I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 23



"Hal-hal yang menyedihkan terjadi. Tapi, kita tidak perlu hidup sedih selamanya." - Mattie Stepanek.


Kutipan yang tepat untuk hari ini. Kesedihan merupakan sisi terlemah manusia namun pembuka jalan untuk meraih kebahagiaan kita. Bukankah terlalu lama bersedih, itu sangat melelahkan. Maka, melangkahlah kedepan raih kebahagiaanmu.


Rencana datang ke kota M adalah untuk move on. Namun, setelah beberapa Minggu di kota M. Sepertinya, Aku tidak hanya cepat move on namun Aku juga menikmati liburan dan benar-benar melupakan semua kesedihanku. Sepertinya, Aku makhluk yang benar-benar disayang sama Tuhan. Tidak mudah bagi orang untuk cepat mengatasi kesedihannya, namun Aku katakan sekali lagi 'Aku benar-benar bisa'.


Sudah seminggu Aku didesa. Esok, Aku akan kembali ke kota. Yah, jadwalku di kota M lebih padat daripada jadwal kuliah. Semua sanak saudara yang ada disini benar-benar sangat membantu dan mendukungku. Membuat banyak rencana sehingga membuatku sibuk dan melupakan rasa sakitku.


Aku terbangun membuka mataku. Badanku rasanya sangat berat, aku seperti ditindih batu yang sangat besar. Aku yang tidur terlungkup, tidak bisa membalikkan badan hanya bisa menggerakkan kepala kekiri dan kekanan. Kedua kaki yang sangat padat berisi, empat puluh persen daging dan enam puluh persen lemak itu sangat cocok menjadi santapan hewan karnivora, kedua kaki itu mendarat dipunggungku. Beratnya bisa mencapai satu karung semen tiga roda. Aku rasanya engap, perutku yang berada dibawah rasanya ingin mengeluarkan isinya. Tanganku yang juga terhimpit dibawa perutku telah mati rasa. Badanku yang memang sudah pipih, depan belakang sudah sangat rata ditindih seperti ini mungkin akan menjadi gepeng dan semakin menjiplak triplek.


"Na, Na... Na.. tolong Aku." Teriakku yang terengap membangunkan adik sepupuku


Nana yang mendengar jeritanku terbangun dan menoleh kearahku.


"Kak, Chia kenapa?" Tanya Nana


"Na, tolong Kak Chia. Kedua Kaki Bombom menindih punggung Kakak." Ucapku


Nana yang mendengar ucapanku pun bergegas bangun. Dia bergegas mengangkat kaki Bombom namun sayang kedua kaki itu sangat berat. Nana yang bertubuh kecil tidak sanggup mengangkat kaki yang beratnya setara dengan satu karung semen. Pasalnya, tubuh Bombom tiga kali lebih besar dari tubuhku dan tubuh Nana.


Nana adalah anak perempuan dari kakak sepupuku. Artinya Nana adalah sepupu tiga kaliku. Aku tinggal dirumah orang tua Nana dikota, karena cuman keluarga Nana yang tinggal dikota selebihnya tinggal didesa. Kebetulan, Nana sedang libur sekolah karena itu Nana menemaniku pergi kedesa. Sementara, Bombom adalah sepupu kedua kaliku. Dia lebih muda 7 tahun dari Nana. Dan Aku 5 tahun lebih tua dari Nana. Bombom adalah nama panggilan kepada adik sepupu laki-lakiku itu pasalnya dia sangat gemoy dan memiliki pipi yan chubby.


"Bom, bangun kakimu itu berat tahu." Teriak Nana


"Na, Kakak sudah tidak kuat." Ujarku yang tidak hanya merasa berat karena ditindih tetapi juga Aku merasa kebelet BAB alias boker.


Nana menarik rambut Bombom, menjambaknya sangat kuat. Jika, dalam keadaan sadar mungkin Bombom sudah akan teriak karena tarikkan Nana sangat kuat. Tetapi, apa daya Bombom tidur sangat pulas seperti orang yang sudah tidak bernyawa bahkan jambakan Nana pun tidak membuat dia bangun.


Tanganku sudah benar-benar mati rasa, ditambah perutku yang sangat melilit. Aku bercucuran keringat. Selain menahan BAB aku juga menahan agar tidak mengeluarkan gas beracun yah apalagi kalau bukan 'kentut'. Hal ini sangat menyiksa perutku.


Nana yang melihatku pun hanya bisa menangis karena dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menangis sembari menendang-nendang Bombom yang tak kunjung bangun.


"Kak Chi....aaaa.... Bombom nggak mau bangun... Bagaimana ini." Seru Nana disambut tangisan


"Nana, jangan nangis." Ujarku Aku sudah benar-benar mati rasa ditambah Nana yang menangis membuatku jadi tambah pusing.


"Dasar Bombom beruang...." Teriak Nana kesal


"Na, kamu turun ke bawa. Minta tolong sama siapa saja yang kamu temui dilantai satu."


"I...ya... Kak." Jawab Nana sambil terisak


Nana pun bergegas pergi kelantai satu mencari pertolongan.


Aku sekuat tenaga menahan sakit terutama menahan perutku yang sudah sejak tadi melilit. Mungkinkah ini karma yang Tuhan berikan kepadaku, untuk menghukum diriku yang menyusahkan ini.


"Tuhan jika Aku lepas dari beban yang seberat batu beton ini, Aku akan benar-benar meminta ampunanMu untuk menghapus karma burukku." Ucapku dalam benak


Flashback On


Aku datang kerumah salah satu kediaman keluarga Ibuku. Om Lan, merupakan adik dari Ibuku. Om Lan memiliki dua orang anak laki-laki bernama Faris dan Baim atau yang dikenal Bombom. Faris satu tahun lebih tua dariku. Di desa ini Aku memiliki banyak sanak saudara, jadi Aku bergantian tidur dirumah keluargaku tersebut. Masing-masing sehari Aku nginap, ini sudah seminggu jadi Aku nginap ditujuh rumah keluargaku. Aku juga sangat kaget bahwa Ibuku memiliki keluarga yang banyak di kota M ini. Hari ini adalah jadwal Aku nginap dirumah Om Lan. Dan besok Aku akan kembali ke kota.


"Chia dan Nana, tidurnya dilantai dua saja yah. Nanti tidur sekamar dengan Bombom. Soalnya rumah Tante lagi dalam pembangunan jadi cuman punya 3 kamar, 1 kamar Tante dan Om, kamar Faris dan kamar Bombom." Ucap Tante


"Oh, iya nggak papa Tante. Maaf merepotkan yah Tante." Sahutku


"Faris dan Bombom tidak akur, jadi mereka tidak bisa sekamar." Lanjut Tante


"Kalau kamu mau tidur sama Aku juga boleh." Sambung Faris


"Idih, ogah." Jawabku


"Aku tidur dikamar Bombom saja, lagipula ada Nana juga. Jadi kita bertiga kan tidurnya." Lanjutku


"Oke, nanti Tante bersihkan kamarnya. Tante bawakan selimut. Kasurnya juga besar kok, bisa muat 5 orang." Ujar Tante


"Baik, Tante." Jawabku


Setelah Tante membersihkan kamar Bombom, Aku, Nana dan Bombom bersiap untuk tidur. Kami berdiri mengamati kasur. Masing-masing dipikiran kami adalah dimana posisi tidur yang nyaman. Aku dan Nana masih mencari tempat untuk kami tidur. Bombom berlari kemudian merebahkan badannya diatas kasur. Awalnya, kasur itu terlihat sangat luas. Namun, setelah Bombom naik keatas kasur. Kasurnya hampir full. Bombom mengambil space untuk 3 orang sekaligus. Aku dan Nana kemudian saling pandang.


"Aku tidur ditengah yah." Ucap Bombom


"Nggak bisa, Aku mau tidur disamping Kak Chia." Sahut Nana


"Nggak mau. Aku nggak mau dipojok..." Teriak Bombom


Bombom adalah pria kecil yang sangat penakut, karena itu Faris sering menakut-nakuti dia.


"Ngalah aja, Na." Tuturku


Akhirnya Nana mengalah dan setuju untuk tidur dipojokkan. Posisi kami sekarang adalah Nana dikiri, Aku dikanan dan Bombom ditengah.


"Bom, kamu tidurnya yang benar yah. Awas loh kalau menindihku. Badanmu tuh kek beruang ntar Aku gepeng." Oceh Nana


"Iya triplek." Sahut Bombom


Kami pun tidur dengan posisi yang telah kami tetapkan tadi.


Flashback Off


Nana berlari masuk kekamar yang disusul oleh Faris. Faris yang melihatku dengan wajah penuh kesakitan pun tertawa terbahak-bahak. Sebelum menolongku, dia mengambil banyak gambar dan juga video Aku yang sedang ditimpuk beban setara beton. Setelah itu, dia tertawa lagi dan baru kemudian menolongku. Dia memindahkan Kaki Bombom, tenaga pria memang cukup kuat. Aku pun terbebas dari beban tersebut. Tanganku seperti lumpuh tidak terasa apa-apa bahkan saat Aku sudah mengibas-ngibas kedua tanganku. Faris masih saja menertawakanku. Aku yang menahan rasa ingin buang air pun berlari menyenggol Faris hingga Ia terjatuh. Aku tidak perduli karena perutku sudah benar-benar sakit. Aku pun berlari ke toilet untuk melepaskan beban keduaku.