LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 74



Berhari-hari keluarga Jackson mencoba mencari bukti-bukti lain untuk membalikkan keadaan tapi mereka harus menelan pil pahit. Kelakuan Jackson di luar sana bukan hanya membuatnya semakin terperosot tetapi juga rasa kecewa dari keluarnya.


 


Ia benar-benar menyesali perbuatannya di masa lalu bahkan menghancurkan masa depannya bersama Helena. Mengingat Helena, gadis itu menghilang bagaikan di telan bumi. Di perusahaan, mansion dan tempat-tempat yang sering di kunjungi mereka, Helena tetap tidak ada bahkan keluarganya juga tidak tau di mana dia sekarang karena gadis itu sengaja memutuskan komunikasi terhadap semua orang.


 


Jackson harus berbuat apa. bukti-bukti untuk menjatuhkan Vina, ia tak punya dan wanita itu setiap hari meneror mengingatkan batas waktunya semakin dekat.


 


“Jackson sebaiknya kamu istirahat dulu. kamu sudah berhari-hari tidak tidur bahkan makan saja sedikit.” Tegur Logan.


 


“bagaimana aku bisa tidur pah. Setiap aku memejamkan mata wajah kecewa Helen selalu menghantui aku. Apalagi perempuan setres itu selalu mengancam aku dengan bukti-bukti itu supaya aku nemenin dia shooping.”


 


“iya… papah ngerti kok. Tapi kamu jangan sampai lupa kalo kamu besok akan menikah.”


 


Jackson tersentak mendengarnya. “apa Helen akan datang?” ucapnya sendu.


 


“dia pasti akan datang. Helena yang papah kenal adalah perempuan yang pintar dan juga tangguh. Dia tidak akan mengambil keputusan dengan gegabah dan dia tidak mungkin mudah menyerah begitu saja. Percaya sama papah.” Tegas Logan.


 


Laki-laki itu menganggukkan kepalanya pelan. “aku harap begitu. Baiklah aku kembali ke kamar dulu.”


 


Logan menatap sendu anaknya berjalan menaiki tangga. Sebagai orang tua tentu Logan sangatlah kecewa tetapi melihat keseriusan anaknya untuk memperbaiki diri, ia begitu senang.


 


Seketika Logan teringat sesuatu lalu merogoh ponselnya yang ada di saku celana. Ia mencoba menghubungi seseorang. “apa aku bisa kesana?” ucapnya to the point.


 


“anda begitu lama. Datanglah tengah malam. anda akan mendapatkan yang anda mau.” seseorang yang di seberang mematikan telponnya secara sepihak.


 


Sesuai yang di janjikan, pada tengah malam Logan pergi keluar dengan mengendap-ngendap tanpa di ketahui siapapun. Demi kebahagiaan dan masa depan anaknya ia rela memainkan peran maling di rumahnya sendiri.


.


.


.


Para tamu sudah banyak yang sudah berdatangan begitu juga kedua keluarga tetapi tidak dengan mempelai wanita. Ketidak hadiran gadis itu benar-benar menjadi bahan gossip yang menarik di kalangan para tamu. Pasalnya mereka datang kesini bukan hanya untuk memberikan selamat saja melainkan untuk melihat gadis yang baru-baru ini di beritakan menjadi ‘orang ketiga’


 


“pah. Helen gak bakal dateng.” Ucap Jackson lirih.


 


“dia dateng. Pasti dateng. Sudah kamu diam di sana, tunggu calon istri kamu dateng.” Seru Logan.


 


“dad. Apa Helen akan datang.” Bisik Merry sambil melirik kiri kanan mencari seseorang.


 


 


“tapi dad. Ini udah mau mulai tapi Helen gak muncul-muncul. Bisa-bisa kita di bikin malu di depan tamu” Luciana ikut nimbrung.


 


“kamu ini. seharusnya kamu pikirin bagaimana keadaan adek aku yang udah hilang bahkan gak ada kabar selama berhari-hari.” Tegur Johan.


 


“bener kata daddy kamu. adek kamu lebih penting dari mulut-mulut mereka semua.” Timpal Merry.


 


“iya… iya aku salah.”


 


Tiba waktunya acara pernikahan di mulai. Mempelai pria berjalan dengan gagah menuju altar terlebih dahulu. Raut wajahnya memang biasa saja tetapi hatinya begitu takut.


 


Sesampai di depan altar kini giliran mempelai wanita yang memasuki ruangan.


 


Laki-laki itu memejamkan matanya rapat-rapat dan mulutnya bergumam membaca doa. Ia benar-benar begitu gugup dan juga takut jika gadis itu tidak datang.


 


“Tuhan, aku tau aku banyak berdosa tetapi aku mohon padamu agar Helen bisa datang saat ini. hanya dia gadis yang bisa mengubah hidupku menjadi lebih baik dan berwarna. Aku mohon kabulkan doaku ini.” batin Jackson.


 


“apa kau tidak ingin melihatku.” Seketika laki-laki itu membuka matanya lebar-lebar lalu melihat ada seseorang di sampingnya.


 


“sayang.” Jackson ingin sekali memeluknya untuk meluapkan rasa rindu tetapi gadis di sampingnya memelototinya.


 


“jangan macem-macem. Lebih baik selesaikan ini semua dulu.”


 


 Laki-laki itu langsung teringat kalau mereka sedang berada di tengah-tengah acara pernikahan mereka. Tidak ada lagi ketakutan bahkan kecemasan di hatinya saat ini. ia begitu bahagia bahwa Tuhan masih mengasihi dia yang sudah banyak dosa ini.


 


Dengan suara tegas dan lantang Jackson mengucapkan janji sehidup semati begitu juga Helena. Setelahnya memasangkan cincin di jari manis pasangan lalu tanpa menunggu aba-aba laki-laki itu meraih tengkuk gadis yang baru saja menyandang status istrinya dan menciumnya dalam-dalam.


 


Semua tamu dan juga keluarga besar bersorak gembira melihatnya. Mereka bisa merasakan betapa cintanya Jackson dengan istrinya itu.


 


Selesai semua acara, Jackson menariknya menuju ke kamar hotel yang sudah di pesan untuk mereka nanti malam. laki-laki itu mengajak Helena duduk di pinggir kasur dan saling berhadapan.


 


-BERSAMBUNG-