LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 52



“lo beneran mau jual gue ke tante-tante?” tanyanya tak percaya.


“ya iyalah kalo lo gak berguna buat apa gue pertahanin. Lebih baik di jual terus uangnya bisa buat beliin Mia makanan”


“lo bener-bener keterlaluan. Dasar gak punya hati. Gak punya perasaan” teriak Dewa kesal.


“sudah, gak usah teriak-teriak kayak gitu. Untung apartment ini kedap suara kalo gak bisa di arak sama tetangga.” Kata Satria sambil tiga gelas juice jambu di meja dan beberapa cemilan lalu duduk di salah satu sofa.


“ini semua salahnya Helena, om. Dia duluan yang ngajakin ribut” adu Dewa sambil menunjuk Helena yang sedang menikmati juicenya.


“ini bukan salahnya dia tapi salah kamu. bener kata Helena tadi, kamu itu sudah besar bukan anak kecil yang harus di ingetin terus soal tanggung jawab. Kamu direktur di perusahaan jangan males-malesan lalu seenaknya nyerahin


tugas yang seharusnya kamu sendiri yang kerjakan. Iya kalo kerjaannya bagus, kalo gak bisa-bisa perusahaan kita bangkrut karena kamu lalai. Jadi contoh yang baik sebagai seorang bos.” Nasehat Satria.


“tuh dengerin jangan Cuma masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Beneran gue jual baru lo nyadar” seru Helena.


.


.


.


Seorang gadis berlari tergesah-gesah menyusuri koridor kampus. Ia mencari seseorang di mana-mana tidak menemukan orang tersebut hingga akhirnya ia menemukannya di taman kampus sedang duduk di bawah pohon bersama teman-temannya juga kekasihnya.


“hosh.. hosh… hosh… kalian. Gue cariin kemana-mana ternyata kalian semua ada di sini” ucap Luciana yang ngos-ngosan.


“lo kenapa Luc? Kayak habis di kejer maling aja.” kata Demian.


Tanpa menjawabnya, Luciana langsung duduk menyeder di pohon lalu meminum minuman di hadapannya tanpa tau siapa yang punya.


“woy itu minuman gue, onta” seru Vina.


Setelah isi botol itu habis, ia berkata. “apain sih lo pelit amat jadi orang. Nih gue balikin, gak jadi gue minta dasar perhitungan”


“aiish.. isinya udah abis ngapain lo kembaliin. Dasar maling” saking kesalnya ia melempar botol tersebut.


“ya udah gak usah marah-marah. Nih gue balikin” ujar Luciana yang sudah siap-siap memuntahkan isi perutnya di hadapan gadis itu


“gak usah. Sana pergi jauh-jauh dari gue. Jijik banget gue liat lo.” Vina langsung mendorongnya kembali ke tempat semula.


“oh iya hampir aja gue lupa. Jack, gue udah tau keberadaan Helen di mana” seketika semua melihat kearahnya dengan mata melotot sedangkan Vina cs menatapnya bingung.


“di mana dia sekarang. Di sini?” Jackson melirik kiri kanan mencari sosok yang di bicarakan.


“eh bukan… bukan… dia gak ada di sini. Dia ada di apartmentnya” ujar Luciana yang membuat laki-laki itu langsung bangkit berdiri lalu berlari tanpa memperdulikan teman-temannya menatap bingung dan beberapa saat kemudian, Jackson kembali berlari kearah mereka.


“gue lupa. Apartnya di mana?”


“astaga. Jack.. Jack… makanya kalo orang ngomong tu di denger dulu jangan main lari aja. duduk lo. capek leher gue liat keatas”


Ia kembali duduk di tempatnya tadi tanpa bantah tanpa protes seperti anak anjing yang mengikuti perintah pemiliknya.


“ya udah buruan ngomong di mana alamatnya” seru Jackson.


“kita gak bisa ke sana sekarang kan ada jadwal kuliah sekarang. Nanti sore kita ke sana, gue juga penasaran ke mana dia ngilang sebulan ini” kata Luciana yang membuat Jackson tadinya semangat sekarang lesu.


“emangnya lo dapet info dari mana” Tanya Demian yang penasaran pasalnya selama sebulan ini Luciana selalu menjawab ‘tidak tau’ keberadaan adiknya dan sekarang tiba-tiba ia mengetahuinya.


“gue tempelin tu sekertarisnya. Dari berangkat kerja, nungguin dia meeting, makan siang sampai pulang, bahkan gue rela-relain berdiri di depan rumahnya tengah malem sambil hujan-hujanan. Kalo bukan karena Jackson ngerengek terus gue ogah kehujanan”


“dan perjuangan gue gak sia-sia. Dia akhirnya buka mulut. Dia bilang Helen baru pulang ke apart-nya kemarin.” Semua melongo mendengar cerita Luciana.


“kasian banget tu orang. Harus di tempelin sama lo seharian” seru Leon lirih.


“sayang, kok kamu nyariin cewek bar-bar itu sih. gak penting banget. Lebih baik kita jalan-jalan berdua, ke bioskop, pantai atau kemana kek” ujar Vina sambil bergelayutan manja di lengan Jackson.


Jackson melepaskan rangkulannya sedikit di paksa lalu berkata. “ada yang gue perlu omongin sama dia jadi buat hari ini lo jalan-jalan sama temen-temen lo.”


“gak… aku gak mau. aku mau ikut sama kamu. takutnya kamu di rayu sama dia terus kecantol”


“eh… badut comberan. Wajarlah si Jackson kecantol sama Helen, gak perlu harus kegatelan kayak lo. dia lebih dari segalanya dari lo. cantik, pinter, body seksi, kaya bahkan bisa di katakana sempurna. Sedangkan lo, apanya mau di banggain? Punya lo yang longgar itu? jelas gue ogah ya gak Dem” Demian mengangguk membenarkan perkataan Leon.


“lebih baik lo pikirin diri lo sendiri. Kan bentar lagi masa kadaluarsa lo jadi mulai sekarang lo cari pelanggan baru” hina Demian.


-BERSAMBUNG-