
AYOOO... AYOOO... AYOOO... Kesayangannya Author.
Jangan bosen-bosen buat Like, Comment, dan juga VOTE-nya ya...
Sekalian tekan Favorite supaya kalian gak ketinggalan update-an selanjutnya.
Selamat membaca.
.
.
.
Sepuluh hari sudah Jackson menjadi pembantu Helena dan setiap harinya laki-laki tersebut di buat mati berdiri olehnya. Bagaimana tidak, di awal-awal bekerja ia mendapatkan tugas biasa seperti pembantu atau pelayan di luar sana tapi beberapa hari terakhir ini benar-benar sebuah cobaan yang luar biasa.
Membersihkan kolam berenang menggunakan sikat gigi, mengepel satu apartment tiga kali sampai mengkilap, menghitung berapa banyak beras yang ada di dalam 1kg ( yang pastinya ini sangatlah mustahil ) dan yang terahir adalah….
“WAAAA!!!” baru saja beberapa langkah memasuki apartment Helena, Jackson di buat ketakutan setengah mati melihat sesuatu.
“ke… ke… kenapa lo bawa ada yang begituan di sini” ucap Jackson lirih sambil menunjuk di sebelah kaki Helena.
Dengan wajah datar, Helena melihat ke bawah lalu memberi kode untuk beranjak. Tanpa di perintah dua kali ia langsung berjalan ke arah Jackson yang sontak saja membuat laki-laki tersebut berjongkok ketakutan. Ya, yang ingin mendekati dia saat ini adalah Mia.
“too… tooo… tolong gue.” Dengan suara gemetar dan nyaris tak terdengar, ia berusaha meminta bantuan.
Helena menepuk jidatnya pelan lalu lalu mengusap wajahnya kasar. “gak usah lebay deh. Orang dia jinak kok. Bahkan dia juga ngerti bahasa manusia”
“kenalin ini namanya Mia, adek gue dan gue mau lo ngurusin dia hari ini. Babysistternya hari ini lagi cuti dan gue gak bisa nemenin dia soalnya gue ada banyak kerjaan. Jadi gue minta tolong ya.” lanjut Helena.
“lo bener-bener cewek stress. Masa lo kasi gue kerjaan kayak gini sih. gimana kalo gue di terkam” teriak Jackson ketakutan.
“kan udah gue bilang dia tu jinak dan lagian lo gak mungkin di terkam kok sama dia. Dia tu buaya betina doyannya sama jantan apalagi ganteng. Bener gak Mia?”
Ngah… Ngah…
Iya membuka mulutnya sambil menggerakan ekornya kiri-kanan dengan semangat menyatakan kalau itu benar.
“lo liat sendiri kan. Dia tu suka sama lo dan gak mungkin lo di apa-apain. kalo masih gak percaya, sini tangan lo”
Dengan persaan takut, ia menerima uluran tangan. Jackson mengira gadis itu mau menolong dia untuk bangkit berdiri tapi ternyata tangannya di bawa ke atas kepala Mia. Sontak saja matanya membulat dan ingin merteriak. Namun, beberapa saat kemudian ia menyadari tidak ada pergerakan buaya itu menyerang, malah ia melihat Mia sangat menikmati sentuhan di kepalanya.
Helena melepaskan tangannya, membiarkan laki-laki itu berinteraksi sendiri dengan Mia. “lama kelamaan lo bakal terbiasa kok sama dia.” serunya
Seperti anak-anak mendapatkan mainan baru, begitulah yang di lihat Helena saat ini. Awalnya dia sedikit ragu menyerahkan Mia padanya tapi karena tidak ada yang bisa menjaganya, mau tak mau ia harus mendekatkan adik ‘kecil’ nya dengan Jackson.
“karena semua udah aman jadi gue tinggal dulu. tugas lo cuma mandiin dia, ajak main jangan lupa suruh dia tidur siang. makanannya udah gue siapin di dapur.”
.
.
.
Hari ini adalah hari yang sangat istimewa dan menyenangkan karena untuk pertama kalinya ia merawat binatang buas yang bisa saja sewaktu-waktu akan menggigit tapi berbeda dengan Mia, hewan yang penurut dan juga pintar sehingga dia tidak terlalu kesulitan.
Selesai menidur siangkan Mia, Jackson bingung mau melakukan apa di apartment besar ini. bisanya ia di suruh beres-beres rumah tapi kali ini ia hanya tiduran di sofa ruang tamu.
Bosan sendirian, ia beranjak dari sofa lalu melangkah menuju ruang kerja Helena yang tidak jauh di sana. Dengan sedikit ragu ia mengetuk pintu lalu membuka pintu sedikit, memasukan kepalanya saja.
“boleh gue masuk?”
Helena melihatnya sekilas lalu kembali fokus pada komputernya. “masuk aja”.
Dengan langkah girang, laki-laki tersebut masuk lalu duduk di kursi di depan meja Helena. Ia sibuk melihat-lihat sekitar ada banyak sekali buku tebal di sana bahkan tak ada satupun yang ia mengerti.
Penasaran dengan itu, ia beranjak lalu mengambil salah satu dan mencoba membacanya. Ternyata buku itu adalah buku tentang kesehatan. Ia meletakan kembali ke asalnya lalu duduk di kursi tadi.
“lo sibuk ngapain sih?” dari tadi Jackson penasaran apa yang di kerjakan Helena dari tadi.
“oh… ini gue ngerjain tugas kampus. Minggu depan udah harus di kumpulin” sahutnya tanpa melihat Jackson.
“lah. Katanya minggu depan ngapain ngerjain sekarang?” Tanya Jackson bingung.
Helena berhenti mengetik lalu menatap Jackson sambil mengangkat alisnya sebelah. “bukannya lebih bagus di kerjain sekarang kan?”
“ayolah Helen. Kita ini masih muda, masih punya banyak waktu buat ngerjain tugas dan sekarang waktunya bersenang-senang. Jangan terlalu kaku kayak orang dewasa” seru Jackson.
Helena melepas kaca matanya lalu menopang kepalanya dengan tangannya di atas meja. “Jack, konsep pemikiran lo tentang dewasa itu salah.”
Sekarang giliran Jackson yang mengangkat alisnya sebelah. “maksud lo?”
“Jack, menjadi orang dewasa bukan di lihat dari kita bekerja tapi dari perilaku dan lo bilang gue sia-sia in masa muda gue, jawabannya salah. Karena menurut gue lebih baik gue susah di awal dan bersenang-senang di akhir, bukan sebaliknya. Kita bersenang-senang lalu berpusing ria gitu? Malah hiburan yang lo bangga-banggain itu jadi sia-sia.”
“dan satu lagi, lo tadi bilang ‘waktu kita masih panjang’? kita manusia bukan Tuhan yang tau kapan kita akan mati dan kapan kita hidup lagi.” Jelas Helena tenang.
“ok… ok… gue paham sekarang. tapi gue gak butuh konsep hidup kayak gitu karena semua sudah ada di genggaman gue tanpa harus bekerja keras seperti lo dan perlu lo tau harta keluarga gue gak akan abis tujuh turunan. Jadi gue tinggal terima beres aja” ucap Jackson dengan senyum meremehkan.
-BERSAMBUNG-