
“apa karena ini papah dan daddy bertengkar?” Jackson yang tiba-tiba bertanya seperti itu membuat Logan tegang seketika.
“ tentu saja.” ucap Logan tidak sepenuhnya berbohong.
Seketika suasana menjadi sunyi. Logan berfikir apa ia harus mengatakan sejujurnya tapi dia tidak mau memperkerus suasana lagi karna hal ini apalagi sekarang hubungunya dengan Johan sedang tidak baik-baik saja.
Logan melirik Jackson yang ternyata laki-laki itu sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri. Logan yakin ia sedang memikirkan pertengkarannya bersama Helen yang sudah di ketahui mertuanya.
“hmm… apa kamu mau mendengar cerita tentang Helen yang bisa membuat dia sesukses ini. mungkin setelah kau mendengarkannya, pemikiran kau tentang Helen akan berubah.” Perkataan Logan membuat Johan tersadar.
“apa?” ucapnya singkat.
“dulu, Helen adalah CEO termuda pada perusahaan yang hampir bangkrut. Mungkin usianya belum sampai sepuluh tahun. Di usianya seperti itu dia harus bertarung dengan orang-orang dewasa untuk menyelamatkan perusahaannya. Banyak dari mereka memandang remeh Helena bahkan ada yang sampai terang-terangan ingin menjatuhkan dia tapi anak itu sangat luar biasa. Dia mampu membalikan keadaan sehingga orang-orang itu bertekuk lutut di hadapannya dan bahkan cerita ini menjadi cerita bersejarah bagi semua kalangan pembisnis. Tetapi cerita itu malah membuat papah berpikir lain.”
“maksud papah adalah sangat sulit bagi anak kecil yang harus berjuang melawan pahitnya kehidupan. Terlalu banyak yang ia korbankan dan terlalu banyak di sakiti. Jika papah berada di posisi dia, mungkin papah tidak akan sanggup tapi Helen tetap melakukannya. Walaupun kau melihat Helen adalah wanita yang dingin dan kejam. Itu hanya topeng belaka untuk menutupi kerapuhannya.”
“dia tidak membutuhkan uang atau harta. Yang dia butuhkan adalah kasih sayang dan perhatian khusus. Dia butuh seseorang yang bisa menuntunnya, yang bisa di jadikan tempat bersandar. Bukan menjadikannya semakin rapuh. Papah harap kau bisa membenahi hubunganmu dengannya.”
Setiap kata-kata Logan benar-benar mengenai hatinya. Selama ini ia hanya memandang istrinya adalah sosok yang egois tetapi ia tidak pernah mencoba mengenal istrinya lebih dalam lagi. Dia patut di salahkan karna ketidak pekaannya dan ketidak ingin tauannya itu. ia harus membenahi hubungannya dengan Helena tapi yang jadi masalah Helena sekarang berada bersama keluarganya. Apa keluarganya mengijinkan ia berbaikan dengan Helena?
.
.
.
Seperti biasa jika Helena menginap di mansion pasti ia akan sibuk memasak dengan Merry. Seakan menjadi tempat hiburan, mereka betah berlama-lama di dapur berkarya sesuka hati. Mulai dari makanan berat sampai cemilan yang sangat banyak. Entah mereka sedang membuat makan malam atau sedang berjualan tetapi yang pasti semua makanan ini sangatlah lezat.
Saat sibuk-sibuknya menggiling adonan agar menjadi pipih, Helena di kejutkan dengan kedatangan kakaknya yang penampilannya seperti orang yang baru bangun tidur.
“elo ngagetin aja deh.” Seru Helena.
“elo sih main tinggalin gue sendirian. Gue kira kan lo pergi. Gue kayak orang gila nyari lo kemana-mana tau gak.” Gerutu Luciana.
“gimana gue gak ninggalin lo. lo tidur kebo banget, di bangunin gak bangun-bangun giliran di tinggal ngamuk.”
“ish… jahat banget. Dasar nenek-nenek cerewet.” Gumam Luciana setelah itu langsung melesat melarikan diri sebelum ia di lempar spatula.
“apa kamu bilang. Sini kamu jangan lari” teriak Merry.
“gak usah marah mom. Mommy kan emang mau jadi nenek gimana sih.” ucap Helena santai tanpa menoleh Merry yang ternganga mendengarnya.
“kayaknya aku harus perawatan lagi biar gak makin keriput kayak nenek-nenek kalo cucuku lahir nanti.”Tanpa sadar Merry mengelus wajahnya.
Setelah melalui pertengkaran kecil akhirnya mereka semua berkumpul di meja makan. Semua orang tidak ada satupun yang membuka suara selain bunyi peralatan makan yang saling beradu di atas piring.
Dan saat mereka sudah menghabiskan semua makanannya, Luciana segera mengajak Helena masuk ke dalam kamar dan tak lupa gadis itu mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggu.
“kenapa lo ngajak gue ke sini. Cemilan gue masih di bawah tau.” Gerutu Helena saat menduduki kasurnya.
“cemilan bisa menunggu nanti. Ini sekarang ada yang lebih penting.” Luciana ikut duduk.
“apaan.” Ketusnya
“info soal Lianna. Secara pengamatan gue gak ada yang mencurigakan tentang dia tapi… beberapa hari lalu gue mergokin dia nelpon sama seseorang. Kayaknya sih serius banget sampek marah-marah gitu. Oh ya, satu lagi. Gue nemuin foto dia sama Jackson waktu kecil. Ini liat.”
Luciana menyerahkan ponselnya ke Helena dan wanita itu langsung menerimanya. Awalnya sih foto kenangan biasa tapi saat ia melihat foto terakhir, ia membulatkan matanya. Itu adalah foto keluarga tapi bukan itu yang membuat ia terkejut tetapi sosok yang sangat ia benci berada di sana. Shasa.
“bener kecurigaan gue.” Gumam Helena yang masih terdengar oleh Luciana.
“kenapa?” Luciana akhirnya ikut memperhatikan foto tersebut tapi ia tidak mengerti.
“lihat baik-baik di sini ada ibu kandungnya Jackson, Shasa. Yang berarti ia juga salah satu orang yang mengetahui tentang Shasa. aku harus menyelidikinya lebih lanjut.”
“itu berarti lo harus kembali ke rumah itu lagi?” ucap Luciana tiba-tiba.
-BERSAMBUNG-