LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 102



“astaga daddy cukup.” Pekik Merry yang baru saja keluar dari dapur membuat makanan yang baru untuk Helena.


“kenapa kalian diam saja. cepat pisahkan mereka.” Merry membentak para pelayan.


Mereka segera memisahkan Johan dari Jackson yang sudah babak belur menghiasi wajah tampannya.


“apa-apaan kalian. cepat lepas. Aku belum puas menghajarnya. Akan ku bunuh dia. lepas, cepat lepaskan aku.”


“DADDY CUKUP!! berhenti memperburuk suasana. Lihat Helen, dia sedang sakit. Apa daddy tidak khawatir padanya.” Teriak Merry menggelegar. Ia sudah lelah melihat kelakuan suaminya di tambah lagi kondisi Helen semakin melemah, wajahnya semakin pucat bahkan untuk membuka mata saja tidak kuat.


Mendengar perkataan Merry, mereka berdua langsung tersadar dan langsung menghampiri Helena. Jackson mengambil kursi untuk duduk di dekat istrinya lalu meletakkan kepala Helena ke dadanya sedangkan Johan berdiri di seberang meja.


“sayang kamu kenapa? kamu sakit? Apa kita pergi ke rumah sakit ya?” tanya Jackson begitu khawatir tetapi wanita itu aja menjawab dengan gelengan kepala. Untuk berbicara saja ia merasa tidak kuat.


“dari tadi dia tidak mau makan, selalu saja muntah-muntah. Kalo gini terus gak baik untuk kondisi Helen sama bayi kalian. Ini mommy buatkan teh jahe sama makanan yang baru buat dia. coba kamu suapi dia, siapa tau dia mau makan.” Tutur Merry.


“mommy.” Tegur Johan tidak setuju.


“dad tolong kali ini saja jangan mikirin ego daddy aja. kasian Helen.” Seru Merry.


Akhirnya Johan bungkam demi anaknya bisa makan dan pulih lagi seperti sedia kala tapi kalau Jackson gagal membantu menyembuhkan anaknya, dia sudah bersiap-siap menghajarnya tanpa ampun.


“sayang minum dulu ya, biar badan kamu hangat.” Jackson meniup teh tersebut terlebih dahulu baru mendekatkan gelas tersebut kepada bibir Helena.


Sedikit demi sedikit wanita itu menghabiskan teh itu walaupun masih bersandar pada suaminya karena terlalu lemah.


Setelah minumannya habis, Jackson mencoba menyuapinya makanan padanya. Awalnya Helena Menolak karna takut muntah lagi tapi mengingat anaknya juga butuh makan akhirnya ia mau membuka mulutnya.


Satu suap, dua suap, tiga suap bahkan tak terasa makanan yang ada di piringnya sudah habis tak tersisa bahkan Helena tidak memuntahkannya kembali. mungkin ini karna anak yang ada di dalam perut Helena merindukan papahnya.


Semua orang akhirnya bisa bernafas lega melihatnya apalagi para pelayan. Mereka sudah menganggap Helena sebagai keluarga mereka sendiri jadi kalau Helena sakit mereka semua juga merasa khawatir sama seperti Johan dan Merry.


.


.


.


Jackson yang tidur di sebelahnya hanya memandangi wajah Helena yang seakan-akan kecantikannya tidak pernah luntur walaupun terlihat pucat dan sedikit lebih kurus dari biasanya. Demi wanita berbadan tiga itu, ia sampai lupa kalau belum makan atau minum dari pagi.


Waktu terus berlalu tetapi Jackson tidak bosan melihat istrinya tidur.


Tangannya terulur menyentuh pipi Helena dan itu menyebabkan istrinya mengeliat karna tidurnya terganggu tetapi bukannya bangun, ia malah memeluk suaminya erat bahkan menghirup dalam-dalam aroma tubuh laki-laki itu.


“tidurmu nyenyak?” ucap Jackson.


“he’em.” Wanita iitu hanya mengangguk tapi masih pada posisi memeluk.


“sayang.” Jackson mengelus kepala belakang Helena.


“hmm…”


“maaf sama kata-kataku waktu itu. seharusnya aku tidak berperilaku kasar padamu. Kamu mau kan maafin aku?”


“hmm…”


“maafin gak nih?”


“hmm…”


“sayang, ngomong dong jangan ‘ha hm ha hm’ aja. aku mana ngerti.” Seru Jackson.


Helena terpaksa mengangkat kepalanya lalu menatapnya dengan tajam. “ya aku maafin.”


Walaupun ia berkata dengan sangat ketus tapi Jackson tau kalau dia benar-benar memaafkannya.


“kalo gitu kamu pulang ya.” celetuk Jackson.


Seketika Helena menyerayap matanya, ia tidak menyangka Jackson mengajaknya pulang secepat ini padahal dia belum memikirkan akan kembali ke rumah itu atau tidak. Ia merasa ragu kembali kerumah itu tetapi ia harus menyelidiki kasus pembunuhan orang tuanya.


Jika ia kembali ke rumah itu maka ia harus menyakiti keluarganya sendiri karna rahasia orang tuanya akan terungkap sedikit demi sedikit tetapi jika di tetap di sini maka rahasia itu tetap terkubur di telan waktu bahkan di tambah lagi kondisinya yang tidak bisa berjauhan dengan Jackson.


-BERSAMBUNG-