LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 51



Selama seminggu Helena dan Bima harus di rawat di rumah sakit Thailand. Kondisi Bima yang baru sadar setelah empat hari koma membuat mereka harus menunda kepulangannya ke tanah air untuk beberapa hari. Tepat hari ini


mereka semua kembali ke Indonesia dan langsung di rujuk ke rumah sakit di sini.


Tapi bukan Helena namanya jika ia harus berdiam diri di atas kasur, ia memaksa Satria untuk membawa berkas-berkas penting untuk di kerjakan. Awalnya laki-laki paruh baya itu menolaknya mentah-mentah tapi karena ia harus


melakukan perjalanan bisnis ke Spanyol dan tidak ada yang mengurus kantor pusat, mau tak mau ia membiarkannya bekerja.


Tok. Tok. Tok.


Mendegar suara ketukan, Helena langsung mempersilahkan ‘masuk’ orang yang ada di luar. Ternyata orang itu adalah Julia yang sedang memeluk beberapa map hitam. Sudah di pastikan kalau yang di bawa itu adalah barang yang di minta Helena.


“selamat pagi nona muda. Bagaimana keadaan anda?” sapa Julia.


“pagi Julia. Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Sekarang kemarikan itu” ucap Helena sambil menggerakan jarinya mengisyaratkan untuk menyerahkan barang tersebut.


Julia langsung menyerahkannya lalu berkata. “ini nona. Ini hanya berkas penting yang harus segera di kerjakan untuk sisanya tuan Satria meminta agar tidak di berikan ke anda supaya anda cukup istirahatnya.”


“dia selalu saja seperti itu. dia selalu memikirkan keadaanku tapi dia tidak memikirkan keadaannya yang sampai sekarang tidak menikah. Apa aku harus menjodohkannya dengan seseorang.” Kata Helena sambil memakai kacamata lalu mulai membaca satu-persatu berkas itu.


“sok sok-an mau ngejodohin orang. Dia sendiri juga masih ngejomblo sampai sekarang” ceplos Julia pelan yang dapat di dengar Helena.


“apa kau bilang! Berani sekali kau menghinaku” bentak Helena sambil menatapnya tajam.


“ma…maaf nona. Saya tidak sengaja. Maaf” ucap Julia gugup sambil beberapa kali membungkuk meminta maaf.


“cepat pijat kakiku dari pada kau berdiri di sana bikin mataku sakit” ketus Helena.


Segera Julia duduk di atas kasur lalu memijat kaki kiri Helena. “sebenernya gue sekertaris atau tukang pijet sih kok kerjaan gue kayak gini. Percuma aja gue sekolah tinggi-tinggi kalo ujung-ujungnya jadi tukang pijet” gerutu Julia dalam hati.


“pijet yang bener jangan kebanyakan ngomel. Kamu itu di gaji buat kerja bukan nyerocos gak jelas. Mau kamu di pecat.” Seru Helena tanpa mengalihkan perhatiannya dari file di tangannya.


“ehhh… gak… nggak mau nona. Kalo saya di pecat dari sini bisa-bisa masa depan saya hancur. Maaf nona.” Ucap Julia ketakutan.


“ini bu bos punya indra ke enam kali ya. sampai tau apa yang gue pikirin. Ihhh… serem.” Batin Julia sambil mengeleng-gelengkan kepalanya takut lalu kembali memijat kaki bosnya


“oh ya nona. Beberapa hari yang lalu nona Luci datang ke kantor menanyakan keberadaan nona tapi saya bilang kalo nona sedang tidak ada di tempat.” Kata Julia membuka pembicaraan baru.


“bagus. Jangan sampai dia atau keluarga ku tau bagaimana keadaanku. Bisa serangan jantung mendadak mereka tau apa yang aku lakukan di luar sana” ujar Helena sambil menyerahkan salah satu berkas yang sudah ia tanda tangani.


“ya, aku tau. Tapi mau gimana lagi, kau harus tetap tutup mulutmu sebelum aku yang menutup mulutmu dengan paksa.” Helena mengatakannya lembut tapi mengisyaratkan untuk jangan membantah. Julia hanya mengangguk tidak berani membuka suara.


“bagaimana jadwalku? Apa kau sudah mengatur ulang semuanya?”


“sudah nona. Untuk beberapa waktu semua rapat sudah di tunda sampai anda kembali bekerja dengan normal dan untuk beberapa pertemuan akan di alihkan pada tuan satria. Oh ya, ada rapat dewan dereksi lusa yang tidak bisa


di tunda karena ini proyek baru pembangunan Hotel kita jadi saya mengaturnya agar anda bisa mengikuti rapat tersebut melalui sambungan video.” Jelas Julia


“tidak sia-sia aku menggajimu tinggi. Kau pintar dan juga cekatan. Aku suka.” puji Helena.


FLASHBACK OFF


.


.


.


“iya juga sih. tapi lo bakal sendirian di sini, gak ada yang jaga. Nanti kalo lo kenapa-napa gimana? Apa gue suruh Dewi nginep di sini aja” tawar Dewa.


“kalo Dewi nginep di sini yang ngejagain Bimbim di rumah sakit siapa?” Tanya Helena.


“kana da gue. Gue bisa jagain dia.” ucapnya semangat


“gak usah macem-macem lo. Bilang aja lo males pergi kerja terus alesan jagain Bimbim. Lo pikir gue percaya nyerahin Bimbim ke elo. Yang ada Bimbim yang ngejagain lo. Lo kan anaknya gak becus. Gak bisa di andelin.” Ucap Helena galak.


“kejam banget sih lo. kayak ibu tiri tau gak.” Ucap Dewa dengan wajah cemberut


“biarin. Biar lo tau rasa punya ibu tiri kayak gue. Gue buang lo di jalanan. Mampus lo.” sungut Helena.


“ehh… jangan dong. Kalo gue di jalanan terus di culik om-om jahat terus gue di jual jadi gi****nya tante-tante keriput gimana. Gue gak mau” rengek Dewa dramatis.


“itu lebih baik. Lo bisa jadi peliharaan mereka terus ikut arisan berondong biar gak bosen masukin lobang itu-itu aja. jadi lo gak perlu capek-capek kerja. Layanin mereka dapet uang, selesai” Helena malah menaggapinya enteng yang seketika membuat laki-laki itu menganga tak percaya.


-BERSAMBUNG-