
Halo semuanya…
Semoga kalian suka sama tulisan aku ini.
Jangan lupa Like, Comment dan juga Votenya agar aku semakin bersemangat menulisnya.
Dan Jangan lupa tekan Favorite supaya kalian gak ketinggalan update-an terbarunya.
Selamat membaca.
.
.
.
Vina menyandarkan kepalanya di bahu Jackson sambil mengelus dada bidang Jackson. “sayang nanti jadi kan kita pergi kencan? Aku gak sabar deh ngabisin waktu berdua sama kamu”
“hari ini gue gak bisa. Gue lagi gak mood kemana-mana” ucapnya dengan nada malas.
“ya udah kalo kamu gak mau. kita kerumah aku aja ya. Sepi gak ada orang” bisiknya menggoda di telinga Jackson.
Bukannya tergoda, ia malah merasa geli bahkan jijik dengan wanita yang menyandang status kekasihnya itu.
“Kalo gue bilang gak ya gak. Lo sengaja bikin gue emosi ha…” Jackson sudah mulai emosi.
“iiiih jangan marah-marah gitu dong sayang. Kita kan jarang ketemu apa lagi jalan berdua. Mau ya?” ia mencoba rayu kekasihnya sekali lagi dengan bergelayutan manja di lengannya.
“sekali lagi gue denger lo ngomong. Gue putusin lo sekarang” seketika Vina langsung bungkam.
Tanpa menghabiskan waktu lebih lama, Jackson menghempaskan tangan Vina dan langsung melangkah pergi meninggalkan teman-temannya dan Vina cs.
Melihat temannya sudah tidah tidak ada lagi, tawa empat sekawan itu tiba-tiba pecah sampai-sampai Luciana menitihkan air mata.
“hahaha Vina..Vina… kasian banget hidup lo. gak di peduliin sama pacar sendiri.” Ejek Luciana.
“eh bukannya gak di peduliin tapi emang gak dianggep. Seperti pacaran berasa gak punya pacar. Selalu sendiri.” timpal Yasmin.
BRAK
“bisa diem gak lo semua. Berani lo semua sama gue” ucapnya galak.
“orang-orang kayak mereka gak bisa di kasi omongan Vin. Lebih baik kasi dia pelajaran” usul Yana.
“pelajaran? Pelajaran matematika apa fisika ha?” ucap Yasmin dengan nada meremehkan.
“wah bener-bener ngajak ribut mereka. Gak usah ditahan hajar aja sekarang.” seru Jessica.
“kenapa? Mau mukul, silahkan. Tapi gue kasi tau lo sesuatu. Sedikit aja ada goresan di tubuh gue. Hidup lo pasti gak akan tenang” ancam Luciana dengan senyum devil di wajahnya.
“lo pikir gue takut” baru saja Vina mau menampar Luciana, tangannya sudah di pegang Demian.
“jaga batasan lo Vina. Inget baik-baik. Mereka berdua sahabatnya Jackson. Kalo lo berani apa-apain mereka, bukan hanya gue dan Leon yang akan bikin perhitungan ke elo tapi juga Jackson” ujarnya pelan tapi penuh ancaman.
Setelah mengatakan itu, ia langsung menghempaskan tangan Vina kasar lalu melangkah pergi yang disusul dengan Leon, Luciana dan juga Yasmin.
“arrgghh… mereka gak bisa dibiarin. Gue bakal bales mereka semua. Arrgghh.” Vina mengacak-ngacakkan rambutnya frustasi.
.
.
.
Ke esokan harinya.
Pagi-pagi sekali Helena sudah di sibukkan dengan pekerjaannya. Karena saking sibuknya, ia tak menyadari kalau seseorang sedang berdiri di depan mejanya menatap Helena lekat sambil membawa nampan yang berisi makanan dan segelas air.
“apa kau sudah makan, Helena?” suara itu mampu menyadarkan Helena dari pekerjaannya.
“astaga om ngagetin aja. kenapa gak ngetuk pintu sih. untung aja Helena gak ada riwayat sakit jantung” seru Helena.
“om sudah ngetuk berkali-kali tapi kamu gak denger-denger. Kamu udah makan? Ini om bawain kamu bubur ayam” ia langsung menyingkirkan dokumen-dokumen yang berserakan di meja Helena lalu meletakkan makanan tersebut.
“makasi ya om. Tau aja Helena belum makan.. hmmm ini enak banget om.” Helena langsung menyuap makanannya ke dalam mulutnya.
-BERSAMBUNG-