
AUTHOR POV
Helena melajukan mobilnya ke area perhutanan. Hutan yang menjadi markas geng serigala putih yang ada di Indonesia. Marksa geng mafia ini juga ada di beberapa tempat di luar negri seperti Kanada, New York, London,
Korea Selatan dan Jepang. Setiap markas memiliki anggota lebih dari 500 orang termasuk Tim Hacker.
Mobil putih itu memasuki satu-satunya rumah seperti menyerupai istana yang berada di tengah hutan lalu memakirkannya di depan pintu utama sembarangan.
Melihat siapa yang datang, laki-laki bertubuh kekar bergegas membukakan pintu mobil. “selamat pagi ‘Black Rose’” ucap laki-laki itu sambil menundukkan kepala memberi hormat.
Tanpa menoleh sedikitpun, Helena melangkah kakinya sedikit cepat memasuki markas yang di ikuti oleh laki-laki itu. “bagaimana situasi saat ini?” Tanyanya.
“semua anggota kita sudah berkumpul di aula dan tentang tuan Bima masih belum di ketahui keberadaannya.” Tutur laki-laki itu sedikit gugup.
Helena menghentikan langkahnya mendadak dan sontak saja membuat laki-laki itu terkejut. “kalian semua benar-benar bodoh mencari pemimpin kalian saja tidak bisa apalagi nanti di kasi tugas besar. Bisa-bisa hancur kelompok kita ini” bentak Helena dengan menatap tajam laki-laki itu yang sedang menunduk dengan bercucuran keringat dingin.
Gadis itu menundukkan kepalanya sejenak berusaha meredakan emosinya lalu mengangkat kepalanya kembali. “sekarang dimana Dewa, Nathan?” ya laki-laki itu bernama Nathan, salah satu orang kepercayaannya yang ada di geng ini.
“tuan Dewa sedang berada di ruang IT, Black rose” sahutnya yang masih menunduk.
Helena langsung melangkah kearah lift yang ada di atas tangga ruang tamu meninggalkan Nathan yang berdiri di tempat. Dengan segera ia menekan tombol 3 dari bawah setelah memasuki lift.
Mungkin untuk orang awam akan bertanya-tanya kenapa ada dua tombol lantai 3 yang satunya berada di atas dan satunya di bawah, itu semua karena markas ini atau rumah ini punya ruangan bawah tanah yang hanya bisa di akses oleh orang-orang khusus termasuk Helena.
Lantai satu bawah adalah tempat senjata khusus yang di buat Helena dan Dewa yang tidak boleh di sentuh siapapun. Lantai dua adalah penjara dan ruang penyiksaan bagi para penghianat ataupun orang mencari masalah. dan lantai ke tiga adalah ruang IT untuk para Hacker.
Melihat pintu lift di hadapannya terbuka dengan segera ia keluar. Langkahnya terdengar sangat menggema di ruangan gelap dengan lampu LED berwarna biru di lantai seperti menunjukan arah untuk ia tuju.
BRAKK!!
Dengan kasar ia membuka satu-satunya pintu di sana mengejutkan orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut.
Mengetahui siapa yang datang, dengan tergesah-gesah mereka semua bangkit berdiri lalu menunduk memberikan hormat. “Black Rose” ucap mereka serentak.
Tanpa menjawab sapaan mereka, Helena langsung menduduki kursi kebesaran Dewa. Mereka yang melihat hal tersebut juga ikut duduk di kursi masing-masing, sedangkan Dewa sendiri hanya berdiri di sebelah Helena.
“bagaimana hasilnya?” Tanya Helena tanpa basa-basi.
“tadi kita mendapatkan lokasi kakak berada di Dubai tapi 5 menit yang lalu sudah berubah di Jerman” jawab Dewa.
“sekarang mereka ada di Roma, Black Rose” tambah salah satu hacker.
Helena terkekeh sejenak lalu berkata. “ternyata mereka ingin bermain dengan kita. Ok, ayo kita bermain” ucapnya menyeringai membuat orang-orang yang ada di satu ruangan itu merinding.
Gadis itu mengambil kaca matanya di dalam tas untuk ia gunakan. Setelah itu tangannya bergerak lincah di atas keyboard, memasukan kode-kode dengan sangat cepat bahkan tidak terbaca di mata orang biasa. Ya karena saking pintarnya sangat mudah bagi dia untuk mempelajari IT.
“Len, kenapa baju lo basah? Emangnya lo ngojek ke sini? Mana mobil lo?” Dewa berusaha mencairkan suasana yang tegang ini.
-BERSAMBUNG-