
Sebulan sudah berlalu semenjak insiden air pel itu. Hubungannya dengan teman-temannya sudah membaik termasuk dengan Luciana, ia sudah menyadari kesalahannya setelah merenung lama dan Luciana menerima permintaan maafnya.
Ini adalah salah satu momen yang sangat langka tentunya. Seorang Jackson Alexander Bernadette untuk pertama kalinya meminta maaf bahkan secara langsung padahal sebelum-sebelumnya dia paling anti yang namanya minta maaf atau ‘sorry’.
Bukan hanya pada Luciana ia minta maaf tapi ia juga ingin minta maaf dengan Helena yang sangat di sayangkan itu tidak pernah terjadi. Pasalnya setelah insiden tersebut, Helena tidak pernah lagi muncul di kampus atau dimanapun. Ia selalu absen pada jam mata kuliahnya dan yang lebih parahnya lagi Luciana juga tidak tau kemana adiknya berada bahkan berkomunikasi saja tidak pernah.
Semakin hari semakin besar penyesalannya apalagi Helena pergi dengan keadaan emosi. Benar-benar seperti ada bongkahan batu yang menganjal di dalam hati. Ingin mencari gadis itu tapi dia tidak tau harus cari kemana bagaikan hilang di telan bumi.
“Luc bener-bener gak tau adek lo kemana?” Tanya Jackson lirih.
Luciana menghembuskan napasnya berat dan lalu berkata. “gue berani sumpah, gue gak tau. Gue udah cari dia di apartment bahkan di tempat kerjanya gak ada.”
“terus gue harus cari dimana” laki-laki itu mengacak-ngacakkan rambutnya frustasi lalu menundukan kepalanya di meja. Tentu saja pemandangan seperti ini juga sangat langka untuk mereka bahkan Yasmin terkekeh geli sendiri sambil merekamnya dengan ponsel untuk di jadikan kenang-kenangan.
“udahlah jangan terlalu di pikirin. Siapa tau dia lagi sibuk” ucap Demian yang baru datang dengan membawa dua mangkok bakso.
“nih makan dulu” Demian menyerahkan salah satunya.
Jackson dengan berat hati menegakkan tubuhnya lalu mengaduk-ngaduk bakso tersebut tanpa nafsu sama sekali. semua teman-temannya memandang heran kelakuan Jackson yang selalu aneh akhir-akhir ini. Sering melamun, tidak bersemangat, nafsu makan hilang bahkan kalau di ajak main atau nongkrong dia selalu menjawab ‘males’.
“elo segitu nyeselnya sama Helen sampai-sampai lo gak mau makan kayak gitu?” Tanya Yasmin hati-hati.
“entahlah” sahut Jackson sekenannya bahkan tidak menoleh sedikitpun.
“lebih baik lo makan dulu, jack. Biar lo gak sakit. Nanti deh gue coba Tanya sama asistennya, mungkin aja dia tau di mana Helen” bujuk Luciana.
“beneran lo?” Tanya Jackson dengan mata yang berbinar-binar.
Dengan seketika laki-laki itu kembali bersemangat dan langsung memakan baksonya dengan lahap tanpa menyadari teman-temannya menganga melihat kelakuannya seperti anak kecil yang baru saja di belikan permen.
“eh asisten? Emangnya adek lo kerja apaan sampek punya asisten segala?” Tanya Leon setelah sadar.
“jangan kepo lo, cendol. Gue siram lo pakek kuah seblak gue baru tau rasa” sahut Luciana galak.
“yee.. baru nanya dikit udah ngegas aja” gumam Leon pelan dengan wajah cemberut.
.
.
.
Di tempat lain.
Seorang gadis dengan kaki kanan yang masih di gips dan mengenakan tongkat sedangan berjalan memasuki apartmentnya lalu duduk di sofa ruang tamu bersama Dewa dan juga Satria.
“kamu duduk dulu di sini. Om ambilin minum dulu buat kamu. nanti baju kamu, om suruh pelayan buat beresin” ujar Satria yang di jawab anggukan saja.
Setelah Satria pergi kedapur, dewa mendekatinya dan berkata. “lo beneran gak papa Len. Lo kan masih sakit. Gak seharusnya lo keluar dari rumah sakit secepet ini” Dewa benar-benar khawatir dengan keadaan gadis itu yang tidak lain adalah Helena.
“gue gak papa. Lo kan denger sendiri kata dokter bilang gue udah boleh pulang tanpa ada perintah sedikitpun dari gue” sahutnya sambil tersenyum tipis untuk meyakinkan Dewa.
-BERSAMBUNG-