LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 107



“ya… aku baru sadar. Dari awal kita menikah, kita selalu saja bertengkar terlebih lagi kalau soal ‘pihak ke tiga’.” Ucap Helena.


“jadi kamu buat perjanjian pra-nikah supaya bisa cerai dari aku?” pikir Jackson.


“bukan gitu. Aku mau buat perjanjian pra-nikah untuk mengantisipasi adanya pihak ketiga. Mau itu pelakor ataupun pebinor. Di sini bukan soal kamu aja tapi aku juga. Dan lagi bukannya kamu juga suka cemburuan liat aku bareng cowok lain.” Jelas Helena.


“hehehe… maaf sayang. aku gak mikir sampai ke situ.” Ucap Jackson sambil menggaruk kepala belakangnya. Sedangkan Helena hanya mendengus melihatnya.


“jadi isi perjanjiannya seperti apa?” tanya Logan.


Helena melirik sejenak Lianna yang tergambar dari wajahnya begitu penasaran. “satu, aku mau seluruh harta kami di wariskan untuk anak kami ini. semisalnya aku ataupun Jackson berselingkuh bahkan memiliki anak dari ‘orang ke tiga’ maka mereka tidak akan mendapatkan sepeserpun dari harta tersebut. Kedua, Selama perjanjian berlangsung aku mau setiap pengeluar kami ada rinciannya supaya uang anak kami tidak di salah gunakan untuk memenuhi kebutuhan ‘selingkuhannya’. Dan yang terakhir, ini sangat penting. Semisal anak ini meninggal dan kita tidak punya anak yang lain lagi maka seluruh harta warisan akan di sumbangkan pada panti asuhan dan panti jompo.”


“bukankan itu terlalu berlebihan.” Lianna mulai membuka suara.


“berlebihan bagi orang ketiga tapi tidak denganku. Sekalipun semua hartaku di sumbangkan, aku masih bisa menghasilkan uang yang lebih banyak lagi.” Sahut Helena datar.


Jackson menganggukkan kepalanya pelan lalu berkata. “aku setuju pendapat Helena. Lagian tidak ada untungnya memiliki selingkuhan tapi tidak mempunyai uang sepeserpun.”


“demi menjaga keharmonisan rumah tangga apalagi keluarga kaya seperti kita, banyak sekali cobaannya. Perlu berhati-hati dalam melangkah. Mamah juga setuju keputusan Helena.” Tutur Agnes.


“ta... tap__”


Ucapan Lianna langsung di potong Logan. “baik. Karna semua setuju, papah akan suruh Johan untuk membuat perjanjian pra-nikahnya. Setelah Johan datang, kalian berdua ikut ke ruang kerja papah.”


Jackson dan Helena langsung menyetujuinya.


“apa kita gak jadi pergi?.” Ucap Kallie lirih yang dari tadi hanya menyimak saja.


“jadi kok sayang. tapi agak siang ya. soalnya kakak, kak Jackson sama papah masih ada yang harus di kerjakan.”


Seketika wajah Kallie menjadi cerah mendengar hal tersebut.


“kalian mau kemana?” tanya Jackson.


“mau kencan dong.” jawab Kallie.


“pergi berdua? Kakak ikut. Enak aja pergi-pergi gak ngajakin kakak.”


Jackson mendengus pelan. “emangnya kakak kurang kerjaan apa sampai pakai dress kamu.”


“siapa suruh minta ikut. Di suruh pakai dress gak mau.”


Semua orang tertawa melihat tingkah konyol kakak beradik ini, sungguh acara makan kali ini sangat menyenangkan dan sayang untuk di lewatkan.


Berbeda dengan keluarga Bernadette, Lianna menatap lurus kedepan seperti menghunuskan pedang pada orang yang duduk tepat di seberangnya. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum mengejeknya.


”sialan… aku kalah cepat. Dia benar-benar merusak rencanaku. Kalo kayak gini percuma saja aku mengambil hati Jackson tapi tidak dengan hartanya. Arghhh… dasar perempuan gila. Aku harus cari cara lain supaya perjanjian itu batal dan juga menyingkirkan perempuan gila itu untuk selamanya.” Batin Lianna bahkan kepalan tangannya tidak bisa membohongi kalau dia sedang murka.


“lo salah nyari lawan Lianna. Kalo lo mau main-main sama gue, otak lo itu harus kerja ekstra untuk itu. sekarang permainan ini bukan di kendalikan lo lagi tapi gue. Ini baru permulaan setelah kebusukan lo terungkap, gue bakal jamin lo akan ngemis-ngemis di bawah kaki gue untuk mati.” Batin Helena yang sudah mengeluarkan aura iblisnya.


.


.


.



Sudah seminggu berlalu setelah pembicaraan di meja makan itu. perjanjian pra-nikah itu sudah di tanda tangani oleh kedua belah pihak dan sampai sekarang Lianna uring-uringan karna tidak menemukan cara untuk melawan Helena.


Bukannya membalas perbuatan Helena, ia selama seminggu habis di kerjain Helena. Setiap orang rumah tidak ada, Lianna di paksa mengerjakan tugas pembantu. Seperti majikan Jahat, Helena tidak main-main membuat dia menderita.


Ia di suruh membersihkan seluruh rumah. Tentu saja Lianna memberontak, ia mengadu pada Jackson tapi laki-laki itu tidak menolongnya sama sekali pasalnya Helena mengatakan ngidam ingin melihat Lianna membersihkan rumah bahkan perempuan itu mengancam tidur di kamar terpisah jika tidak di turuti.


Kesal tidak ada yang menolong ia dengan sengaja menumpahkan air pel di lantai, pikirnya supaya Helena jatuh dan keguguran tapi sayang yang terjatuh malah Kallie sampai ia harus di larikan ke rumah sakit karna kepala terus mengeluarkan darah.


Bukan Cuma mendapatkan penindasan dari Helena, Lianna bahkan di marahi habis-habisan dari keluarga Bernadette bahkan di ancam di usir dari rumah jika tidak melakukan tugasnya dengan benar.


Niatnya ingin meminta pertolongan dari rekannya yang di ajak kerja sama. Lagi-lagi gadis itu mendapatkan murka dari orang tersebut. Orang itu mengatainya bodoh pasalnya masalah sepele tidak bisa ia kerjakan dengan benar.


-BERSAMBUNG-