
Semenjak ia bangun tidur sampai detik-detik menjelang cek kandungan sang istri, Helena selalu mengingat kan dia untuk tidak telat datang ke rumah sakit.
Sepanjang hari Jackson tidak bisa fokus dengan pekerjaannya bahkan dia hampir memaki istrinya tapi bukannya takut, Helena malah balik memakinya bahkan mengancam untuk pergi dari rumah.
“Ngadepin bumil. Bukannya damai sejahtera malah bikin emosi. Marah salah, diem salah, ngomong salah. Serba salah. Untung gue cinta, Untung bini gue, untung anak gue di dalem perut lo. Kalo gak gue bejeg-bejeg jadi pergedel.”. batin Jackson menjerit-jerit sambil menatap istrinya yang ada di sebelahnya sedang menunggu antrian.
“gak usah ngebatin gitu, dasar gak iklah banget nemenin istri. Kalo ini bukan kemauan yang ada dalem perut udah aku usir kamu jauh-jauh.” Ucap Helena tanpa menoleh nya.
“kok dia tau. Ini bini gue bisa baca pikiran orang ya.” Batinnya lagi.
“dah gak usah cemberut. Giliran kita masuk, ayo.” Helena menyeret suami untuk masuk keruangan.
“Selamat siang tuan, nyonya ada yang bisa saya bantu?” seru dokter perempuan yang sudah berumur.
“saya ingin periksa kandungan dok” ucap Helena.
“Baik kalo gitu. Nyonya silahkan tidur di atas kasur.”
Helena langsung menuruti perkataan dokter tersebut dengan bantuan suaminya dan saat si dokter mengangkat dress Helena, tangannya di hentikan oleh Jackson.
“Ngapain buka-buka baju. Jangan macam-macam anda sama istri saya.” Pekik Jackson.
“hadeh... Yang, emang kayak gitu. Harus di buka biar bisa di periksa sama dokternya. Makanya pas istirahat ada jadwal checkup tu ikut bukannya main Cuma numpang nampung sp*rma abis tu lari dari tanggungjawab.” Omel sang istri.
“Aku bukannya lari dari tanggungjawab tapi aku kerja buat kalian bertiga.” Ucap Jackson mulai melemah.
“Uang bisa di cari tapi moment kayak gini belum tentu dateng lagi. Ya kalo aku bisa hamil lagi, kalo gak. Kamu yang rugi gak bisa merasakan suka dukanya jadi orang tua baru.”
Di tengah adu mulut suami istri yang sebenarnya lebih kepada istri, dokter sang suster hanya bisa tersenyum geli melihat drama kecil ini.
“Apa bisa kita lanjutkan?” Si dokter berusaha menengahi mereka.
“tuh kan gara-gara kamu sih bu dokternya jadi marah. Dah dok gak usah di tanggepin dia Cuma bisa bikin kesel aja.” Ujar Helena yang membuat wajah Jackson semakin di tekut.
Sang Dokter memulai mengoleskan gel di atas perutnya lalu mengambil sebuah alat yang akan di gerak-gerakkan di atas perut tersebut.
“bisa di perkirakan usia kandungannya memasuki dua puluh satu minggu. Si kembar mulai aktif, wajahnya cantik seperti mamah, hidung dan alisnya mirip papahnya. Sehat dan kuat. Apa mamah sama papah mau sapa si kembar?”
“Hay anak-anak papah.” Sapa Jackson dengan tatapan haru selihat monitor USG.
DUG DUG DUG DUG DUG....
Tiba-tiba suara tersebut memenuhi ruang tersebut.
“dedek bayinya kayaknya seneng di sapa papahnya, detak jantungnya saling bersahutan. Tuh tuh liat perut mamah sampai gerak-gerak saking senengnya.” Tutur dokter.
Dengan air mata yang tidak bisa di bendung lagi, Jackson menggenggam sebelah tangan Helena lalu mengecupnya. “makasi ya sayang sudah mengahadirkan mereka di keluarga kecil kita ini dan maaf karna menjadi suami yang selalu mengecewakan kamu.”
Helena menghapus air mata di pipi suaminya dengan ibu jari sambil berkata. “kamu gak salah tapi aku yang terlalu banyak menuntut dan buat kamu kesal.”
Jackson mengelengkan kepala pelan. “ aku janji akan membahagiakan kalian seumur hidup ku”
“Tentu saja dan aku akan membuktikan nya.”
Dokter dan suster yang menyaksikan secara live pun tidak kuasa menahan air mata haru. Jika di sini ada pasangan mereka mungkin dokter dan suster ini akan berlari ke pelukannya.
.
.
.
“Bagaimana perkembangan nya?” tanya Satria pada Bima dan Dewa.
Kebetulan pria paruh baya ini berkunjung ke markas untuk sekedar mengistirahatkan diri sambil mencari informasi.
“aku sudah mendapatkannya. Dia ada di Jerman tapi untuk lokasinya yang lebih lengkap sedang dalam proses pencarian.” Tutur Dewa.
“Cari secepatnya sebelum nona kecil lahir. Jangan jadikan dia penghambat jalan nona-nona kecil.”
“Tapi aku sedikit merasa aneh.” Ucap Bima
“Aneh kenapa kak?” tanya Dewa.
“Gue merasa aneh sama orang yang ada di belakang mereka. Secara informasi mereka selama beberapa tahun ini enggak ada di temukan tapi beberapa bulan ini tiba-tiba mereka muncul seperti sudah mempersiapkan secara matang.”
“Maksudmu apa Bima jangan bertele-tele.” Seru Satria.
“Aku merasa orang yang kita lawan ini dari kalangan kita.”
“maksud kakak mafia?”
“Betul.”
“Aku juga sependapat tapi yang aku lebih curiga adalah keterlibatan Lianna dalam kasus ini. Dia hanya gadis ceroboh, bodoh dan manja tetapi kenapa dia bisa bergabung dengan Shasa. Dia tidak mungkin menerima Lianna hanya karna gadis itu mencintai Jackson.”
“Kenapa kasus ini banyak sekali rahasianya.” Teriak frustasi Dewa sambil meremas rambutnya.
“aku akan mencari informasi tentang Lianna waktu kecil. Mungkin kita akan mendapatkan petunjuk siapa sebenarnya yang kita lawan ini.” Ucap Bima serius.
“ingat Berhati-hati lah. Tidak ada yang boleh tau keberadaan mu di dekat meraka. Untuk sementara aku tidak bisa membantu kalian, aku harus menyelesaikan proyek yang ada jepang dan mungkin menghabiskan waktu tiga sampai enam bulan. Jadi kalian berdua jangan sampai lengah.” Titah Satria.
“iya om.” Sahut mereka kompak
“Baiklah, sekarang aku akan pergi. Oh iya, aku sampai lupa. Tugaskan Dewi sebagai sekertaris pribadi Helena. Jika sesuatu terjadi padanya, Dewi bisa langsung membantu dalam hal pengobatanan.”
Satria akhirnya benar-benar pergi dari hadapan mereka.
-BERSAMBUNG-