
“Entalah… gue merasa udah gak nyaman tinggal di sana. Terlalu banyak teka-teki di keluarga itu yang ujungnya bakal buat gue inget lagi kematian papah dan mamah. Gue mau menghindari mereka tapi gue juga harus mengungkap pelaku pembunuhan itu. gue bingung harus bagaimana apalagi Jackson yang__. Ah tau dah, capek mikirin dia. sekarang gue harus gimana coba.” ucap Helena lirih.
Lusiana memegang bahu Helena lalu berkata. “Hel, gue tau ini gak mudah. Gue tau ini akan berbahaya karna anak lo akan jadi korbanya di sini tapi satu hal yang gue tau, Helen yang gue kenal itu adalah cewek kuat dan pantang menyerah bukan cewek lemah seperti ini. apapun keputusan lo, gue yakin itu yang terbaik dan gue akan selalu jadi orang pertama yang dukung lo.”
“tumben lo ngomong bijak kayak gini?” ucapan Helena mencairkan suasana.
“mungkin karna capek nangis sama capek diledekin sama lo.” keduanya terkekeh geli.
“makasi udah ada buat gue.” Helena memeluk Luciana.
“gue yang harus minta maaf karna gak bisa jadi tempat sandaran lo selama ini tapi mulai sekarang gue janji akan berubah. Gue akan jadi kakak yang selalu ada buat lo.” Lucian membalas pelukan Helena.
.
.
.
Ke esokan harinya.
“Jackson mau kemana kamu pagi-pagi gini?” Logan menatap anaknya aneh pasalnya anak itu melewati ruang makan tanpa menoleh sama sekali.
Suara Logan membuat Jackson menghentikan langkahnya. “ke rumah papah Johan. Jemput Helen.” Sahutnya singkat.
Lianna segera menghampiri Jackson sambil memegang tangannya. “sarapan dulu ya. kasian kamu pergi dengan perut kosong.”
“sorry na, aku buru-buru.” Tolak Jackson sambil melepas tangan Lianna lembut.
“tapi ini semua aku yang masak. Makan dikit aja ya?” Lianna berusaha membujuknya.
“jika kamu laki-laki, kamu harus menentukan yang mana yang terpenting.” Ucap Logan tanpa menoleh. Ia sebenarnya jengah melihat drama Jackson dan Lianna setiap hari tapi karena anaknya yang bodoh itu mengajaknya untuk tinggal di sini, mau gimana lagi.
“aku pergi.” Setelah berkata seperti itu jackson langsung melesat pergi meninggalkan rumah.
“tapi kan aku udah capek masak.” Gumam Lianna tapi terdengar oleh Agnes.
“udah gak papa. Lain kali kan bisa. Sekarang kita makan nanti keburu dingin.” Agnes sepertinya sudah terpedaya oleh kepolosan Lianna.
Di lain tempat Jackson mengemudi dengan tidak sabaran bahkan ia sampai di buat frustasi karena macetan yang begitu panjang. Berkali-kali ia menekan klakson tapi kendaraan di depannya tidak kunjung bergerak.
Akhirnya ia menyerah lalu menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memejamkan mata. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan bagaimana cara membujuk istrinya pulang yang sudah terlanjur kecewa padanya. Laki-laki itu tau dia salah tetapi penyesalan selalu datang di akhir membuatnya harus putar otak mencari cara agar semua kembali normal.
Lama tenggelam dalam lamunan, ia sampai tak menyadari kalau kendaraan di depannya sudah mulai bergerak menjauh.
Semakin lama semakin dekat dengan mansion keluarga Damara membuat dia semakin gugup. Kata-kata yang sudah di tata rapi di otaknya tadi, sekarang sudah hilang entah kemana dan saking gugupnya tangannya menjadi basah bahkan wajahnya sudah mulai pucat.
Sesampai di sana ia membunyikan bel berkali-kali tetapi tidak ada yang membukakan pintu bahkan ia memperhatikan sekeliling rumah tidak ada yang menjaga. Setau dia di mansion sini memiliki banyak pelayan dan penjaga seperti di mansionnya tapi sekarang rumah ini tampat kosong.
Dengan pelan-pelan ia memasuki rumah tersebut dan semakin masuk terdengar suara keributan dari arah meja makan. Ternyata semua orang berkumpul di sana menolong Helena yang sedang muntah-muntah. Kelihatannya parah sampai-sampai membuat panik seisi rumah.
Beberapa pelayan mencoba membuatkan dia makanan tetapi baru saja sesuap wanita itu kembali memuntahkannya para, penjaga pun ikut turun tangan demi membuat Helena makan karena tidak baik untuk seorang ibu hamil tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup.
“Helena!” Jackson bergegas menghampiri istrinya yang kembali muntah-muntah.
“kamu kenapa sayang, wajah kamu pucat sekali. ” Jackson menangkup wajahnya yang terlihat sayu dan tak bertenaga.
“aku gak papa. Cuma setiap kali aku makan rasanya perutku bergejolak.” Tuturnya lemah bahkan ia menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.
“Hei sedang apa kau ada di sini. Siapa yang membiarkan kau masuk.” bentak Johan saat melihat Jackson.
“pah, aku ke sini mau ngajak Helen buat balik lagi ke rumah.”
“tidak ada. Helen tidak akan kembali ke rumah itu apalagi kembali padamu. Pergi kamu dari sini.”
“apa aku tau aku salah tapi tolong jangan pisahkan aku dengan Helen. Aku sangat mencintainya. Tolong kasi aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”
“alah, alasanmu saja. kau dan ayahmu sama saja, bermulut manis tapi sebenarnya berbisa. Pergi sana. Pergi dari rumahku dan ku pastikan besok kau akan menerima surat cerai. Pergi.”
Johan mengusir Jackson berkali-kali bahkan menarik tubuhnya menjauh dari Helena tetapi laki-laki itu tetap pada pendiriannya membuat Johan melayangkan pukulan padanya. Perkelahian terjadi dari satu pihak saja, Jackson pasrah menerima setiap pukulan bahkan dia tidak berniat untuk melawan. Ia merasa pukulan ini adalah harga yang harus ia terima demi bersama istrinya.
-BERSAMBUNG-