
AYOOO... AYOOO... AYOOO... Kesayangannya Author.
Jangan bosen-bosen buat Like, Comment, dan juga VOTE-nya ya...
Sekalian tekan Favorite supaya kalian gak ketinggalan update-an selanjutnya.
Selamat membaca.
.
.
.
“sayang kamu mau makan apa?” tanya Jackson.
“seblak.” Ketus Helena.
“kok makan seblak, itu kan pedes. Nanti perut kamu yang kecil ini sakit gimana. Makan nasi aja.” protesnya.
Gadis itu memutar bola matanya jengah. “apaan sih lo. suka-suka gue lah mau makan apa. yang makan kan gue, kenapa lo yang ribet.”
“gak, yang. Pokoknya kamu harus makan nasi. Titik.” Tegas Jackson dengan tatapan tajam.
“aishh… ya udah, gue makan nasi ayam tapi gue tetep mau seblak.” Helena sudah benar-benar lelah berdebat.
Wajah Jackson yang tadinya dingin seketika kembali cerah. “nah gitu dong. Itu baru calon nyonya Jackson Alexander Bernadette.” Laki-laki itu mencubit pipi Helena gemas.
“woy. Dari tadi kita di sini, malah di kacangin terus. Berasa dunia milik berdua kali.” Seru Leon.
“gak usah, Yon. Namanya aja bucin akut. Kita-kita di sini pada gak keliatan semua, Cuma si Helen aja di mata tu anak.” Ejek Demian.
“udah. lo berdua gak usah ribut. Sana beliin CALON ISTRI gue nasi ayam sama seblak. Gue juga soto ayam. Oh ya minumnya es jeruk dua.” Ujar Jackson.
“gitu kek dari tadi. Laper tau gak nungguin kalian berdua debat. Gue bakso sama es teh.” Ucap Luciana.
“gue samain sama Luci.” Ucap Yasmin.
“lah ini kok pada nyuruh-nyuruh sih.” seru Leon.
“udah lah, gak usah di perpanjang dari pada gak jadi makan-makan. Ayo, buruan.” Ajak Demian.
.
.
.
Selama di perjalan menuju Mansion keluarga Damara, kedua manusia ini sama-sama diam tanpa ada yang mau bersuara lebih dulu.
Sesampai di depan gerbang utama, gadis itu ingin beranjak dari mobil tetapi tangannya di cekal.
“ada apa?” tanyanya dengan menaikkan salah satu alisnya.
“apakah kau tidak bisa membuka sedikit hatimu untukku?” ucapnya lirih.
“apa maksudmu?” sahut Helena pura-pura bodoh.
“aku sudah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan hatimu. Aku berusaha menjadi yang terbaik tapi kamu gak pernah memandang aku sedikitpun. Pernikahan kita tinggal seminggu lagi tapi sampai detik ini kita belum ada persiapan sedikitpun. Jangankan memilih cincin, memilih gaun pernikahan saja kamu gak mau luangin waktu. Di sini hanya aku yang merasa bahagia tapi kamu gak. Apa aku harus membatalkan pernikahan ini?” mata Jackson sudah mulai berkaca-kaca.
Seketika Helena tersentak mendengar penuturannya. Memang benar, sudah berkali-kali Jackson mengajaknya pergi tetapi dia selalu menolak. Jackson telah salah mengartikan penolakan gadis itu.
“maaf. Bukan maksud gue gak ngehargaiin perasaan lo Jack tapi gue ngerasa ini terlalu cepat. Gue butuh waktu buat ngenata hati gue buat nerima elo jadi calon suami gue. Dan gue juga minta maaf karena buat lo kesusahan sendiri. Gue masih banyak pekerjaan yang harus gue selesaiin sebelum kita nikah nanti. Jangan berpikir gue kayak gitu lagi. Maaf ya.” ucap Helena bersalah.
“jadi penikahan kita gak jadi batal?”
Gadis itu menggelangkan kepalanya pelan lalu berkata. “besok gue luangin waktu buat milih gaun sekalian cincin. ok?”
“makasi sayang.” Jackson memeluknya erat sebentar lalu melepaskannya.
“sayang bisa gak kamu gak pakek ‘lo-gue’ lagi. Kita kan udah mau nikah. Coba pakek ‘aku-kamu’ biar enak di denger.”
“nanti gu__ maksudnya aku coba.” Sahutnya kaku.
Seketika senyum di wajahnya Jackson semakin merekah. Ia semakin bahagia karena Helena sudah mau belajar untuk menerimanya sebagai calon suami.
Laki-laki itu menghujami kecupan gemas pada bibir mengoda Helena. Namun, semakin lama kecupan itu berubah menjadi ******* dan di balas kaku oleh Helena yang mencoba mengimbangi Jackson.
.
.
.
Ke esokan harinya.
Sesuai yang di janjikan, hari ini mereka berdua akan mencari baju pengantin dan juga cincin pernikahan. Pagi-pagi sekali Jackson mendatangi rumah calon istrinya dengan niat langsung mengajaknya pergi tetapi ia di paksa untuk ikut sarapan bersama keluarga Damara. setelah makan barulah mereka berangkat ke butik terkenal langganan keluarga Bernadette.
Tanpa mereka sadari, ada semua mobil berwarna merah mengikuti mereka dari belakang. Sang pengemudi memperhatikan setiap gerak gerik mereka tanpa ada yang tertinggal sedikitpu.
Ia mencengkram kemudi, menyalurkan emosinya yang memuncak. “gak akan gue biarin lo seneng di atas penderitaan gue dan gue juga gak rela milik gue lo ambil gitu aja. gue akan bunuh lo.” serunya dengan senyum licik.
-BERSAMBUNG-