
Sesudah masak tadi, Aku belum bebenah diri. Tubuhku rasanya sangat lengket, karena saat masak Aku mengeluarkan keringat. Setelah, ngemil bersama tadi. Aku pun bergegas ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Sekalian wudhu untuk menjalankan solat magrib.
Setibanya didepan kamar mandi. Aku berpapasan dengan Kak Archi yang juga baru keluar dari kamar mandi. Sepertinya, Kak Archi juga sedang bersiap-siap untuk pergi ke masjid. Aku bergeser untuk mempersilahkan Kak Archi lewat terlebih dulu. Namun, Kak Archi masih saja berdiri mematung di depan pintu kamar mandi.
Aku yang sudah merasa sangat lengket dan juga bersamaan dengan waktu untuk membuang hajat yang telah ku pendam, maksudnya buang besar.
"Kak Archi, bisa tolong minggir dulu nggak? Aku mau make kamar mandinya." Ucapku sembari menahan perutku yang sudah mules.
"Iya, lewat saja." Ucap Kak Archi
"Yah, gimana mau lewat. Kak Archi aja halangi jalan gitu." Ucapku
Kak Archi masih saja berdiri didepan pintu, perutku sudah sangat mulas, ditambah badanku yang sangat lengket ini membuatku tidak nyaman. Dilihat dari gelagaknya sepertinya dia ingin bercanda denganku. Bagiku Kak Archi adalah manusia yang memiliki sifat seperti cuaca. Yah, suka berubah-ubah. Sekejap dia suka becanda, sekejap dia marah-marah, sekejap dia jadi pendiam pokoknya moodnya berubah dalam hitungan menit, eh enggak deh dalam hitungan detik. Dan pastinya menghadapi makhluk seperti ini butuh tenaga ekstra. Sesungguhnya, Aku paling malas menghadapi manusia model kayak gini. Entah apa yang dia pikirkan, terkadang juga dia orang yang begitu mesum.
"Kak Archi, Aku lagi nggak mau bercanda yah. Aku sudah mules, jadi tolong minggir." Ucapku kesal
"Bilangnya yang sopan. Kalau tidak Aku tidak mau pindah." Jawab Kak Archi
"Makhluk satu ini, suka mancing emosi deh." Ucapku dalam benak.
"Om Archi yang terhormat, bisakah engkau memberikan Aku jalan, agar Aku dapat masuk ke kamar mandi itu." Ucapku
"Kalau Aku nggak mau gimana?" Jawab Kak Archi singkat
"Kak Archiii." Teriakku kesal
"Ya Allah, Kak. Aku sudah kebelet sumpahhhh." Ucapku dengan nada yang merendah
"Aku bakal kasih kamu lewat, kalau kamu ngomongnya pake kata 'sayang' contohnya 'sayang Aku mau lewat' gitu." Tutur Kak Archi
Astaga apa yang ada di otak pria ini. Bisa-bisanya dia membuat kalimat menjijikkan seperti itu.
"Kak dikit lagi Azan, ntar kakak terlambat ke masjid loh, nggak dapat saf paling depan."
"Nanti Aku solat dirumah." Ucap Kak Archi
"Ya Allah, kakak. Ih, pahalanya kurang loh kak. Astaghfirullah, segitu inginnya di panggil kek gitu relain pahala yang besar." Ucapku dengan ekspresi kaget.
"Makanya, kamu juga dosa karena memperlambat Aku." Sahut Kak Archi
Aku menatap lekat wajah Kak Archi, dia tersenyum seperti psikopat. Rasanya Aku ingin menghajarnya. Aku menarik napas yang panjang.
"Sayangku Kak Archi, tolong minggir. Aku mau masuk ke kamar mandi. Terimakasih." Ucapku dengan tersenyum paksa.
"Iya, sayang." Ucap Kak Archi tetapi masih berdiri didepan pintu
Aku yang sudah kesal pun menabrak Kak Archi yang masih tidak bergerak dari tempat berdirinya. Hingga, dia sedikit terhempas.
Aku cepat-cepat masuk dan mengunci pintu kamar mandi.
Wajahku memerah karena mengucapkan kalimat yang begitu menjijikkan mana dengan suara yang manja. Argghh, rasanya pengen menghilang saja. Bagaimana jika Naina dan yang lain melihat tingkahku tadi, mungkin Aku akan menjadi bahan bully-an mereka.
Aku pun menanggalkan pakaianku, kemudian mengguyur sekujur tubuhku dengan air. Mulai menyikat gigi, memakai shampo, lalu beralih ke sabun dan terakhir mencuci wajah.
Setelah semuanya selesai, aku mengguyur lagi tubuhku hingga tidak ada residu apapun ditubuhku. Aku tidak begitu lama saat mandi. Sat set sat set dan akhirnya finish.
Aku mengeringkan rambutku dengan mentap-tap handuk ke rambutku. Setelah itu membalutnya dengan handuk yang tadi kupakai untuk mengeringkan rambut. Setelah itu, Aku mengenakan pakaian dan selanjutnya berwudhu. Setelah semua selesai, Aku pun bergegas keluar kamar mandi.
"Astaghfirullah, Kak Archi ngapain berdiri disitu sih." Teriakku yang kaget melihat Kak Archi berdiri disamping kamar mandi.
Dari penampilannya saja dia sudah rapi dengan setelan baju kokoh dan sarungnya ditambah peci dikepalanya. Dia sudah siap untuk bergegas ke masjid. Tapi, kenapa dia masih berdiri bahkan didekat kamar mandi yang konon sarangnya bangsa setan. Nggak mungkin kan dia mau ngintip Aku mandi. Masa iya ngintip orang mandi pakai pakaian syar'i gini.
"Siap-siap gih." Seru Kak Archi
"Siap-siap untuk apa?" Tanyaku
"Ke masjid." Jawab Kak Archi
"Ngapain?" Tanyaku lagi
"Nikah, yah solatlah. Buruan keburu azanya selesai nih."
"Hah? Tumben, ngajak Aku. Kemarin-kemarin nggak diajak Akunya."
"Nggak usah banyak bacot, buruan mau ikut nggak?"
"Eh, mau-mau. Sabar yah Aku ambil mukena dulu."
Aku pun bergegas ke kamar mengenakan mukenahku tak luput Aku membawa sejadah dan Al-Qur'an kecilku.
Setelah sudah siap, Aku dan Kak Archi pun keluar rumah dan menuju ke masjid. Kami ke masjid berjalan kaki. Karena kata Kak Archi masjidnya dekat.
Azan juga sudah pada 3 lafal terakhirnya. Kak Archi jalan begitu buru-buru. Kakinya yang panjang membuatnya melangkah sangat besar. Sementara, Aku berlarian mengikuti langkah Kak Archi.
"Apaan sih tuh orang, niat ngajak nggak sih. Mana langkahnya panjang pula. Yang ada Aku sampai di masjid keringatan karena berlari mengikuti langkahnya." Ocehku
Kak Archi yang mendadak berhenti membuatku hampir terjatuh karena menahan keseimbanganku akibat rem mendadak.
"Kamu cerewet sekali. Jalannya cepat." Ucap Kak Archi.
Kak Archi pun menyamakan langkah kakinya dengan langkahku. Dan kami pun melanjutkan perjalanan hingga tiba dimasjid.
Setibanya, kami di masjid. Kami masuk pada pintu yang berbeda. Karena, tempat wanita dan lelaki dipish oleh pembatas.
Kami pun solat magrib. Setelah solat, kami masih dimasjid menunggu solat selanjutnya yaitu solat isya. Sembari menunggu solat isya. Aku menyempatkan membaca kitab suci Al-Qur'an yang tadi Aku bawa.
Aku pun membaca ayat per ayat hingga mencapai 5 halaman. Tidak lama setelah itu, azan isya pun berkumandang. Kami bersiap-siap untuk melanjutkan solat isya.
Seusai solat dilanjutkan dengan zikir dan doa, tiba saatnya kami pun pulang.
Aku keluar mencari sosok yang kukenal yaitu Kak Archi. Tiba-tiba ada yang menarik lengan bajuku.
"Ayok, pulang." Tukas Orang itu yang ternyata adalah Kak Archi
Kami pun bergegas pulang, seperti awal datang tadi. Pulang pun langkah kami berbeda, karena perbedaan panjang ukuran kaki kami jadi langkah kami berbeda. Namun, kali ini Aku tidak mengoceh karena Aku tahu arah jalan kerumah tidak seperti tadi Aku belum tahu arah ke masjid. Jadi, tidak masalah jika Kak Archi jalan mendahului Aku.
Aku berjalan sambil menengok kiri kanan. Ku amati satu persatu kehidupan sekitar. Wajahku tiba-tiba terbentur dipunggung orang. Yah, itu punggung Kak Archi yang tiba-tiba berhenti melangkah.
"Kak Archi ini suka berhenti mendadak yah. Duh, hidungku jadi sakit tahu." Ocehku
"Matamu yang tengok kiri kanan, kenapa jadi salahin Aku. Lagian juga emang kamu ada hidung." Sahut Kak Archi
"Ada yah ni mo tengok hidungku. Lagian kenapa mendadak berhenti sih." Ucapku sembari mengelus hidungku.
Kak Archi pun menggenggam tanganku tanpa berbicara sepatah katapun. Aku hanya mengikutinya karena dia menggenggam tanganku begitu erat. Kami berhenti didepan gerobak angkringan. Beberapa gerobak berjejer yang pastinya ada beberapa jajanan yang disuguhkan oleh gerobak-gerobak itu.
"Kamu mau beli apa?" Tanya Kak Archi
"Tapi, Aku nggak bawa uang kak." Sahutku
"Kakak yang traktir." Ucap Kak Archi
"Ih, nggak usah. Pulang aja ayok."
"Enggak, kamu beli atau kita tidak pulang."
"Ih, kok maksa. Ya udah deh nanti Aku ganti uangnya dirumah." Ucapku
Aku pun mengelilingi masing-masing gerobak, untuk melihat apa saja yang dijual. Aku hanya menunjuk satu jajanan. Karena, Aku harus beradab karena uang yang digunakan bukan punyaku. Namun, tidak bisa ku berkata apa-apa lagi, melihat semua jajanan yang ada di beli masing-masing satu persi pada setia gerobak.
"Kak banyak banget itu. Bagikan juga untuk orang dirumah." Ucapku
"Enggak, kita makan disini." Ucap Kak Archi
"Lah, siapa yang bakal ngabisin."
"Kamulah. Kalau kamu nggak habisin, kita nggak bakal pulang."
"Ih, sadis amat."
Aku dan Kak Archi pun duduk dikursi angkringan untuk menghabiskan jajan kami.
"Kamu mau rasa ini nggak?" Ucapku Kak Archi
"Boleh, sini Aku minta satu." Ucapku yang kemudian mau mengambil jajan yang ditawarkan kak Archi.
Kak Archi memukul tanganku, membuat ku kaget.
"Aaaaaa, buka mulut mu aaaa." Ucap Kak Archi
"Apaan sih, Kak. Aku punya tangan sendiri." Ucapku
"Aaaa.... Cepat!" Ucap Kak Archi yang masih memaksa untuk menyuapiku
Aku pun melirik kiri kanan kupastikan tidak ada yang melihat tingkah kak Archi. Saat Aku yakin sudah aman tidak ada mata yang memandang, Aku pun menuruti perintah Kak Archi untuk membuka mulutku. Dia pun bergegas memasukan makanan kedalam mulutku.
Setelah menyuapiku, dia pun terus menatapku tanpa berpaling sedikit pun.
"Adakah yang salah dengan wajahku. Kenapa Kak Archi lihatin mulu?" Tanyaku
"Kamu cantik soalnya. Oh, iya jajananmu keknya enak. Aku mau dong." Tutur Kak Archi
"Ini ambil aja. Kan Kakak yang beli."
"Aaaaa...." Kak Archi yang membuka mulutnya agar aku menyuapinya.
"Kak Archi, nggak punya tangan yah. Ini ambil sendiri deh, jangan kek anak kecil yang harus disuapin."
"Aaaaa...."
"Astaga, orang ini menyebalkan sekali. Baru juga habis solat udah dipancing lagi buat nambah dosa karena mencaci dirinya." Ocehku membatin
Aku pun memasukkan makanan kedalam mulut Kak Archi. Dia pun tersenyum sangat lebar. Seperti merasa sangat puas akan suatu hal. Setelah, menghabiskan jajanan. Kami pun beranjak pulang.