
Setelah dari restoran, mereka memutuskan langsung pulang dan membatalkan rencana mereka yang akan pergi ke perusahaan. Tetapi sesampai di depan gerbang mansion semua tampak aneh, tidak ada penjagaan sama sekali bahkan lampu-lampu mansion tidak di nyalakan padahal hari sudah mulai gelap.
Perlahan-lahan mereka memasuki mansion dan tiba-tiba…
“SURPRISE…”
Semua lampu menyala dan terlihat rumah di hiasi balon berwarna-warni bahkan semua orang ada di sana. Dari keluarga Jackson, keluarga Helena bahkan teman-teman mereka ada di sana.
“ada apa ini?” tanya Helena yang masih bingung.
Dari belakang Jackson memegang lengan Helena lalu menundukan kepala tepat di sebelah telinganya. “aku mengundang mereka semua kesini untuk merayakan kedatanganmu kembali di rumah dan juga pesta kecil untuk menyambut anak-anak kita.” Setelah berbisik seperti itu jackson mengecup mesra pipi Helena.
Helena membalikkan badan menghadap Jackson. “terimakasih.” Ucapnya tulus.
“apapun untukmu, Helenaku…”
“udah cukup mesra-mesraannya. Inget masih ada orang di sini.” Ucap Dewa merusak moment.
“ah elo… bilang aja iri. Jomblo sih.” seru Dewi.
“enak aja lo bilang gue ngiri. Gue kan udah ada ayang Julia. Iya gak yang.” Bantah Dewa.
“nona muda selamat atas kehamilan anda.” Ucap Julia yang pura-pura tidak bendengar Dewa.
“terimakasih. Kenapa kalian bisa di sini? Dan di mana dia.” dia yang di maksud Helena itu adalah Bima.
“tuan muda menghubungi om. Dia meminta om mengundang mereka kemari dan ‘dia’ tentu saja tidak mungkin untuk datang ke sini bukan. Selamat untuk kehamilanmu Helena, om bangga padamu.” Tutur Satria.
Helena hanya tersenyum kecil menanggapinya. Ya, ia tau sesuatu hal yang tidak mungkin untuk bertemu Bima di luar karena itu bisa mengundang perhatian orang-orang yang mencari tau identitas ‘Black Rose’.
“selamat ya sayang. akhirnya kamu kasi cucu buat mommy. Gak sia-sia perjuangan mommy buat nikahin kamu sama Jackson. Jackson inget pesen mommy, jadi suami siaga. Masa-masa seperti ini istri kamu harus mendapatkan perhatian khusus. Jangan ngebatah kalo dia minta yang aneh-aneh.” Kata Merry.
“siap. Mommy.” Sahutnya singkat.
“sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah. Belajarlah dewasa untuk anak-anakmu nanti dan kau Helen, Daddy minta untuk kamu juga belajar jadi ibu yang baik.” Nasehat Johan.
“sudah… sudah… sampai kapan kita berdiri terus. Ayo duduk, kasiah Helen pasti capek.” Seru Logan.
Semuanya menyambut gembira kehamilan Helena apalagi saat mereka tau bahwa wanita itu akan memiliki bayi kembar. Tak pernah mereka pikirkan akan mendapatkan anggota keluarga baru secepat ini apalagi Tuhan memberikan dua sekaligus. Mereka tak sabar menyambut bayi-bayi mungil itu.
Sayang di antara semua orang, ada satu orang yang tidak bahagia. Siapa lagi kalau bukan Lianna. Dari tadi ia hanya tersenyum masam menanggapi semua orang yang memuji-muji Helena bahkan Helena sangat di sayang semua orang padahal wanita itu sangat dingin bahkan sangat datar tanpa ekspresi. Sedangkan dia, gadis yang manis, ceria dan polos tidak ada yang memperhatikan dia.
Lianna merasa gerah berlama-lama berada di tengah-tegah mereka bahkan saat dia pergi dari ruang tamu menuju dapur tidak ada yang menyadarinya seakan-akan ia hanya angin lewat.
Saking panasnya gadis itu meminum air yang di penuhi es dalam sekali teguk. Ia menyalurkan amarahnya dengan menggigit es batu dengan keras.
Tak berapa lama Luciana pergi ke dapur tapi langkahnya terhenti sesaat melihat Lianna berada di sana. Ia bingung sejak kapan gadis itu berada di sini tetapi ia tidak ingin memusingkannya. Tiba-tiba ada sebuah ide yang terlintas di kepalanya dan tanpa membuang waktu ia mendekati Lianna.
“Lin, lo kok ada di sini sendirian, gak gabung sama yang lain.” Tanya Luciana sambil menuangkan air ke gelas.
“eh kamu... ngagetin aja. aku emmm… minum. Ya, aku ke sini mau minum.” Jawab Lianna sedikit bingung.
“oh… gue kira karena lo gak seneng di sana.”
“hah? En… enggak kok. Siapa bilang. Ha ha ha.” Lianna mulai gugup.
“ya kan gue kira. Soalnya gue juga gak seneng lama-lama di sana.” Ucap Luciana semeyakinkan mungkin
“maksud kamu?” tanyanya penasaran.
“ha… sebenernya gue tu gak suka sama Helen. Gue sama dia selalu di banding-bandingin sama bonyok gue. ‘Luci kamu harus kayak Helen’, ‘Luci lihat Helen’ ‘Luci ini Luci itu’ gue kan merasa kayak bukan anak mereka. Bahkan
mereka lebis sayang Helen dari pada gue makanya saking sayangnya Helen di jodohin sama Jackson biar gak jadi perawan tua. di depan bonyok sih gue bersikap kakak yang sayang adeknya tapi kalo di belakang ogah banget.” tutur Luciana.
“lo bilang di jodohin?” tanya Lianna yang hanya di jawab anggukan oleh Luciana karena sedang minum.
“kayaknya masih ada kesempatan gue buat misahin mereka berdua dan Jackson akan menjadi milikku.” Diam-diam ia tersenyum licik sambil sesekali melirik Luciana.
-BERSAMBUNG-