
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan!!
...^_________^...
Disebuah warnet ruang VIP, terdapat dua orang laki-laki berbeda generasi sedang bermain catur.
"Aku dengar dari ayahmu kalau kamu berencana membuka perusahaan mu sendiri." Kata lelaki yang sedikit lebih tua.
"Ya paman, aku memang punya rencana ini." Kata laki-laki yang lebih muda sembari meletakan anak catur tersebut.
"Di bidang apa?" Tanya pamannya tersebut.
"Aku akan mengembangkan dua permainan." Jawab Ravan yakin.
"Kalau ronde ini berhasil kamu menangkan, aku akan memberikan kamu sebuah hadiah." Jawab paman berjanji.
Akhirnya merekapun melanjutkan bermain catur yang sempat tertunda tadi, keduanya fokus untuk bisa mengalahkan satu sama lain.
...^_________^...
Sedangkan, diluar ruangan VIP Virra baru sampai di warnet yang ingin dia tuju dan menduduki salah satu kursi yang kosong dengan di hadapannya terdapat komputer yang menyala.
Virra membuka aplikasi game yang akan dia mainkan Solve Mission Mates dan masuk menggunakan akun yang sering dia pakai.
Virra memiliki janji untuk duel dengan seseorang yang menantang nya bertarung.
"VodooQueen, tadinya aku pikir kamu tidak berani datang." Kata Willock, seseorang yang menantang nya.
"Sepertinya aku belum terlambat." Jawab VodooQueen.
"Terlambat atau tidak hasilnya tetap sama saja. Bersiaplah untuk menyerahkan kalung itu." Kata Willock percaya diri.
"Ayo mulai." Kata VodooQueen menantang*.
Dan terjadilah peperangan yang sengit antara VodooQueen dan Willock.
...^_________^...
Kembali ke ruangan VIP tadi yang terdapat dua orang laki-laki.
"Sekarang giliranmu." Kata paman setelah dia meletakan anak catur tersebut
Setelah beberapa saat kemudian...
"Permainan yang bagus." Kata Virra dan Ravan bersamaan hanya di tempat yang berbeda beberapa meter.
...^_________^...
"Pantas saja VodooQueen satu-satunya pemain wanita yang ada di daftar PK, dia benar-benar menghancurkan lawannya"
"Tapi di daftar PK dia hanya berada di peringkat ke enam saja? Siapa yang berada di peringkat pertama?"
"Peringkat pertama bukankah Remington, sang legendaris?"
"Rasanya aku tidak pernah melihatnya, namanya saja juga sangat dibuat-buat"
"VodooQueen, ayo satu kali lagi!" Kata Willock menantang.
"Boleh tapi aku sekarang berada di warnet, hanya membeli paket satu jam saja. Kalau begitu kita selesaikan pertarungan yang singkat saja." Jawab Virra menjelaskan.
...^_________^...
"Sesuai perjanjian kita sebelumnya, jika kamu memenangkan ronde ini maka paman akan memberikan mu sebuah hadiah." Kata paman mengingatkan.
"Tempat ini aku hadiahkan untukmu. Bukankah kamu ingin mendirikan sebuah perusahaan game? Tempat ini setelah di renovasi harusnya cukup sebagai permulaan bisnismu." Jelas paman teliti.
"Paman ini adalah pandangan mu. Aku tidak mau." Tolak Ravan halus.
"Kamu tidak mau?" Tanya paman sekali lagi.
"Tidak paman." Jawab Ravan yakin.
"Bagus kamu punya semangat." Kata paman bangga.
"Aku hanya merasa ada kepuasan jika memulainya dari nol, lagi pula aku juga sudah menemukan tempat." Jelas Ravan mencoba meyakinkan pamannya.
...^_________^...
Keluarlah Ravan dan pamannya dari ruangan VIP warnet tersebut sembari melanjutkan percakapan tentang rencana pembangunan perusaahan game yang Ravan rencanakan.
"Eh! Ayah mu seorang arkeolog, ibumu seorang sejarahwan, tapi kamu malah masuk ke jurusan komputer. Aku bisa melihat kalau kamu dan aku adalah orang yang sejalan." Kata paman bangga.
"Aku juga tidak punya banyak waktu untuk mengurusi tempat ini. Hanya jika kamu memang tidak mau, aku akan membiarkannya kosong dulu." Lanjut paman berencana.
"Bos ada telepon untuk anda." Potong seorang karyawan.
"Baik!" Kata paman sembari meninggalkan Ravan setelah dia menepuk pundak Ravan sebentar dan pergi menerima telepon.
...^_________^...
Tinggallah Ravan berdiri ditengah-tengah orang-orang yang sedang sibuk bermain komputer.
Dia mengedarkan pandangannya keseluruhan orang-orang yang sedang bermain komputer tersebut.
Tak sengaja matanya berhenti tepat pada tangan yang berjari lentik sangat lincah menekan setiap keyboard.
Ravan terpaku tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tangan yang berjari lentik tersebut.
Secara tak sadar kakinya melangkah pada tempat yang diduduki oleh seorang perempuan yang berjari lentik itu, Ravan berhenti sedikit jauh di belakang kursi seorang perempuan berjari lentik tersebut.
Ravan tetap diam berdiri terpaku dan mata yang sibuk memperhatikan jari lentik itu dengan seksama, tak terduga bibir Ravan melengkung membuat senyuman.
Tetapi jari perempuan tersebut seketika berhenti beralih melepaskan earphone yang sedang dia pakai, mengambil tas dan menggendong nya pergi ke kasir.
Hal tersebut membuat Ravan sadar dari keterkejutan dan ketertarikannya itu.
"Ada apa?" Kata pamannya sembari menepuk pundak Ravan membuat Ravan terkejut.
"Apa yang kamu lihat? Komputer ini kah? Apa kamu suka komputer nya? Komputer ini sama saja dari yang lainnya." Tanya Paman bertubi-tubi karena dia bingung dengan Ravan yang tadi sepertinya melamun.
"Ah! Tidak-tidak aku tadi sedang berpikir tentang rencana perusahaan ku saja sembari menunggu paman menjawab telepon, jadi mungkin terlihat seperti melamun." Bohong Ravan berusaha menjelaskan agar tidak terlihat berbohong.
"Oh... Begitu!" Kata paman percaya saja.
"Waktu sudah larut, ayo kita pergi makan ke rumah ku, aku akan memasak untuk paman." Kata Ravan mengalihkan arah pembicaraan agar masalah Ravan yang melamun tidak di pikirkan lagi.
Mereka pergi keluar melewati perempuan yang sedang membayar di kasir.
"Satu paket satu jam." Kata Virra memberi tahu kasir.
"Dua puluh ribu rupiah." Jawab kasir memberi tahu harganya.
Virra merogoh tasnya dan memberikan uang berwarna hijau berjumlah satu lembar kepada kasir, pergi keluar dari warnet untuk kembali ke asrama mahasiswa perempuan universitas Pemoeda.
...^_________^...
Seorang gadis bernama Virra baru saja sampai di asrama setelah dari warnet dia langsung pulang karena hari sudah sore.
Tiba-tiba datanglah angin kencang beserta gemuruh yang berarti pertanda akan datangnya hujan.
Virra pun kaget dan bergegas pergi mengangkat seprei milik Ella yang masih menggantung di tempat jemuran depan asrama.
...^_________^...
Sedangkan di dalam kamar asrama milik Virra, teman-teman Virra terlihat sibuk pada kegiatannya masing-masing.
Ella sibuk menempelkan masker wajah nya dengan mengaca di dalam kamar mandi.
"Calluella!" Teriak Dina memanggil Ella sembari memukul meja berkali-kali.
"Stop! Ada apa lagi?" Tanya Ella muak.
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan ini." Jawab Dina menunjuk pada pertanyaan yang ada di buku.
"Lina, tolong bantu aku mengangkat seprei sebentar!" Kata Ella meminta tolong.
"Aku sibuk!" Jawab Lina yang sedang memakan cemilan.
Ella dan Dina yang sedang membahas soal kaget sekaligus heran.
Ella pun tidak peduli lagi dan melanjutkan membahas soal yang ditanyakan Dina.
...^_________^...
Jangan lupa LIKE!!! Dan terimakasih dukungannya:3