LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 109



Kuis dadakan sudah selesai, semua orang satu persatu keluar dari kelas dan kini tersisa Jackson beserta teman-temannya. Di lihat Helena mendekat, Jackson ingin bangkit dari kursinya tetapi saat mendapatkan kode tangan dari istrinya ia kembali duduk.


Wanita itu berdiri di depan meja, meletakkan handphone di hadapan suaminya lalu mencondongkan tubuhnya dengan kedua tangan sebagai penopang di atas meja. Jackson tidak mengerti dengan raut wajah Helena datar bahkan auranya rasanya berwarna gelap. Dengan kode mata dari Helena, ia menyuruh Jackson untuk melihat handphone itu. Awalnya raut wajah laki-laki itu biasa saja tapi setelah ia menonton sampai selesai raut wajahnya berubah menjadi gugup dan begitu pucat.


“sayang… in.. ini bisa aku jelaskan.” Ucap Jackson terbata-bata.


“kurang ajar! Berani kalian jadiin adek gue taruhan. Teman macam apa lo semua. Adek temen lo sendiri lo jadiin maenan apalagi orang lain. Gak habis pikir gue sama kalian semua. Punya temen bukannya saling menjaga tapi__. Gue kecewa sama kalian.” Bentak Luciana. Walaupun yang lain tidak bisa melihat apa isi video nya tapi mereka masih bisa mendengar semua perkataan para lelaki itu di sana.


“sabar Luc. Sabar” ucap Yasmin sambil mengelus bahu Luciana.


Lalu gadis itu beralih menatap teman laki-lakinya. “gue benar-benar kecewa sama kalian. Demi kesenangan, lo bertiga rela nyakitin temen kalian sendiri. Kalian kayak musuh di balik selimut.”


“Akhirnya yang aku tungguin datang juga tapi sialnya kejadian ini setelah orang-orang pergi. Yah sudah lah, yang penting rencana ku berjalan lancar.” Batin Lianna yang masih ada di sana untuk menonton drama.


“kalian gak tau kejadian sebenarnya__” perkataan Demian di potong Helena.


“Lalu apa? Hmm. Kalian mau bilang kalo kalian gak tau gue siapa tapi udah terlanjur jadiin gue target gitu?.”


JLEB…


Perkataan Helena tepat sasaran. Mereka bertiga tidak bisa membantah kalau ini kesalahan mereka yang asal bermain tanpa tau siapa orang tersebut.


“ta… tapi gue gak ikut main kok” Elak Leon.


“Tapi lo diem aja tau adek temen lo di jadiin maenan” teriak Lucian tepat di telingan lelaki tersebut. Membuatnya mengaduh kesakitan.


“lo bertiga harus nerima hukuman.” Ultimatum Helena membuat Jackson, Demian dan Leon menjadi tegang.


“kunci mobilnya mana?.” Tagihnya.


Jackson menyerahkan kunci tersebut dengan sukarela dari pada menambah masalah lagi.


Sedangkan Demian membulatkan matanya melihat kunci tersebut beralih tangan. “ehh… itu mobil gue mau di apain?”.


“mobil lo, gak salah? Yang ada ini mobil gue. Kalian taruhan mobil ini pakai nama gue, berarti ini mobil gue bukan punya lo lagi” seru Helena sambil menggoyang kunci tersebut Sebentar di hadapan Demian.


“gue hukum kalian cuci semua mobil gue termasuk yang baru ini pakai sikat gigi. Dan sore ini harus semua selesai, paham?” titah Helena.


“yang, mobil kamu aja ada lima belum lagi sama hadiah pernikahan kita dan hadiah kehamilan mu. Itu banyak banget” seru Jackson lirih.


“siapa suruh beliin aku mobil padahal aku gak minta.” Sahut Helena polos.


“mampus lo bertiga.” Sindir Luciana.


“kalian gak usah ngebantah atau hukuman kalian nambah. Cuciin semua mobil keluarga gue sama punya mertua gue. Mau!!” ketiganya langsung menggelengkan kepala dengan mata yang melotot. Mereka tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi.


“Sialan. Cuma itu aja? Mana seru. Arghh… dasar Helena bego. Selalu aja ngancurin rencana gue.” Batin Lianna mengumpati Helena.


.


.


.



Setelah seharian mencuci mobil di halaman mansion keluarga Bernadette, ketiganya akhirnya bisa bernafas lega walaupun harus menahan malu karena semua pelayan wanita menontoni mereka sambil menertawai mereka diam-diam. Walaupun ada beberapa pelayan ada yang mengagumi ketampanan mereka saat basah kuyup tapi tetap saja seorang tuang muda akan malu mengerjakan tugas pelayanan seperti ini.


Mereka menghampiri Luciana dan Yasmin yang sedang duduk di tangga balkon sambil menikmati cemilan dan tanpa basa-basi mengambil minuman mereka yang ada di sana juga lalu menghabiskannya sampai tak tersisa.


“Wah gila. Capek banget. Istri lo gak maen-maen kalo ngerjain orang. Gue gak mau lagi-lagi deh.” Seru Leon sambil duduk selonjoran dan di susul kedua temannya.


“ini mah masih mending. Dulu gue di kerjain habis-habisan sama dia di apartnya.” Tutur Jackson.


“Ya syukur deh hukumannya ini aja. Kalo gue jadi lo gak sanggup.” Ucap Demian.


“Emang enak. Siapa suruh maen-maen sama Helen.” Ejek Yasmin.


“Betul tuh. Eh tapi ngomong-ngomong Helen mana ya dari tadi gak keliatan.” Luciana celingak-celinguk melihat sekitar.


Dan tak berapa lama Helena datang tetapi mereka semua mengerenyitkan dahi melihat penampilannya. Ia memakai baju olahraga tetapi memakai sarung tangan dan membawa tongkat bisbol. Lianna yang tidak sengaja lewatpun ikut bingung melihatnya dan segera ia bersembunyi di balik pintu agar tidak ketahuan mengintip.


-BERSAMBUNG-