LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 104



“apa yang terjadi.” Tanya Logan tanpa basa-basi saat sudah di dalam ruangannya.


“bukannya sudah jelas. Menurut anda apa lagi.” Helena menduduki dirinya di sofa panjang dengan gaya angkuh.


Logan hanya bisa menghela nafas panjang. Bagaimana tidak, semakin hari hubungannya dengan Helena semakin merenggang. Di lihat dari wanita itu memanggil dengan sebutan ‘anda’ bukan lagi ‘papah’ dan di tambah lagi kejadian kemarin.


“apa kau akan terus seperti ini? apa perlu aku di hadapanmu untuk mendapatkan pengampunan darimu.” Kata Logan lirih.


Helena mendengus pelan lalu berkata. “anda bersujud di depan saya sampai kaki anda patah tidak akan mengubah apapun. Yang saya mau adalah anda menyerahkan Shasa pada saya.”


“sudah berapa kali aku bilang. Aku tidak tau keberadaannya dimana.”


“kalo itu cari sampai ketemu. Masa gitu aja gak bisa.”


 Helena langsung beranjak dari sofa dan berjalan ke arah pintu. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Logan.


“oh ya satu lagi. anda harus berhati-hati pada ‘calon mantu’ anda itu.”


“siapa maksudmu.” Logan menatapnya bingung.


“siapa lagi kalo bukan Lianna.”


“dia bukan mantuku. Mantuku hanya kau, Helena. Tidak ada yang lain.” Tegas Logan.


“terserah anda, yang pasti saya sudah memperingatkan. Kalau gitu saya permisi.” Dan kali ini Helena benar-benar keluar dari ruangan itu


Sedangkan Logan di buat pusing sendiri karna masalah ini, ia harus menemukan mantan istrinya itu secepatnya kalau tidak rahasia ini akan terbongkar di hadapan anaknya. Jika Jackson sampai tau entah apa yang akan terjadi, mudahan saja tidak mempengaruhi pernikahan mereka.


.


.


.



Setelah keluar dari ruang kerja Logan, Helena menuju ke kamarnya bersama Jackson. Perlahan-lahan ia membuka pintu mendapati dokter Wahyu sudah menyelesaikan tugasnya dan ingin keluar dari ruangan itu bersama Agnes. Sebelum ia keluar, ia menjelaskan pada Helena bahwa suaminya butuh istirahat selama beberapa hari dan sekarang laki-laki itu sedang tidur pengaruh dari obat yang ia suntikkan pada cairan infus.


Wanita itu mengangguk tanda mengerti dan dua orang paruh baya itu keluar dari sana.


“apa lo gak capek?” ucap Helena basa-basi.


“capek kenapa?” tanya Lianna.


“ya… berperan sebagai istri bayangan mungkin.” Ujar Helena ambigu. Memang belakangan ini Helena terlihat sangat cuek tapi sebenarnya diam-diam ia mengawasi suaminya dan tentu dia tau ada siapa saja yang mencoba menggeser tempatnya sebagai istri dari Jackson Alexander Bernadette.


“maksudmu apa? aku bener-bener gak ngerti.”


“elo gak usah pura-pura di depan gue. Topeng lo itu gak cukup tebal buat ngebohongin seorang Helena Rosalie. Gue udah tau semuanya.”


Sesaat Lianna membeku mendengarnya dan perlahan-lahan ia menghapus air mata yang sempat tumpah melihat keadaan Jackson lalu ia mengangkat kepalanya menatap Helena datar.


“terus kalo kamu udah tau, mau apa? mau ngasi tau Jackson yang sebenarnya? Hehe. Dia gak akan percaya sama iblis kayak kamu.” ledek Lianna.


“siapa yang bilang kalo gue mau ngebongkar?”


“terus?” Lianna mengernyitkan dahinya.


“gue mau liat seberapa kuatnya topeng lo itu ngehadapin iblis kayak gue.” Helena memainkan telunjuknya di hadapan Liana sambil menyeringai.


Gadis itu menghempaskan tangan Helena lalu berkata. “aku gak takut. Sebelum aku jatuh akan aku buat kamu di tending jauh-jauh dari rumah ini bahkan dari kehidupan Jackson. Di mana-mana malaikat selalu menang melawan iblis.”


“hehe… itu hanya cerita untuk orang di luaran sana tapi kita tidak. Gue iblis berhati iblis sedangkan lo malaikat berhati busuk.”


“kita lihat siapa yang akan menang. Aku apa kamu.”


“silahkan. Gue mau liat gimana cara lo ngalahin gue.”


Sampai akhir Helena terus bersikap sombong bahkan Lianna di buatnya geram dan wajahnya merah padam menahan amarahnya. Wanita itu tau bagaimana caranya membuat musuhnya terjebak hanya dengan adu mulut singkat seperti ini.


“ngapain lo diem di sini. Sana keluar. Gue mau tidur, anak gue juga eneg ngeliat lo lama-lama.” Usir Helena.


Gadis itu menggeram sesaat lalu pergi meninggalkan kamar itu sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Helena membalikkan badannya menghadap Jackson yang sedang tidur pulas tanpa merasa terganggu sedikitpun pelan-pelan wanita itu mengelus wajah suaminya yang penuh memar di mana-mana. “sepertinya mulai saat ini aku harus membuat kamu menyadari semuanya. Maaf jika akhirnya kamu akan kecewa sama aku.” Bisik Helena sebelum mengecup kening Jackson.


-BERSAMBUNG-