LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 92



Setelah selesai berdiskusi, Helena memutuskan pergi dari sana tepat saat ia berpapasan dengan suaminya dan kedua temannya itu.


Wanita itu meminta ijin pada suaminya untuk pergi ke ruangan dosen karena ada tugas yang harus ia serahkan. Jackson ingin sekali mengantarnya ke sana tetapi ia ingat sekarang sudah jamnya untuk masuk ke kelas. Laki-laki itu hanya bisa menatap sendu ke pergian istrinya.


Teman-temannya tidak habis pikir kenapa seorang Jackson yang cool berubah menjadi melo seperti ini.


Sesampai di ruang dosen, Helena langsung menuju ke salah satu meja dosen. “pak David, saya ingin menyerahkan tugas.”


Pak David menerimanya dan langsung memeriksa tugas Helena. Sesekali ia menganggukan kepala bahkan tersenyum. “ini bagus sekali. kau benar-benar hebat, Helena. Dalam waktu singkat kau sudah menyelesaikan tugas ini bahkan ini lebih dari yang aku harapkan. Tidak salah para dosen selalu memujimu.” Tutur pak david setelah selesai membaca.


“terimakasih pak, kalo gi__” perkataan Helena terpotong karena suara teriakan seseorang.


“PAK DAVID… PAK DAVID… PAK DAVID…” tiba-tiba orang itu berlari menghampiri mereka lalu berdiri di sebelah Helena.


“ada apa pak Joni?” tanya pak David.


“gi… gini pak. Boleh saya minta tolong untuk menggantikan saya mengajar. Is… istri saya mengalami kecelakaan tadi di jalan saat mau pergi memeriksa kandungannya. Tolong saya, gantikan saya selama sebulan pak. Anak dan


istri saya membutuhkan saya.” Terlihat jelas dari wajah pak Joni kalau dia sangat khawatir.


“saya ingin sekali membatu pak. Tapi… saya juga ada seminar di luar kota. maaf pak saya tidak bisa membantu.” Ucap pak David tidak enak.


“tapi pak…”


“aaa… atau gini saja, bagaimana kalo Helena yang menggantikan bapak. Dia kan sudah mahasiswa S2 jadi dia pasti paham mata kuliah S1. Bagaimana Helena?”


Wanita itu menunjuk dirinya sendiri sambil berkata. “saya?”


“iya kamu. kamu kan mahasiswa terbaik di kampus ini apalagi sekarang kamu tinggal menungu jadwal wisuda. Jadi kamu mau ya bantu pak Joni.” Ucap pak David.


“iya sih. tapi…”


Pak Joni meraih tangan kanan Helena dan menggenggamnya erat. “kamu tolong saya ya. hanya satu kelas saja. Kelas suamimu, Jackson. Bagaimana?” tawarnya.


Helena diam sejenak. Ia berpikir kalau mengajar di kelas suaminya berarti ia juga bisa mengawasi gerak-gerik suaminya dan juga Lianna. Ini bukan ide yang buruk. Namun ia kembali menggerutui dirinya sendiri yang over protektif terhadap Jackson. Kehamilan membuat dia menjadi seorang pencemburu.


“baiklah tapi selama saya mengajar, saya mau anda jangan mengatur bagaimana atau dengan apa saya mengajar mereka dan saya memiliki ke bebasan untuk melakukan apapun. Deal?”


.


.


.


Saat ada di kelas, Jackson dan teman-temannya sedang asik mengobrol tiba-tiba Lianna duduk di sebelah Jackson menghentikan pembicaraan mereka tadi.


“Jackson, kamu ngerti gak soal ini. tolong ajarin aku ya.” ucap Lianna malu-malu sambil menyerahkan bukunya pada Jackson.


“dedek Lianna nanyanya sama abang Leon. Abang Leon dengan senang hati bantu dedek. Apalagi bantu dedek cari calon suami.” Rayu receh Leon.


“lo mah gak bisa liat cewek cantik dikit.” Seru Demian sambil menarik kerah baju Leon ke belakang karena Leon ingin mendekati Lianna.


Demian awalnya biasa saja dengan kehadiran Lianna bahkan mungkin menyukainya karena pembawaannya manis, lugu dan juga pemalu seperti ini tetapi seiring waktu ia merasa Lucianna dan Yasmin memandang Lianna dengan tatapan tidak suka. Maka diam-diam Demian juga memperhatikan perilaku Lianna yang dalam kepolosannya menyimpan rasa lebih pada Jackson.


Sedangkan Lianna berpikir Demian sudah terpengaruh oleh pesonanya sehingga dia tidak menyukai laki-laki lain mendekatinya. Lianna menyeringai samar, ia bermaksud untuk memanfaatkan laki-laki tersebut untuk melancarkan aksinya nanti.


“ah… ini gampang kok. Sini aku ajarin.” Jackson menyelaskannya sambil menulis di buku gadis itu.


Tanpa ia sadari, Lianna mencondongkan tubuhnya ke arah Jackson sehingga dada gadis itu mengenai lengannya.


Melihat hal tersebut membuat emosi Luciana memuncak. Ingin sekali ia mencakar gadis itu tetapi harus di tahan karena Yasmin memegangi tangannya dari bawah meja dan  menatapnya mengisyaratkan ‘untuk jagang gegabah, ingat rencana kita.’


“Lin, anting-anting lo bagus banget sih. beli di mana?” Yasmin memulai pembicaraan terlebih dahulu.


Lianna yang di tanya seperti itu langsung menoleh ke Yasmin sambil memegang telinganya. “ini aku beli waktu aku jalan-jalan ke korea. Kenapa? kamu mau ya.”


“eh enggak. Cuma tanya aja soalnya gue sering liat lo ganti anting dan semua anting lo bagus semua. Lucu lagi.”


“aku masih punya banyak kok. Kamu mau liat? Ayo main ke rumah Jackson dan kamu juga Luci.”


Yasmin mengangguk antusia lalu melirik Luciana memberi isyarat ‘langkah pertama berhasil’. Entah Lianna yang bodoh atau Luciana dan Yasmin yang begitu licik sehingga gadis itu tak menyadirinya.


-BERSAMBUNG-