
AYOOO... AYOOO... AYOOO... Kesayangannya Author.
Jangan bosen-bosen buat Like, Comment, dan juga VOTE-nya ya...
Sekalian tekan Favorite supaya kalian gak ketinggalan update-an selanjutnya.
Selamat membaca.
.
.
.
Seumur hidupnya ini pertama kalinya dia naik ojek yang tentu saja membuat laki-laki tersebut merasakan panasnya terik matahari dan juga polusi udara di mana-mana.
Dia bisa saja beralih menggunakan taksi tetapi kata-kata Helena waktu itu selalu terngiang dalam pikirannya. Rasa memiliki uang sendiri sangat berbeda dengan uang yang dia terima cuma-cuma sehingga membuatnya enggan menghabiskan uang tersebut dalam kurun waktu singkat.
Sosok Helena benar-benar sudah mempengaruhi setiap aspek hidupnya termasuk juga hatinya ini. awalnya ia pikir hanya sebuah rasa penasaran saja tetapi semakin kesini ia menyadari kalau dirinya sudah jatuh cinta pada gadis yang memiliki mulut pedas itu.
>> back to topic.
Ojek yang ia tumpangi berhenti agak jauh dari kampus. Ia sengaja melakukannya agar tidak ada seorangpun yang mengetahui jika seorang Jackson ke kampus naik ojek, bisa-bisa citranya langsung anjlok begitu saja.
Dengan gaya seperti sedang shoting film mata-mata, Jackson melangkah menuju gedung kampus. Memang ia tidak di lihat oleh mahasiswa kampus namun perbuatannya itu malah mengundang perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di sana. Masa bodo, itulah Jackson. Ia benar-benar tak peduli pada mereka yang terpenting saat ini ia aman sampai kampus.
Tetapi langkahnya terhenti melihat mobil yang ia kenali berhenti di depan gerbang kampus. Ya, mobil itu adalah mobil Helena. Namun bukan itu yang membuatnya terpaku di tempat melainkan seorang laki-laki paruh baya keluar dari kursi kemudi lalu mengitari mobil tersebut dan membukakan pintu bagian belakang. Ternyata ia membukakan pintu untuk Helena.
Beberapa saat mereka saling berbicara setelah itu laki-laki paruh baya tersebut mencium pipi kiri dan kanan Helena dengan mesra lalu pergi dari sana. Cemburu? Tentu saja Jackson cemburu melihat wanita yang di suka berdekatan dengan laki-laki lain apalagi laki-laki tua tadi.
“Helen” panggil Jackson sedikit berteriak lalu mendekatinya sebelum gadis itu beranjak dari sana.
“kenapa?”
“kenapa lo ada di sini? Emangnya lo gak bawa mobil apa?” tanyanya pura-pura tidak tau.
Gadis itu berjalan beriringan dengan Jackson sambil berkata. ”buat sementara gue gak bawa mobil dulu karena bonyok gue gak mau gue kenapa-napa di jalan jadinya gue di sopirin sama asisten gue deh.”
Seketika Jackson mengumpati dirinya sendiri dalam hati karena sudah berpikir tidak-tidak tentang Helena apalagi dulu ia pernah mengatai laki-laki tersebut sebagai ‘sugar daddy’ nya. Bodoh? Iya, dia merasa jadi orang yang paling bodoh di dunia ini.
“oh… gitu. Terus kalo yang di rumah sakit itu siapa?”
“Dewa maksud lo? dia itu temen sekaligus rekan kerja gue.”
“temen kok bebas keluar masuk apart lo” cibir Jackson.
“dia bukan sekedar temen Jack tapi rekan kerja khusus yang gak bakal lo ngerti.” Bela Helena.
.
.
.
Di kantin kampus, Helena sibuk berkutik dengan laptopnya bahkan tak menyadari jika kakak beserta teman-temannya menghampiri mejanya.
“Len lo lagi ngapain?” Tanya Yasmin sambil melirik laptop Helena.
“lagi meriksa file buat meeting nanti. Itu kak Luci kenapa lemes kayak gitu?” ucap Helena yang sekilas melihat Luciana menaruh kepalanya di atas meja.
“biasa. Tadi itu ada kuis dadakan terus dia gak bisa jawab.” Sahut Leon sambil terkekeh yang di hadiahin pukulan dari Luciana.
Seketika tangan Helena berhenti menari di atas keyboard lalu pandangannya beralih pada Jackson yang baru saja mendudukan bokongnya tepat di depannya. “mana hasil ujian lo?” todongnya.
Demian, Leon, Yasmin dan Juga Luciana mengernyitkan dahinya bingung bahkan mereka semakin bingung melihat Jackson dengan sukarela memberikan kertas tersebut pada Helena.
“eh… eh… eh… apa-apaan nih. Jangan bilang lo berguru sama Helen ya?” pekik Luciana.
“kalo iya kenapa?” sahutnya santai.
“apa bener ini Jackson yang gue kenal atau ini Cuma Jackson kw?” seru Yasmin tak percaya.
“tumben lo belajar, bos. Biasanya juga ogah buka buku.” Cibir Leon.
“kayaknya temen kita satu ini alih propesi dari playboy kelas kakap jadi anak kutu buku.” Ledek Demian.
Jackson tidak menghiraukan apa yang di katakana mereka, ia hanya fokus pada Helena. “gimana? Bagus gak?”
“lumayan juga. gak sia-sia gue ngajarin sampek tenggorokan gue sakit.”
“kan udah gue bilang. Gue itu sebenernya pinter__”
“tapi cuma males lo yang gak ketulungan” dengan cepat Helena memotong perkataan Jackson.
“Len kok cuma Jackson aja yang di ajarin. Kita-kita juga mau dong” ujar Demian yang tentu saja di tanggapi teman-temannya dengan mata memelas.
“gue bisa aja sih ngajarin kalian tapi sesekali kalo Jackson itu gue udah telanjur janji sama dia.” seketika mereka semua tertunduk lesu sedangkan Jackson tersenyum dengan penuh rasa kemenangan.
-BERSAMBUNG-