
Jackson membulatkan matanya terkejut mendapati istrinya di pelukan orang lain, bukan padanya. Laki-laki itu semakin terkejut ketika Helena membalas pelukannya dengan wajah ceria yang ia sendiri tidak pernah melihat itu selama mereka bersama.
Hatinya seperti di tusuk-tusuk, sakit melihat istrinya bermesraan dengan orang lain dan sakit tidak bisa membuat istrinya tersenyum seperti itu. ia merasa seperti laki-laki pecundang di antara kisah cinta mereka.
“kenapa pernikahanmu seperti ini? apa aku ketinggalan sesuatau.”
“kau itu sudah merusak kesenanganku. Bimbim.” Bahkan mereka menggunakan panggilan sayang.
“maafkan aku ya. aku hanya tak mau kau semakin membuat orang-orang di sini semakin takut.” Bisik bima.
Helena melirik kearah sekitar. Ternyata benar semua terlihat ketakutan dan juga menatapnya ngeri. Gadis itu hanya bisa menghembuskan nafas pasrah karena tidak bisa mengendalikan emosinya yang datang tiba-tiba.
“sayang siapa dia?” ucap Jackson menggeram sambil menarik pinggang istrinya mendekat.
“biar aku memperkenalkan diriku sendiri. aku Bima dan aku adalah orang yang selalu ada untuk Rose. Kapanpun dan dimanapun. Dan aku juga tidak akan segan untuk memisahkan kau dengannya jika kau berani menyakitinya apalagi membuatnya menangis.” Ujar Bima santai namun penuh tekanan.
“sebaiknya kau yang menjauh dari istriku. Dia hanya punyaku, milikku. Kau tidak berhak ikut campur.” Setelah berkata seperti itu, ia menarik tangan Helena keluar.
Seakan tuli, ia tidak mendengarkan istrinya untuk melepaskan tangannya. Gadis itu sampai terseok-seok mengimbangi langkahnya yang begitu cepat tanpa memikirkan kalau ia akan terjatuh karena kesusahan dengan gaun panjangnya bahkan high heelsnya sering menginjak gaun tersebut.
Sesampainya di kamar hotel, laki-laki itu melempar istrinya di atas kasur lalu melepaskan jasnya dengan kasar.
“apa-apaan sih kamu.” seru Helena.
“seharusnya aku yang ngomong gitu. Apa-apaan kamu ini berani mesra-mesraan sama dia di depan mata aku apalagi ini adalah acara pernikahan kita. Apa kau tidak bisa menghargaiku sebagai suami.” Teriak Jackson.
“kamu gak usah berlebihan. Dia dari dulu memang kayak gitu.” Belanya.
“oh jadi saat aku ngeliat istri aku sendiri mesra-mesraan sama orang lain bahkan tidur bersama. Aku gak boleh marah gitu. Atau jangan-jangan kamu beneran pernah tidur sama dia. ternyata kamu gak lebih baik sama p****** di luar sana.”
Sontak saja perkataannya itu mendapati hadiah sebuah tamparan begitu keras sampai-sampai ujung bibirnya berdarah.
“jaga bicaramu Jackson. Jangan mengira di saat kau menjadi suamiku, kau berhak menghinaku lagi. Jangan mimpi. Bahkan detik ini aku bisa menggugat cerai kau.”
Dengan penuh amarah, gadis itu berjalan kearah pintu tapi tubuhnya kembali terhempas di atas kasur dan secepat kilat suaminya mengikat kedua tangannya di atas kasur menggunakan dasi.
“tidak akan pernah. Kamu itu Cuma milikku. Dan selamanya akan seperti itu.”
Tanpa aba-aba laki-laki itu mencium bibir Helena dengan sangat buas bahkan tangannya pun tidak tinggal diam untuk merobek semua pakaian yang melekat di tubuh gadis tersebut.
Sesaat ia menghentikan kegiatannya, menatap istrinya terengah-engah dengan bibis yang sedikit bengkak dan tubuhnya yang tidak di tutupi sehelai benang.
GLEK
Ia menelan salivanya susah payah melihat pemandangan yang sungguh luar biasa bahkan jika di bandingkan dengan perempuan yang pernah ia cobai dulu. mereka bukan apa-apa.
“malam ini akan ku buat kau jadi milikku seutuhnya dan kau akan mendesah memanggil namaku.” Bisik Jackson menggoda batin.
“brengsek.” Desis Helena.
“iya. Aku memang brengsek tapi hanya untukmu bukan yang lain.”
Dan terjadilah malam pertama yang di bumbui dengan rasa cemburu dan juga amarah bukan seperti malam pertama yang di rasakan kebanyakan orang.
Kesalahpahaman membuat Jackson menyesal meminta haknya dengan kasar. Gadis itu ternyata seorang perawan dan dia tidak pernah melakukan dengan orang lain sebelumnya tetapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa menghentikan nafsunya yang sudah memuncak.
Dapat di dengar sebuah desahan dan juga isakan dari mulut Helena menahan sakitnya di bagian bawah dan jangan lupa pergelangan tangannya yang sudah kemerahan. Belum saja genap dua puluh empat jam mereka menikah, sudah seperti ini apalagi jika mereka hidup bersama selamanya.
“terimakasih sayang. Sudah menjaganya untukku dan aku juga menarik kata-kataku tadi. Maaf.” Setelah ritual panas berakhir, ia merengkuh tubuh Helena dan menyelimutinya.
“aku akan membunuhmu.” Setelah berkata seperti itu, gadis tersebut langsung tertidur. Sekarang dia bukan lagi seorang gadis melainkan wanita.
“aku akan menerima kemarahanmu nanti sayang. Maaf.” Jackson mengecup keningnya lalu menyusulnya tidur.
Entah apa yang akan terjadi besok tapi Jackson berdoa di dalam hatinya supaya ada sesuatu yang akan tumbuh di dalam perut istrinya. Ia tidak ingin istri yang sangat dicintainya pergi meninggalkan dia suatu saat nanti.
-BERSAMBUNG-