
AYOOO... AYOOO... AYOOO... Kesayangannya Author.
Jangan bosen-bosen buat Like, Comment, dan juga VOTE-nya ya...
Sekalian tekan Favorite supaya kalian gak ketinggalan update-an selanjutnya.
Selamat membaca.
.
.
.
Setelah semua teman-teman Jackson datang menjenguk dan membuat kehebohan seisi kamar VVIP, sekarang hanya tinggal Helena dan Jackson yang ada di sana.
Suasana begitu hening, memuat kedua orang ini hanyut dalam pemikiran mereka masing-masing. Walaupun mereka berdekatan dan sesekali Jackson memberikan jeruk yang sudah di kupas untuk Helena tetapi mereka sama-sama bungkam.
Tiba-tiba Helena meningat sesuatu lalu segera mengambil sebuah amplop putih di laci nakas sebelah tempat tidurnya. “nih” gadis itu menyerahkan amplop tersebut pada Jackson.
Laki-laki itu mengernyitkan dahi bingung tapi tetap mengambilnya. “ini apa?” ia mencoba melihat isi benda tersebut.
“itu gaji lo selama lo jadi pembantu gue. Sekalian bonus karena lo udah ngejagain Mia.”
“ngapain lo ngasi beginian kan gue kerja sama lo sebagai permintaan maaf. Terus ngapain lo kasi gue uang? Nih gue kembaliin. Gue gak butuh”
“udah ambil aja” helena mendorong kembali amplop tersebut. “gue tau kok kalo uang jajan lo di potong bonyok lo. makan minta di bayarin Demian sama Leon, tiap ke kampus atau ke apart gue selalu naik taksi. Boros tau gak. Seharusnya tu lo naik bus kan lebih hemat.”
“jadi lo ngasi gue ini karena lo kasian sama gue ha?” suara Jackson mulai sedikit meninggi.
Gadis itu menepuk jidatnya pelan lalu berkata. “ya ampun Jackson, bukan itu maksud gue. Gue ngasi lo ini karena ini adalah hasil kerja keras lo. lo berhak nerima ini semua, ya walaupun gak seberapa di bandingkan baju branded lo tapi setidaknya lo bisa ngerasain uang yang lo hasilin sendiri tanpa harus minta ke bonyok.”
“coba deh lo belajar menghargai sesuatu dan berusaha keras pasti sensasinya akan beda di bandingin uang yang selama ini lo hambur-hamburin di luar sana. Jadi gak ada alasan lo nolak ini” jelasnya panjang lebar.
Seketika Jackson tertegun mendengarnya. Memang ini pertama kali ia menerima uang dari hasilnya sendiri ya walaupun ia tak menyadari sebelumnya. Tetapi ia juga sedikit gengsi untuk mengambil uang tersebut, secara dia adalah anak dari orang terkaya di sini.
“udah ambil aja gak usah kebanyakan mikir lagi deh” Helena merampas amplop tersebut lalu memasukkannya ke dalam tas Jackson.
“ya udah makasi” ujarnya kikuk.
“oh ya satu lagi. Lo gak usah dateng lagi ke apart soalnya besok gips gue udah bisa di buka dan sekalian pulang dari sini.” Tutur gadis itu
Tentu saja itu membuat dia sedikit terkejut antara senang dan juga sedih. Ia senang karena tidak perlu merasa tersiksa bekerja bersama Helena tapi ia juga sedih harus berjauhan lagi dengannya. Padahal beberapa hari ini ia mulai nyaman dengan kehadiran Helena di dalam hidupnya.
Helena memalingkan wajahnya ke sembarang arah, berusaha untuk tidak termakan godaan yang ada di depannya itu. Pasalnya, Jackson memohon dengan puppy eyes yang mampu menggetarkan bongkahan es dalam dirinya. Namun pada akhirnya ia tidak bisa menolak lagi.
Sedingin-dinginnya dia, ia selalu suka dengan hal-hal yang berbau manis kecuali tentang cinta. Itu juga kenapa ia mudah menuruti kemauan kakaknya karena Luciana selalu merengek seperti anak kecil. Walaupun ia suka tapi pada akhirnya ia akan mengutuk dirinya sendiri yang begitu lemah.
.
.
.
Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, Helena sudah di perbolehkan pulang tetapi bukan ke apartmentnya melainkan ke mansion keluarga Damara.
Kenapa bisa seperti ini? tentu saja ulah dari kakaknya yang memiliki mulut yang suka ceplas-ceplos sehingga pada tengah malam daddy dan mommy membuat keributan di rumah sakit. Akhirnya ia menuruti untuk pulang bersama mereka untuk sementara sampai kedua orang tua angkatnya itu tenang melepas dia.
TOK. TOK. TOK.
Mendengar sahutan dari pemilik kamar, pria paruh baya itu membuka pintunya lalu masuk menghampiri gadis yang duduk di meja belajar.
Ia meletakkan semangkuk buah-buahan yang sudah di potong dan segelas susu. “kau sedang apa sayang?”
“daddy? Tumben bawain aku cemilan, biasanya mommy. Ini aku lagi email dari Julia.” Ujar Helena.
“apa masih lama?”
Dari nada suaranya, Helena langsung mengerti kalau ada suatu hal yang serius. Ia segera menggelengkan kepalanya lalu bangkit berdiri, mengajak Johan untuk duduk di sofa.
“ada apa dad? Sepertinya ada hal yang serius.”
“bukan sesuatu yang penting tapi daddy mau nanya satu hal. Kamu kenal dengan Logan? Logan Alexander Bernadette.”
“tuan Bernadatte? Tentu saja. Dia kan orang yang sangat terkenal.”
“bukan itu tapi kenal secara pribadi.” Imbuh Johan.
Helena mengubah duduknya menghadap Johan. “dua tahun lalu, aku lagi dalam perjalanan menuju markas tiba-tiba asistennya tuan Bernadette ngehadang mobil aku. Ya langsung dong aku ngerem mendadak.”
“dia mohon-mohon sama aku buat bantu dia nyelametin tuan Bernadette lagi di keroyok sama orang. Sebenernya sih aku males dad tapi ngeliat pas ngeliat dia, aku jadi gak enak sendiri.” Lanjutnya.
“terus kamu berantem gitu?” Johan membulatkan matanya
-BERSAMBUNG-