LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 105



Matahari mulai menyambut hari, seorang laki-laki terbangun dari tidur nyenyaknya dan perlahan-lahan ia menyampingkan tubuhnya dengan mata masih terpejam lalu meraba kasurnya.


Seketika matanya terbuka lebar tidak mendapati orang yang ia cintai ada di sebelahnya, ia takut kalau orang itu benar-benar meninggalkan dia. Secepat kilat ia beranjak dari kasur dan tak lupa mencaput selang infusnya lalu berlari ke kamar mandi yang ternyata kosong. Ia semakin cemas di buatnya. Ia lalu mencarinya di walk in closet tetapi hasilnya sama.


Lelaki itu semakin kalang kabut tidak menemukan belahan


jiwanya di kamarnya dan tanpa pikir panjang laki-laki itu keluar lalu


mengelilingin setiap sudut rumah tanpa memperdulikan setiap pelayan menatapnya


lapar.


Bagaimana tidak, pagi-pagi mereka sudah mendapatkan pemandangan yang begitu indah dan menggiurkan ketika sang tuan muda berlari tanpa sehelai benang menutupi tubuh sixpacknya. Jangan lupa dengan keringan yang bercucuran membuat sang tuan muda semakin menggiurkan.


Setiap sudut rumah sudah ia cari tetapi orang itu tetap tidak ada dan tinggal satu tempat lagi yang belum ia kunjungi. Ia berdoa semoga kekasihnya ada di sana. Dan ternyata benar wanita itu sedang berkutik di dalam dapur, memotong setiap sayuran yang ada di hadapannya.


Akhirnya laki-laki itu bisa bernafas lega, wanita itu kembali. segera ia mendekati kekasihnya lalu memeluknya dari belakang. Wanita itu sempat terkejut tapi setelah itu ia membiarkan tangan itu memeluknya karna ia tau siapa pelakunya.


“aku kira kamu gak balik lagi ke sini.” Ucap Jackson lirih.


“sekarang kamu udah liat kan aku di mana. Sana pergi.”


Bukannya melepaskan Helena, Jackson malah memeluknya semakin erat tanpa memperdulikan beberapa pelayan dapur dan juga ibu tirinya menonton kebucinan sang tuan muda. Sedangkan Helena hanya bisa memutar bola matanya jengah karna kelakuan laki-laki itu.


“aku itung sampai tiga. Kalo kamu gak lepas, aku bakal pergi lagi.” Ancam Helena.


“sat__” belum saja Helena menghitung Laki-laki itu sudah terlebih dahulu pergi melesat entah kemana.


“hahaha… kelakuan anak sama papahnya sama aja. terlalu posesif.” Ujar Angel sambil memotong buah-buahan.


“apa papah juga segila dia?” tanya Helena.


“100%” seru Angel yakin.


Helena melirik sebentar kearah pintu lalu melanjutkan memotong sayuran. “sepertinya ada satu lagi yang berjiwa posesif keluarga Bernadette.”


Angel menatapnya bingung dan tiba-tiba ia melihat seseorang memeluk pinggang Helena dari belakang.


“kakak kok baru pulang. Aku kangen loh sama kakak. Kakak gak pernah lagi ngajarin bikin pr, main masak-masak sama berenang.” Gumam Kallie yang masih setengah sadar.


“iya… nanti kita seharian main. Kita shopping, abisin uang kak Jackson. Okay.”


Mata bulat itu langsung berbinar. “beneran kak.” Kallie mencondongkan kepalanya melihat Helena.


“Hore!!.” Kallie langsung berlari kegirangan mendengar akan pergi jalan-jalan bersama kakak kesayangannya.


“see… apa kataku.” Tutur Helena pada Agnes.


Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. “memang darah seorang Bernadette sangat kental mengalir di anak-anakku.”


.


.


.



Selesai acara masak-masaknya, Helena lebih dulu meninggalkan mertuanya di dapur. Ia ingin ke kamar membersihkan dirinya. Saat di depan tangga ia melihat Lianna turun dan semakin lama semakin mendekat padanya.


“aku sampai sekarang masih gak habis pikir sama keluarga ini. kok bisa-bisa punya menantu bar-bar, gak tau aturan. Liat penampilan kamu, masih pakek piyama. Berasa jadi tuan putri.” Sindir Lianna.


“yang tuan putri itu gue apa lo. udah numpang, males, bukannya tolongin beresin rumah malah nyerocos di sini.”


“enak aja kamu ngomong, aku bentar lagi jadi nyonya rumah ini dan gak pantes buat nyonya ngerjain tugas pembantu. Yang ada tuh kamu. cocok jadi pelayan aku.”


“ya… ya… ya… terserah lo. mimpi aja terus sampai rambutan berubah jadi durian.” Helena memutar bola matanya malas.


Geram karna Helena tak terpancing dengan segala hinaan membuat Lianna harus berputar otak untuk membuat nama Helena buruk di keluarga ini.


Tiba-tiba saat Helena berjalan melewatinya…


BRUK..


“aaawww…” jerit Lianna ke sakitan.


Sontak Helena menoleh kearahnya terkejut tapi tak berapa lama ia menyadari sesuatu kalau ini adalah akal-akal Lianna. Sangat sulit membodohi Helena apalagi dia sangat sensitive. Jadi ia tau kalau ada seseorang yang mulai mendekat.


“Lianna.” pekik Jackson melihat Lianna jatuh tersungkur. Dengan langkah cepat ia menuruni tangga lalu membantu gadis itu duduk.


“apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa jatuh. Ini lutut kamu juga lecet.” Tanya laki-laki itu.


-BERSAMBUNG-