LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 94



Maaf banget baru bisa update sekarang...


selamat membaca ya


.


.


.


Mungkin bisa di bilang Helena terlalu sombong bagi orang-orang pada umumnya, secara wanita itu di panggil ke ruang rector karena kasus di kelas tadi tetapi dia malah pergi dengan santainya ke kanti memberi makan cacing di perutnya dan ke dua bayi kembarnya.


Untuk hal-hal yang tidak penting seperti ini, lebih baik di serahkan pada Satria saja. Itulah yang ada di otak Helena.


“sayang, kamu mau apa?”


“aku mau nasi goreng, bakso, kebab sama minumnya es kelapa muda tiga.” Jawab Helena antusias.


“gila lo makan segitu banyaknya. Gak meledak apa tu perut?” ceplos Leon yang di hadiah jitakan oleh Jackson.


“sembarangan aja lo ngomong. Bini gue ini lagi hamil. Wajarlah dia makan banyak biar anak-anak gue sehat.”


Jackson beralih pada Helena sambil mengusap perutnya dengan lembut. “iya kan sayang?”


Helena hanya menganggukan kepala seperti anak kecil. Wanita satu ini benar-benar membuat Jackson gemas, tangannya tak tahan untuk mencubiti pipi Helena.


“APAAAA!! HAMIL?!!”


teriakan Leon, Demian, Yasmin dan juga Luciana menggundang perhatian semua orang termasuk Lianna yang baru saja datang menghampiri mereka. Tanpa permisi ia duduk di sebelah Luciana, lebih tepatnya di depan Jackson.


“serius lo hamil?” tanya Yasmin.


“siapa yang hamil?” Lianna tiba-tiba bertanya dengan menatap semuanya bingung.


“aaahhh… ini loh Helen. Lagi hamil katanya.” Sahut Luciana.


“apa!!” pekik Lianna tepat di telingan Luciana.


“kalo teriak jangan di kuping gue dong.” Ucap Luciana sedikit menggeram sambil mengusap telingannya.


“sorry… sorry… gue kaget soalnya. Masa masih kuliah udah hamil aja. nant__”


“emang apa salahnya hamil pas kuliah? Toh gue hamil anak su-a-mi gue, kenapa lo yang heboh.” Ketus Helena.


“kan…kan gue nanya doang.” Ucap Lianna sedikit terbata-bata.


“lo nanya apa ngehujat ha?”


Merasa suasana semakin memanas apalagi dari awal Helena terlihat tidak suka dengan kehadiran Lianna membuat Jackson berinisiatif untuk mengajak istrinya makan.


“mood makan aku udah ilang. Aku mau ke kantor aja.” helena mengambil tasnya dengan kasar lalu pergi dengan hati bersungut-sungut.


“aish… SAYANG. TUNGGU”


“sorry ya na. istri aku emang kayak gitu sama orang baru. Aku duluan ya.” ucap Jackson sebelum pergi mengejar istrinya.


“udah gak usah bawa ke hati. Si Helen emang gitu orangnya.” Ucap Yasmin.


“tapi dia keterlaluan banget. Kasian jadinya Lianna. Sabar ya na.” Luciana mengelus bahu Lianna mengiba.


.


.


.


“sayang… sayang… sayang… tunggu.” Jackson meraih tangan Helena setelah berhasil mengejarnya.


“kenapa sih marah-marah kayak gitu? Coba ngomong sama aku.” Ucap Jackson melembut.


Helena menarik tangannya lalu melipat tangannya ke dada dengan menatap tajam sang suami. “apa selama aku gak ada, kamu deket-deket sama dia?”


“kamu cemburu?”


“jawab aja pertanyaan aku.”


“ya… aku Cuma gini-gini aja sama dia. dia kan temen aku dari kecil, gak mungkin kan tiba-tiba aku nyuekin dia apalagi dia kan tinggal sendiri di Indonesia. Kasian dia, sayang.” Ujar Jackson dengan tenang.


Wanita itu menatap suaminya dengan penuh selidik, tidak ada kecurigaan yang ia dapati.


“oke… aku percaya. Tapi lain kali kalo aku liat dia nempel-nempel lagi sama kamu. awas aja, aku gak akan kasi jatah sebulan dan kamu tidur di luar.” Ancam Helena.


“yah… kok gitu sih, yang. Kemaren aja kamu ilang sebulan ‘adek’ aku rasanya karatan apalagi di tambah sebulan. Bisa-bisa gak bisa bisa ke pakek lagi. Jangan gitu dong sayang.” Rengek Jackson vulgar.


“makanya janji dulu jangan macem-macem.”


“iya… aku janji deh.” Ucap Jackson pasrah.


“bagus. Sekarang kita pergi kerestoran. Tiba-tiba aku mau makan pasta sama pizza.” Wanita itu dengan semangat menuju parkiran meninggalkan suaminya. Mood Helena langsung berubah drastis membuat Jackson menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.


-BERSAMBUNG-