
BAB 103
“baiklah. Aku ikut kamu pulang.”
Seketika raut wajah Jackson menjadi sembringah. Awalnya ia pesimis kalau Helena mau ikut pulang di tambah mertua yang tadi berusaha mengusirnya tapi untung saja itu semua tidak terjadi dan sekarang tinggal memikirkan bagaimana cara untuk minta ijin pada daddy Johan.
“hmm… tapi daddy__” seru Helena ragu.
“nanti kita bicarakan lagi. Sekarang kamu siap-siap gih, aku
akan bicara dengan daddy kamu dulu.” ucap Jackson meyakinkan Helena.
Helena sebenarnya tidak yakin Jackson bisa menyelesaikannya seorang diri tapi ia juga butuh bukti kalau laki-laki ini adalah suami yang bertanggung jawab.
.
.
.
Selesai mandi Helena sudah mendapati kamarnya kosong, itu berarti Jackson sedang menemui Johan. Seakan tak perduli, wanita itu dengan santai berjalan ke walk in closet dan mengambil semua dress dan sepasang pakaiaan dalam lalu menggunakannya. Setelah itu ia beralih ke meja rias untuk mempercantik diri.
Selesai berdandan pelan-pelan ia membuka pintu dan terdengar suara ke ributan dari lantai dasar. Ia sudah menduga semua ini akan terjadi. Ia berjalan menuruni tangga dan tinggal tiga anak tangga lagi untuk sampai ke lantai dasar, Helena malah bersandar pada pegangan tangga dengan kedua tangan di lipat di dada.
Dengan wajah datar, ia melihat suaminya yang tadinya sudah babak belur di pukul dan sekarang tersungkur dengan penampilannya semakin berantakan sedangkan Johan berusaha memukulnya lagi tetapi terhalang karena para pelayan memeganginya. Belum lagi Merry yang gemetar ketakutan melihat suaminya marah besar.
Tak beberapa lama Luciana masuk rumah terkejut melihat pemandangan tersebut dan segera mendekati Helena.
“ada apa ini?” tanya Luciana.
“dia mau ijin ke daddy buat bawa gue pulang.” Sahutnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya.
“dari kapan dia di sini?” Luciana ikut melihat ke arah keributan tersebut. Gadis itu memang tidak tau ada Jackson di rumahnya karna pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kampus untuk menyelesaikan tugas.
“tadi pagi.” Luciana ber-oh ria saja.
“tolongin gih, kasian dia di gebukin terus sama daddy.” Seru Luciana.
Helena melirik Luciana sekilas lalu kembali menatap ke depan. Ia sebenarnya malas ikut turun tangan tapi mau tidak mau ia harus mengakhiri ini semua sebelum suaminya mati di sini karna di pukulin mertua.
Wanita itu mulai mendekat dan mengkode pelayan-pelayan yang memegangi daddynya untuk melepaskannya. Mereka langsung menurut dan mundur beberapa dari sana.
“apa?” kata Johan yang masih menggunakan nada tinggi.
“ikut aku.” Helena menarik tangan daddynya pelan dan mengajaknya ke arah tangga, dekat Luciana berada.
“dad, aku mohon tolong ijinkan aku ikut pulang dengannya.” Bisik Helena.
“apa kamu gila. Kamu mau kembali ke rumah itu. tidak. Daddy tidak akan mengijinkan kamu kembali ke rumah itu apa lagi berhubungan dengan keluarga mereka.” Seru Johan.
“dad, aku harus melakukannya demi mengungkap kematian papah dan mamah. Kita udah semakin dekat dengan tujuan kita.” Tuturnya.
“apa maksudmu?” Johan mulai bingung.
“nanti aku jelaskan dad tapi yang terpenting sekarang adalah membiarkan Helen kembali ke rumah itu.” Luciana ikut angkat bicara membantu adiknya.
“kamu tau semua?” tanya Johan.
Luciana menggangukan kepala lalu berkata. “sekarang biarkan Helen Pergi.”
Dengan menghembuskan nafas berat, Johan akhirnya mengijinkan Helena kembali ke kediaman keluarga Bernadette. Ia sebenarnya tidak ingin Helena terlibat lebih jauh dengan keluarga itu tapi keadilan harus tetap di tegakkan. Dalang kematian saudaranya harus mendapatkan ganjarannya.
.
.
.
Jackson dan Helena akhirnya kembali ke mansion Bernadette dengan Helena yang mengemudikan mobil suaminya karena kondisi Jackson tidak memungkinkan untuk membawa mobil sendiri.
Helena memapah suaminya memasuki rumah tersebut tetapi kedatangan mereka di sambut dengan teriakan Lianna yang membuat semua orang yang sedang makan malam berlari mendekatinya.
“astaga Jackson kamu kenapa nak?” Logan meraih wajah Jackson yang sudah tidak karuan.
“ini pasti karna kamu kan. Makanya Jackson sampai seperti ini.” ucap Lianna menyalahkan Helena.
Logan beralih menatap Helena tetapi raut wajah wanita itu datar seperti tidak merasa bersalah sedikitpun.
“Lianna, kamu bantu Jackson ke kamarnya. Mamah, hubungin dokter Wahyu untuk kemari. Dan kamu Helen, ikut papah ke ruang kerja.” Titah Logan yang langsung di turuti semua orang. Helena akhirnya menyerahkan suaminya pada Lianna tapi mau gimana lagi ia juga harus berbicara dengan Logan.
-BERSAMBUNG-