
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan!!
...^_________^...
Terlihat dua mahasiswa perempuan yang sedang mengendarai motor berhenti tepat didepan Mading kampus yang tertutupi oleh kerumunan mahasiswa-mahasiswi yang sedang melihat Mading, dan sepertinya Mading tersebut memiliki pengumuman yang sangat menarik untuk mahasiswa perempuan karena kebanyakan orang yang melihat rata-rata mahasiswa perempuan.
Lina dan Virra pun turun dari motor yang mereka kendarai, melepas helm yang mereka pakai sembari jalan menerobos sekumpulan mahasiswa-mahasiswi yang terlihat berdesak-desakan.
"Apa yang sedang mereka lihat?" Tanya Lina penasaran.
"KOMPETISI BASKET UNIVERSITAS"
Virra pun terkesima dan entah kenapa Virra malah membayangkan most wanted kampus yang sedang meloncat memasukan bola basket kedalam ring.
"Ravan akan kembali bermain di kompetisi basket lagi!" Teriak Lina.
"Bagus sekali! Kita dapat melihat Ravan bermain basket lagi!" Kata Virra girang.
Merekapun akhirnya tidak sabar menunggu saat-saat master mereka akan bermain nanti, tapi mereka mendengar suatu hal yang membuat mereka ragu.
"Jurusan komputer dan jurusan biokimia, Ravan yang menjadi bintang atletnya. Kali ini kita pasti bisa melihat dia!"
"Itu juga tidak pasti. Ravan sekarang sudah tahun keempat, dia juga jarang sekali terlihat di kampus."
"Katanya masih belum ada pembaruan dari artikel yang di posting di forum itu, hal ini mungkin saja sebuah tipuan!"
"Apa salahnya hanya melihat sekilas tidak rugikan? Lagi pula ini adalah terakhir kalinya kita bisa melihatnya!"
"Menyakitkan sekali jika memikirkannya, mengapa dia tidak melanjutkan ke jenjang master?!"
"Iya, sayang sekali!"
Lina dan Virra hanya diam menguping percakapan antara mahasiswa perempuan yang sedang menggosipkan seorang Ravan Abercio.
"Ah! Ya, Virra! Aku tidak menyangka kalau kamu begitu tergila-gila, kamu juga tidak pernah seperti ini." Kata Lina terkejut.
"Sudah pasti! Dia itu master!" Puji Virra semangat.
"Jika di sekolah ini punya ranking seperti dalam permainan, dia pasti akan menjadi peringkat pertama!" Puji Virra lagi.
"Virra kamu memang memiliki konsepnya, tapi aku hanya melihat kepada wajah dan tubuhnya." Jelas Lina menggebu-gebu.
"Sssttt... Ayo pergi." Ajak Virra buru-buru.
Akhirnya mereka pun kembali menaiki motor mereka dan pergi melanjutkan perjalanan mereka menuju toko perbaikan.
...^_________^...
Masuklah dua mahasiswa perempuan kedalam toko perbaikan, tapi mereka sepertinya bukan Virra dan Lina, melainkan seorang Keyva Labib dan seorang temannya bernama Mika.
"Keyva, ayo kita beli ini." Kata Mika mengambil dan menunjukan kartu memori RAM.
"Mika, aku bahkan tidak mengenalnya. Bagaimana membuatnya menolong aku?" Tanya Keyva sembari memegang tangan Mika agar berhenti sebentar.
"Kamu tenang saja, aku berkenalan dengan salah satu teman asramanya dua hari yang lalu. Jadi, ide ini baru terpikir olehku. Kita hanya perlu membeli kartu memori RAM lalu pergi minta bantuan mereka." Jelas Mika panjang lebar.
Mereka pun pergi untuk membayar kartu memori yang akan mereka beli, tapi terlihat bahwa pemilik toko tersebut sedang menerima telepon dari seseorang.
Saat mereka menunggu, masuklah Virra dan Lina yang baru saja sampai, memasuki toko untuk membeli keperluan memperbaiki laptop Virra.
"Pak, berapa harganya?" Tanya Mika setelah pemilik toko tersebut mengakhiri panggilannya.
"500 ribu rupiah." Jawab pemilik toko.
"500 ribu? Mahal sekali." Kata Mika tidak percaya.
"Coba tanya saja, harganya sama saja di semua tempat. Barangnya tidak sama, oke?" Jelas pemilik toko, terlihat dari belakang mereka Virra memerhatikan percakapan mereka.
"Kalau begitu lebih murah lagi, bagaimana 450 ribu rupiah?" Tawar Mika.
"Satu rupiah pun tidak boleh kurang, saya sudah menjualnya dengan harga terendah." Bantah pemilik toko.
"Omong kosong! Mengerti apa kamu? Jangan mencari gara-gara, oke?" Sentak pemilik toko.
"Saya dari jurusan teknik ilmu komputer, memangnya tidak mengerti? Tokomu ini di buka depan gerbang universitas, juga sangat curang dalam berjualan. Jika sampai tersebar luas, bisnismu akan sulitkan?" Ancam Virra kepada pemilik toko tersebut.
"Benar! Jangan keterlaluan." Setuju Lina.
"Dimana bos yang lama? Ada dimana? Apa sudah ganti orangnya?" Tanya Lina keras.
"Apa? Bos lama apanya? Dari dulu bos-nya adalah saya, oke?" Panik pemilik toko, karena banyak mahasiswa-mahasiswi yang melihat dan mendengar.
"Kalian berdua ini, sengaja datang mencari gara-gara di tempat saya ya? Kalian ini cantik-cantik tapi mulutnya pedas! Pergi! Pergi!" Marah pemilik toko, mengusir Virra dan Lina.
"Teman, memori RAM dengan merek ini harganya hanya berkisar 200 ribu saja, jika tidak percaya kamu bisa memeriksanya di internet." Kata Virra kepada Keyva sembari menunjuk kartu tersebut, mencoba membantu menjelaskan agar Keyva tidak tertipu.
"Yang dijual di internet semuanya itu barang-barang palsu, harganya pasti lebih murah." Elak pemilik toko.
"Orang ini sepertinya Virranza." Bisik mika memberi tahu Keyva.
Setelah di beri tahu oleh Mika bahwa orang tersebut adalah Virra, Keyva pun mencoba untuk mengelak.
"Terimakasih ya teman. Aku percaya kalau pemilik toko ini tidak akan menipu aku, dan dia membuka toko untuk berbisnis, jadi tidak salah jika dia ingin mendapatkan keuntungan." Elak Keyva sombong sambil membuka dompet dan memberikan uang yang berwarna merah berjumlah lima lembar kepada pemilik toko.
Virra dan Lina saling bertatap muka, Virra memberikan ekspresi yang terkejut tidak percaya dan Lina melongo tidak percaya.
...^_________^...
Keluarlah Lina dan Virra dari sebuah toko perbaikan, wajah mereka berdua terlihat seperti kesal sekali.
"Dia bertingkah seakan-akan berkelas sekali dan pengertian. Dia ingin mengesankan siapa? Kita berusaha membantunya tapi malah menjadi orang yang jahat." Kata Lina kesal sembari menarik tangan Virra dan menggandengnya berjalan menuju parkiran yang terdapat motor mereka untuk mereka kembali pulang.
"Ini." Kata Lina memberikan helm nya kepada Virra.
"Aku tahu, ini pasti karena kamu adalah Virranza dan dia adalah Keyva. Jangan bilang kalau kamu tidak mengenal siapa Keyva. Dia adalah gadis tercantik di kampus." Kata Lina sok tahu.
Tak terkira Keyva dan Mika keluar dari toko perbaikan, Virra dan Lina pun melirik kepada mereka dan mereka pun sama melirik sambil melewati mereka pergi menjauh.
"Ah... Pantas saja dia terlihat familiar." Kata Virra ingat.
"Pasti karena hal ini. Saat ada kontes kecantikan di kampus tahun lalu, kompetisi di antara kalian berdua sangat panas bagaikan kobaran api yang menyala-nyala. Jadi, bagaimana mungkin dia tidak bertingkah dihadapan mu?" Kata Lina mulai keluar jiwa sok tau nya.
"Mana ada bagai kobaran api yang menyala-nyala? Siapa yang mengunggah foto ku tahun lalu? Haa!" Kata Virra sembari memakai helm dan mendorong Lina pelan, tetapi Lina terkejut berlebihan.
"Kamu sudah mencarinya di komputer dan ponsel aku tahun lalu. Bukan saya!" Bantah Lina ngegas sembari memakai helm.
"Lagi pula, bagaimana mungkin aku bisa mengunggah foto yang buram itu? Kalau aku yang foto, aku pasti akan mengambil foto dengan kualitas tinggi saat sedang mandi." Kata Lina sekarang keluarlah jiwa Lina yang mesum membuat Virra jijik.
"Oh iya, menurut mu apakah foto Keyva adalah hasil edit? Dan mungkin mengeditnya itu sampai membutuhkan waktu berhari-hari? Dia sama sekali tidak terlihat seperti foto nya yang ada di forum. Virra, jika dia menggunakan fotonya yang asli, aku bisa memastikan kalau tahun lalu kamu tidak akan kalah!" Kata Lina percaya diri sembari menepuk pundak Virra keras.
" Eh... Aku nanti akan pergi ke warnet sebentar. Selain itu, seingat aku tahun lalu dia menang. Dia yang pertama dan aku yang kedua. Secara teori, seharusnya akulah yang bermusuhan dengannya. Bagaimana mungkin dia bermusuhan dengan ku?" Kata Virra heran sembari melepaskan helm yang baru saja dia pakai tadi.
"Siapa yang tahu? Mungkin saja, dada nya itu rata." Kata Lina mesum sembari matanya mengarah pada payudara Virra.
"Ya ampun! Lina!" Kata Virra terkejut dan malu.
"Hahaha... Sudah pasti." Kata Lina percaya.
"Eh... Akhirnya aku tahu mengapa kamu tidak bisa mendapatkan pacar." Kata Virra misterius.
"Mengapa? Beritahu aku akan segera merubahnya." Kata Lina memaksa sembari memegang tangan Virra dan menggoyangkannya.
"Karena sudah jelas kamu lebih memperhatikan wanita." Kata Virra usil.
"Virra! Jangan pikir kalau aku tidak berani memukul mu ya!" Kata Lina marah sembari memukul Virra.
"Sudah, aku tidak akan mengusilimu lagi. Nanti tolong bawa pulang laptop aku ya! Bye!" Kata Virra kabur dan lari menuju warnet.
...^_________^...
Jangan lupa LIKE!!! Dan terimakasih atas dukungannya:3