LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Three



Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan!!


...^_________^...


Vira sibuk mengangkat seprai Ella dan terlihat sebentar lagi langit akan mengeluarkan air hujan.


Vira pun berlari memasuki asrama sembari memeluk erat seprai Ella.


Tetapi Virra tetap saja terkena sedikit air hujan walaupun dia sudah berusaha berlari secepat mungkin.


Bukan hanya Virra saja yang sibuk mahasiswa lainnya pun sibuk berlari sembari memegang payung.


...^_________^...


Kembali lagi ke dalam kamar asrama Virra dan teman-temannya.


Mereka sibuk beradu mulut, maksudnya Ella dan Lina.


Sedangkan Dina sibuk melihat mereka beradu mulut sembari memakan cemilan milik Lina.


"Lina, bisakah kamu menolong aku mengangkut seprei sebentar?" Tanya Ella kesal.


"Waktu yang kamu gunakan untuk bicara dengan aku sudah bisa digunakan untuk mengangkut seprei itu." Jawab Lina tidak mau kalah.


"Bukankah aku sedang menggunakan masker?" Tanya Ella menjawab.


Ketika Ella dan Lina sedang sibuk beradu mulut, terdengar seseorang mengetuk pintu kamar asrama mereka.


"Ella! Ella! Ada yang mengetuk pintu." Kata Dina memberi tahu.


"Lina! Cepat buka pintu!" Teriak seseorang tersebut mengetuk pintu dengan tidak sabaran.


"Iya! Datang!" Jawab Ella membuka pintu.


"Cepat, Ella! Ella!" Jawab seseorang tersebut.


"Ya ampun! Terima kasih, Virra!" Kata Ella senang sembari mengambil alih seprei yang sedang Virra pegang.


"Diluar hujannya lebat sekali kalian malah tidak mengangkut sprei." Kata Virra marah sembari menyimpan tasnya dan mengambil baju baru agar tidak masuk angin.


Virra masuk kamar ke kamar mandi dan sibuk mengganti bajunya yang terkena air hujan.


Dan semuanya kembali sibuk pada kegiatan mereka masing-masing.


"Virra, malam sekali kamu baru pulang, habis pergi kemana saja?" tanya Ella kepo, sembari sibuk membenarkan masker wajah nya yang sedikit tidak benar.


"Masih saja bertanya? Ksatria Virra pasti baru pulang sehabis bermain. Akulah yang membawa laptopnya pulang." Sambar Lina menjawab sembari memakan cemilannya.


"Oh iya, laptopnya sudah ada di sini dengan selamat ya." Kata Lina memberitahu.


"Terima kasih, ksatria Lina." Jawab Virra dari dalam kamar mandi.


"Oh ya, ngomong-ngomong mengenai hal ini, hari ini aku dengan ksatria Virra menolong orang tapi malah di buat kesal." Kata Virra memulai topik pembicaraan.


"Ada apa?" Tanya Dina kepo.


"Karena Keyva itu." Jawaban Lina kesal.


"Keyva?" Tanya Ella heran.


"Virra, sejak kapan kamu mengenal Keyva? Mengapa aku tidak pernah mendengarnya darimu?" Tanya Ella kepada Vira.


"Saya tidak kenal. Hari ini aku pergi ke toko perbaikan bersama Lina, kebetulan berpapasan saat membeli aksesoris komputer. Pemiliknya berbuat curang karena dia tidak mengerti, harga dari memori RAM sampai dijual dua kali lipat lebih mahal. Aku sebagai mahasiswa jurusan teknik komputer pasti tidak bisa hanya berdiri diam saja kan?" Jawab Virra panjang lebar sembari keluar dari kamar mandi dan mengambil air minum.


"Jelas-jelas kamu menolongnya, tapi tahukah apa yang dia katakan?" Tanya Lina menggebu-gebu.


"Terima kasih teman, aku percaya pemilik toko ini tidak akan menipu aku. Lagi pula, dia sedang berbisnis sudah sudah pasti harus mengambil keuntungan." Kata Lina memperagakan kelakuan Keyva siang tadi.


"Huh! Dia itu berlaga hebat, bagaimana dengan kita? Kita malah terlihat sangat perhitungan, sangat vulgar. Pada akhirnya pemiliknya jadi tidak menjual barangnya kepada kita." Kata Lina menjelaskan panjang lebar dengan sangat kesal.


"Virra, bagaimana dengan laptopmu?" Tanya Lina khawatir.


"Mengganti motherboard itu memang mahal. Aku sudah memikirkannya juga, nanti aku hanya perlu membeli kapasitor di toko online lalu memperbaiki nya sendiri." Jawab Virra menjelaskan.


Sedangkan teman-teman Virra terlihat kesal apalagi Lina dia melongo tidak percaya.


"Sama sekali tidak mengerti!" Kata Dina ikut-ikutan.


"Aku juga." Jawab Lina mengacungkan tangan.


"Aku benar-benar kesepian." kata Virra dramatis.


...^_________^...


Esok paginya, di kampus Universitas Pemoeda, terdapat dua orang mahasiswi jurusan bahasa sedang mengobrol.


"Benar! Beberapa hari yang lalu, Fartunio memotret Virra turun dari sebuah mobil mewah, mobil itu setidaknya berharga ratusan juta rupiah. Virra bukanlah polos yang kamu kira." kata Mika kepada Keyva.


"Benarkah?" Tanya Keyva tidak percaya.


"Sudah pasti. Kebetulan sekali orangnya datang." kata Mika bangun dan menghampiri Fartunio yang baru saja datang dengan teman-temannya.


"Fartunio, foto Virra turun dari mobil mewah yang kamu foto itu perlihatkan kepada aku dan Keyva." kata Mika memintanya.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya Fartunio heran.


"Aku kebetulan berada di belakangmu, tapi tanganmu cepat sehingga aku tidak sempat berpikir untuk memotretnya." Kata Mika memberitahu.


"Sudah dihapus." Jawab Fartunio singkat.


"Dihapus? Jangan-jangan kamu menyukai orang itu ya? Sehingga ingin melindunginya." Kata Mika menuduh.


"Jangan bercanda. Bagaimana mungkin aku tertarik pada wanita seperti itu?" Jawab remeh Fartunio.


Mika pun pergi dan kembali ketempat duduknya.


"Bagaimana sudah mendengar apa yang dia katakan? Jangan percaya penampilan luarnya saja." Kata Mika kepada Keyva.


...^_________^...


Di lain tempat, di sebuah kamar asrama milik Virra dan teman-temannya, terlihat Virra sedang sibuk memperbaiki laptopnya tersebut.


"Virra! VD Technologies sedang mencari murid magang untuk bulan depan dan mencari beberapa orang dari jurusan teknik komputer, aku bantu daftar kamu ya?"Tanya Lina memberi bantuan.


"Baiklah, lumayan cocok. Lagi pula aku ingin mencari pekerjaan magang untuk bulan depan. Kalau begitu kamu bantu daftarkan Ella dan Dina juga." Kata Virra memberitahu.


"Oke!" Jawab Lina sembari menyatukan jari jempol dan jari telunjuk.


...^_________^...


Setelah beberapa saat kemudian, Virra memperbaiki laptopnya yang rusak akhirnya selesai.


Virra mencolokkan kabel yang tersambung dengan laptopnya dan menyalakannya.


Ternyata laptopnya berhasil Virra perbaiki, sedangkan Lina terlihat mengambil dan mengisi 2 gelas air minum.


"Selesai!" Kata Virra lega.


"Kau benar-benar menyelesaikannya? Mulai sekarang jika komputer ku bermasalah, aku akan datang padamu." Kata Lina takjub sembari menyimpan gelas Virra di mejanya.


"Tidak masalah. Itu mudah." Kata Virra enteng.


Virra segera membuka aplikasi game Solve Mission Mates dan mulai bermain.


"Kau langsung bermain game setelah memperbaiki komputer mu? Huh! Game adalah hidupmu!" Kata Lina muak.


"Aku sudah selesai belajar dan selesai memperbaiki, tinggal memperlihatkan seberapa berguna ya aku." Kata Virra sombong.


"Wah! Hanya komentar begitu saja, kau sangat narsis!" Kata Lina remeh.


"Dulu, aku juga berpikir bermain game hanya membuang-buang waktu saja. Tapi setelah bermain, aku menyadari ini sebuah dunia baru. Ada mimpi dan keterampilan? Kenapa aku tidak lebih berusaha?" Kata Virra bercerita.


"Huh." Lina menghela napas.


Virra dan Lina kembali melanjutkan kegiatan mereka masing-masing.


...^_________^...


Jangan lupa LIKE!!! Dan terimakasih dukungannya:3