LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 11



Halo semuanya…


Semoga kalian suka sama tulisan aku ini.


Jangan lupa Like, Comment dan juga Votenya agar aku semakin bersemangat menulisnya.


Dan Jangan lupa tekan Favorite supaya kalian gak ketinggalan update-an terbarunya.


 


 


Selamat membaca.


.


.


.


Perkataan Helena benar-benar membuat Jackson sangat kesal


sampai-sampai wajahnya berubah warna menjadi merah.


Jackson yang tidak bisa menahan emosinya langsung mencengkram


kedua bahu gadis itu lalu mendorongnya ke tembok. Laki-laki itu menghimpit


tubuh mungil Helena dan wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja


sehingga hangatnya hembusan nafas Jackson sangat terasa diwajah Helena.


“ya, gue emang playboy dan gue juga udah sering tidur sama


cewek-cewek jadi gue tau berbagai tipe-tipe cewek termasuk yang kayak lo” bisik


Jackson sambil membelai lembut wajah Helena.


“yang kayak gue? Yang kayak gimana? Helena mencoba menghindar


dari sentuhan laki-laki itu.


“cewek kayak lo. Cewek yang suka jual mahal, sok suci tapi


dalemnya udah sering di pakek orang-orang” hina Jackson.


“ternyata selain playboy dan juga sombong. Lo ternyata bodoh


juga. Penilaian lo tentang gue  barusan


salah besar.


“gue emang bukan orang suci tapi gue gak mu***** kayak


cewek-cewek lo itu. cewek-cewek lo itu memang gak ada harga dirinya makanya mau


aja dipakek sama lo” lanjut Helena.


“mulut lo itu pedes juga ya? Apa perlu gue kasarin supaya


mulut lo itu gak sembarangan lagi ngomong sama orang yang elo sendiri gak tau


siapa dia.”


Belum Helena membalas perkataan Jackson. Mulutnya sudah


dilumat dengan kasar oleh laki-laki tersebut. Berkali-kali dia menghindar tapi


tengkuknya sudah dipegang Jackson untuk memperdalam ciumannya itu.


Semakin lama ciuman, Jackson semakin menuntut untuk menghabiskan


bibir yang dari tadi sudah menggoda dia. Dan benar saja bibir gadis itu tidak


hanya sexy secara penampilannya tapi juga sangat manis yang ia rasakan.


dia merasa tidak ada pergerakan apapun dan juga penolakan dari gadis itu.


pelan-pelan ia membuka matanya tapi masih dengan mulutnya yang masih menikmati


sensasi manis itu.


Saat ia melihat, tatapan mereka beradu dan sulit untuk


diartikan. Akhirnya Jackson menyelesaikan permainannya itu walaupun sangat


berat untuk ia melepaskannya.


“lo udah puas sekarang?” ucap Helena datar.


“tidak, bahkan gue merasa jijik melakukannya tadi. Sungguh


tidak enak” elak Jackson.


“dasar ba******!. Kalo elo bukan temen kakak gue. Udah gue


patahin tangan sama kaki lo. Dan inget kata-kata gue ini. Sekali lagi elo


kurang ajar sama gue, gue gak akan segan-segan bales elo yang lebih


menyakitkan. Gue gak peduli elo siapa, anak siapa atau apapun itu. inget itu.”


ancam Helena.


Ia langsung berlalu meninggalkan Jackson sendirian di toilet.


Ia sekarang hanya butuh ketenang untuk meredam emosi yang ia tahan dari tadi.


“sialan, berani-beraninya dia ngancem gue. Emangnya dia pikir


dia itu siapa? Bocah sombong. Oke kita lihat aja nanti Helen, gue akan bales


penghinaan ini. Gue bakal buat lo bertekuk lutut di hadapan gue dan gue jamin


itu akan terjadi.” Murka Jackson


Sekarang ia sudah tidak peduli dengan taruhannya dengan


Demian. Yang ia pikirkan sekarang bagaimana cara membalas dendam terhadap


Helena yang sudah berani-beraninya menolak dia, menghina dia dan mengancam dia.


Disisi lain.


Setelah Helena keluar dari toilet, ia langsung mengajak


Luciana dan Yasmin pulang ke apartmentnya karena mereka sudah mabuk berat.


Di perjalanan tak henti-hentinya dia menggerutu dengan apa yang


dilakukan Jackson tadi. Laki-laki itu sudah menghina Helena bahkan mengambil


ciuman pertama Helena. Iya ia akui bahwa selama ini dia tidak peduli dengan


pandangan orang-orang yang memandangnya lapar karena kecantikan dan sexy-annya


itu tapi yang pasti ia selalu mejaga dirinya dari mereka.


Ingin sekali ia memukul, menendang bahkan mematahkan setiap


tulang Jackson. Namun apa daya, laki-laki itu sahabat kakaknya. Ia hanya bisa


bersabar untuk tidak membalas perlakuan Jackson jampai batas kemampuannya.


Dan malam inilah, awal dari semua tawa, tangis, kebahagian,


kebencian dan siksaan yang akan Helena dan Jackson alami kedepannya.


-BERSAMBUNG-