya sudah basah dengan air mata dan dengan penuh kelembutan ia mengusap air mata itu dengan ibu jari lalu berkata. “kamu bilang apa sayang?”
“aku bilang apa?” tanya baliknya polos.
Istrinya begitu menggemaskan sampai-sampai ia ingin menerkamnya tapi Jackson harus bersabar, ia ingin memastikan apa yang di dengarnya tidak salah.
“tadi kamu bilang ‘bawaan bayi’. Kamu hamil?” Jackson bertanya sambil menatap mata Helena dalam.
Dengan malu-malu Helena membenarkannya dengan menganggukan kepala pelan dan seketika Jackson langsung berteriak gembira lalu kembali memeluknya dengan erat. Tak henti-hentinya laki-laki itu menghujami kecupan di setiap wajah Helena sambil terus menerus mengucapkan ‘terimakasih’.
“sudah berapa lama? Kenapa baru bilang sekarang? bayi kita sehatkan.” Jackson menyentuh perut Helena dan dapat di rasakan perut itu sudah tidak lagi rata. Kenpa tadi saat membuka baju istrinya dia tidak memperhatikannya ya?.
“mau dua bulan.”
“ha? Dua bulan? Bukannya kita baru nikah dua bulan lebih dan malam pertama kamu masih perawan. Kok bisa hamil cepet banget?”
“gimana gak cepet. Tiap hari kamu minta jatah sampek aku lupa kapan terakhir dateng bulan dan hebatnya lagi langsung buat dua.”
“dua? Kembar? Yesss!.. gak sia-sia usaha aku buat kamu lemes tiap hari.” Seruan Jackson langsung di hadiahi cubitan di perut dari Helena.
“kalo ngomong di saring dulu. udah mau punya anak juga. cepet abisin esnya, nanti telat ke kampus.”
“siap mommy. Apapun untuk mommy-ku tercinta dan anak-anakku ini.”
Setelah menghabiskan es cincaunya, Jackson kembali melajukan mobilnya dan kali ini dia lebih hati-hati takut istrinya ngidam lagi. Ia tidak ingin istri dan calon anak mereka kenapa-napa.
Helena tersenyum sendiri melihat Jackson yang tiba-tiba menjadi suami yang siaga. Ternyata kehamilannya ini membuat bukan saja membuat dirinya berubah melainkan suaminya juga. semoga ini menjadi awal yang baik untuk mereka.
Tapi wajah Helena kembali murung mengingat kalau Jackson adalah anak dari orang yang paling ia benci. Apa jadinya anak-anaknya nanti lahir tanpa seorang ayah. Ia mengusap perutnya sambil di dalam hati mengucapkan doa agar anak-anaknya tidak ke kurangan kasih sayang.
-BERSAMBUNG-