LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 61



AYOOO... AYOOO... AYOOO... Kesayangannya Author.


Jangan bosen-bosen buat Like, Comment, dan juga VOTE-nya ya...


Sekalian tekan Favorite supaya kalian gak ketinggalan update-an selanjutnya.


Selamat membaca.


.


.


.


Puas sudah melihat wajah Helena babak belur, ia bangkit berdiri dan menjadikan kepala gadis itu sebagai tumpuan kakinya. “Jessica, Yana. Ayo kita beri dia pelajaran. Dia harus tau kita itu siapa biar perempuan murahan ini jera.” Ucapnya dengan menyeringai.


“lo bener Vin. Jangan sampek Jalang ini semakin gak tau diri ngedeketin babang Demian gue” seru Jessica.


“ya udah gak usah lama-lama lagi. Udah eneg gue liat muka l**** ini.” ucap Yana.


Vina menarik rambut Helena sampai ia berdiri setelah itu di dorong ke Yana dan Yana mendorongnya lagi ke Jessica, begitu seterusnya sampai membuat gadis itu sedikit pusing karena selalu berputar dan juga efek tamparan tadi.


Setelah di rasa cukup, Yana dan Jessica memegang tangan Helena agar tidak berontak setelah itu Vina meninju perutnya berkali-kali menyalurkan amarahnya lalu di buatnya gadis itu tersungkur setelah itu mereka beramai-ramai menginjak-nginjaknya tanpa ampun.


Tanpa di sadari, Vina pergi kedapur lalu kembali lagi membawa gunting.


“stop…”


“sudah cukup kita main-mainnya. Sudah saatnya kita buat pelacur sok kecantikan ini menjadi manusia yang paling menjijikan.” Lanjut Vina.


Begitu juga Helena. Sudah cukup ia diam dari tadi dan ini waktunya menunjukan taringnya.


Melihat Vina menggerakan gunting tersebut yang ingin di tancapkan kewajahnya, dengan cepat Helena mencekal tangannya lalu memelintirnya sampai gunting itu jatuh lalu di dorongnya wanita gila itu menjauh.


Mendapatkan kejutan seperti itu, Jessica dan Yana mencoba mendekati dia tapi gadis itu langsung bangkit berdiri lalu menghindar. Gadis itu memukul wajah Yana dengan keras membuat dia tersungkur ke lantai.


Bukannya takut, Jessica malah semakin geram dengan kelakuan bar-bar Helana. Ia ingin mencakar wajah gadis itu tapi Helena membaca pergerakannya. Di mencekal tangan Jessica lalu tangan satunya lagi Helena memakainya untuk mencekik wanita tersebut dan di benturkannya di dinding.


Saking emosinya, Helena mencekiknya sampai lehernya biru dan kakinya tidak menyantuh lantai. Jassica merulang kali mencoba melepaskan tangan di lehernya tapi sayang kekuatannya tak sebesar Helena bahkan tubuhnya semakin lemas dan susah bernafas.


Tak kuat menjadi penonton saja, Vina melihat sekitar mencari sesuatu untuk di jadikan senjata dan ia menemukan vas bunga di atas nakas. Wanita itu langsung mengambilnya lalu berlari menuju Helena.


Seketika tubuh Helena menjadi kaku dan tanpa sadar melepas tangannya sehingga membuat Jessica jatuh, terduduk di lantai sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Gadis itu berputar perlahan, melihat siapa pelakunya. Ternyata Vina, wanita gila itu terdiam, pikirannya kosong sambil membawa vas bunga yang pecah di tangannya.


Dalam hitungan detik Helena terkapar di lantai dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya.


Yana dengan cepat menghampiri Vina lalu mengguncangkan bahunya. “Vin… sadar Vin… kita harus cepet pergi dari sini, sebelum ada orang yang tau kalo lo bunuh dia.”


Seketika ia tersadar lalu sekujur tubuhnya gemetar dan mengeluarkan keringat dingin. Tak ingin berlama-lama di sini, Vina mengangkat tubuh Jessica lalu memapahnya begitu juga Yana. Mereka segera meninggalkan tempat itu.


Tanpa di sadari saat menuju lift, mereka berpapasan dengan Satria yang baru keluar dari lift tersebut. Satria meliriknya sekilas saat pintu lift itu tertutup. Ia mengernyitkan dahinya aneh karena gelagat tiga orang itu seperti habis di kejar hantu.


Tak ingin memusingkan hal tersebut, laki-laki paruh baya itu melanjutkan langkahnya kembali.


Mata Satria membulat lebar melihat pintu apartment Helena terbuka dengan tongkatnya yang menghadang pintu tersebut. Tanpa pikir panjang, Satria langsung menerobos masuk dan dengan panik mencari keberadaan Helena.


Lagi-lagi Satria di buat terkejut melihat Helena terbaring tak berdaya. Segera ia mengangkat tubuh mungil itu lalu membawanya kedalam mobil.


Selama perjalanan, Laki-laki itu menggenggam erat tangan Helena dan sesekali ia bergumam untuk gadis itu bertahan. Ia takut Helena kenapa-napa, bagi Satria Helena adalah satu-satunya keluarga dan juga anak kesayanganya.


FLASHBACK OFF


Jackson mengepalkan tangannya sampai kuku-kukunya memutih menahan emosinya setelah mendengar cerita Helena. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, laki-laki itu langsung keluar dengan langkah lebar bahkan ia tidak peduli dengar orang-orang yang ia tabrak.


“lo yakin mau pakek cara ini. biasanya langsung serang aja.” seru Dewa heran.


“mau gimana lagi, gue juga butuh hiburan. Bosen liat itu-itu aja. Anggep aja ini makanan pembuka sebelum memakan makanan utama.” Kata Helena enteng.


“ya terserah lo aja. oh ya, om Satria ke mana?” lanjut Dewa setelah melihat sekeliling.


“hmmm… lagi mempersiapkan makanan utama?” ucap Helena ambigu.


“lo juga harus inget siapin makanan penutupnya. Biar lengkap semuanya.”


Dewa menganggukan kepalanya lalu berkata. “ok. Sekarang gue kerjain.”


Tanpa menunggu lama, ia mengambil laptop di atas nakas lalu mengetik kode-kode dengan cepat sedangkan Helena kembali melanjutkan membaca majalah dan menikmati cemilannya dengan santai. Tingkahnya seperti tidak memiliki beban sama sekali.


-BERSAMBUNG-