
Kami pun tiba dikebun jeruk Bali, kami menghampiri Faris dipondok. Dia sudah mengumpulkan beberapa jeruk Bali tersebut. Dia yang melihat ku berjalan sambil memegang pada lengan Zaid pun bergegas kearah kami.
"Kamu kenapa?" Tanya Faris
Zaid pun mulai menceritakan kejadian yang menimpaku. Aku tahu apa tindakan Faris selanjutnya. Benar sekali, dia tertawa terbahak-bahak. Dia sangat senang menertawakan kesialan orang.
"Kenapa tidak kamu video sih, Id." Ucap Faris
"Orang lagi kena musibah kok divideo." Jawab Zaid
"Tahu nih, Si Faris. Nggak punya hati banget." Ucapku kesal
"Oke-oke, maaf. Ayok kita makan buah. Tadi sudah ku petik beberapa. Oh iya, Bom dan Nana pergi mandi sana. Kalian bau tahu." Ucap Faris
Nana dan BomBom pun bergegas kembali kerumah Kakek untuk membersihkan badan mereka. Tinggalah Aku, Faris dan juga Zaid.
Faris sudah mengupas jeruk Bali tersebut. Tak lupa juga dia membelah menjadi beberapa bagian.
Tiba-tiba saja Faris dan Zaid menyodorkan sepotong jeruk Bali itu kepadaku secara bersamaan. Untuk beberapa saat kami ngelag sebentar. Aku memandangi dua buah yang disodorkan kepadaku.
Aku pun menepis kedua tangan mereka dan membawa sepotong buah jeruk yang terletak dibawah. Padahal, Aku bisa mengambil sendiri kenapa mereka repot-repot memberikan punya mereka kepadaku.
Kami pun menikmati buah tanpa ada suara sedikitpun. Mungkin karena aku menolak buah yang mereka tawarkan membuat suasana menjadi canggung.
Beberapa saat kemudian Bombom dan Nana datang kembali dengan pakaian yang rapi dan mereka sudah bersih.
Mereka ikut bergabung menikmati buah jeruk Bali tersebut.
"Aku metik buah rambutan dulu yah." Ucap Faris yang kemudian beranjak pergi
Zaid masih tetap bersama dengan kami bertiga.
"Kepala kamu masih sakit?" Tanya Zaid
"Udah enggak kok." Jawabku
Aku dan Zaid pun berbincang-bincang dan sekali-kali tertawa bersama karena Zaid menceritakan lelucon. Sebenarnya, Aku adalah tipe orang yang mudah tertawa karena selera humurku receh. Hanya saja tipikal wajahku yang judes dan datar inilah yang membuat Aku sulit mendapatkan teman.
Kami berdua pun bercerita sambil mengemut buah yang ada didepan kami.
POV: Nana dan BomBom
"Coba tuh lihat Kak Zaid, nempelin Kak Chia mulu." Ujar Nana.
"Iya, kek cicak nempel didinding saja." Sahut BomBom.
"Pastikan dia suka sama Kak Chia." Lanjut Nana
"Iya, ih Aku nggak setuju. Kak Chia kan punya Kak Faris." Sambung BomBom.
"Ih, siapa bilang. Kak Chia itu punya Kak Archi titik nggak pake koma." Tutur Nana
"Punya kak Faris nggak mau tahu. Waktu itu Kak Faris ngajak Kak Chia ke pantai."
"Ke pantai saja sombong. Kak Archi jemput kak Chia di pelabuhan. Trus Kak Archi juga yang antar kak Chia ke desa ini."
"Tapi, Kak Chia lebih cocok sama Kak Faris "
"Enggak cocok, Kak Faris saja kek ba**i gitu. Tahunya gosip doang kek emak-emak saja."
"Awas yah kamu aku bilangin ke kak Faris"
"Bilang aja, Aku nggak takut."
Bombom dan Nana yang tiba-tiba saja berdebat panjang lebar akhirnya saling jambakan dan mencakar satu sama lain.
POV: Kembali ke Chia
Aku dan Zaid bercerita panjang lebar. Tiba-tiba kami dikagetkan oleh BomBom dan Nana yang saling menjambak dan teriak-teriak menyebutkan namaku.
"Zaid, lerai mereka berdua tuh." Ucapku kepada Zaid
Zaid pun meleraikan mereka berdua. Entah apa yang mereka perebutkan kali ini. Aku tidak habis pikir dengan tingkah mereka berdua. Sekejap akur dan sekejap berantem.
"Kalian berantem kenapa lagi?" Tanyaku
"Si Nana yang jambak rambutku duluan."
"Bohong dia yang dorongin Aku duluan. Aku hampir jatuh tadi."
"Kami tuh yang bohong." Teria BomBom
Mereka kembali berantem, sementara Aku hanya menepok jidat melihat kelakuan mereka berdua.
Faris yang datang kemudian menjitak kepala BomBom, sehingga membuat BomBom menangis dan berlari kerumah Kakek. Sepertinya, dia akan mengadu pada Kakek.
"Biarin dia saja. Memang dia suka gitu." Ucap Faris.
Setelah Faris datang, kami pun memasukkan buah yang sudah kami jarah kedalam kantung yang telah kami persiapkan sebelumnya. Karena hari sudah sore kami pun berniat untuk pulang. Hari ini adalah hari yang menyenangkan dan sangat berkesan, akan Aku ceritakan pengalaman ini kepada teman-temanku. Biar mereka iri padaku.
Kami pun melangkah meninggalkan kebun dan istirahat dirumah Kakek sejenak. Sebenarnya para tetangga Kakek sudah menunggu untuk memperbaiki benda-benda elektronik milik mereka. Namun, karena aku tertimpa musibah mereka pun mengurungkan niat mereka. Sebab Aku yang tidak dapat berjalan dengan baik. Aku pun diantar oleh Zaid menggunakan sepeda motor miliknya. Sementara, Faris, Nana dan BomBom balik ke rumah Om Lan dengan berjalan kaki seperti awal kami datang tadi.
Hari ini adalah hari terakhir Aku didesa karena esok Aku sudah balik ke kota. Dan Aku akan balik lagi kedesa saat berpamitan untuk meninggalkan kota M.
Setibanya, dirumah Om Lam. Zaid membantuku turun dari motor. Tante yang melihatku bergegas kearahku untuk membantuku. Yah, sebelum membantuku Tante mewawancarai kami terlebih dahulu menanyakan sebab akibat dan kejadian sehingga musibah menimpaku. Aku diomel sama Tante dan juga diceramahi karena kurang berhati-hati. Selain itu, Tante juga mencibiri BomBom dan Nana yang sangat keterlaluan.
Selepas salat Isya, Aku pun duduk diatas kasur. Pergelangan Kakiku sudah merasakan sakit. Tidak hanya itu badanku juga merasakan hal yang sama. Hari ini Aku banyak ketiban beban.
Bombom tiba-tiba saja masuk kedalam kamar. Dia melangkah perlahan kearahku dengan wajah yang penuh sesal.
Aku menatap BomBom, wajahnya itu loh menggemaskan sekali. Pipinya yang chubby, matanya yang terlihat memelas. Arghhh dia sangat imut. Bagaimana bisa Aku memarahi anak yang seimut ini.
"Nggak papa kok. Lagian, BomBom kan juga tidak sengaja. Tapi, lain kali BomBom hati-hati yah. Kalau BomBom sama orang lain bisa saja BomBom dimarah." Ujarku
"Iya, Kak. Jadi, kak Chia nggak marah kan."
"Iya, enggak." Jawabku sembari mencolek pipi chubby BomBom.
"Kalau gitu, Kak Chia mau makan apa? Atau mau minum apa? Nanti Aku buatkan. Soalnya, kata Mama Kak Chia nggak boleh gerak dulu nanti kakinya tambah sakit."
"Kakak masih kenyang. Nggak papa nggak usah."
"Kalau mangga yang tadi kita petik mau. Biar sekalian Aku bilang Kak Nana kupasin."
"Mangga? Oh boleh-boleh. Tapi kalian nggak boleh bertengkar pas kupas mangganya yah. Takutnya nanti teriris pisau lagi."
"Okey, bos." Ucap BomBom
Bombom pun bergegas keluar dari kamar. Setelah pulang tadi, selepas diceramahi panjang lebar. Tante menyuruhku untuk beristirahat dan tidak perlu membantunya mengerjakan apapun. Karena Aku juga jalannya agak kesulitan.
Baru juga BomBom melangkah keluar, sudah ada suara langkah kaki lagi yang memasuki kamar. Aku kira BomBom yang kembali. Ternyata Aku salah, yang datang malah Faris.
"Gimana Kakimu?" Tanya Faris
"Yah, gitu." Jawabku
Faris pun melangkah mendekatiku. Dia pun duduk didekat kakiku berada.
"Aku bantu oleskan minyak yah. Sekalian aku bantu pijat." Ujar Faris
"Nggak usah. Nggak boleh." Sahutku
"Kenapa? Biar cepat sembuh loh." Jawab Faris
"Nggak boleh, haram tahu." Ucapku
"Apanya yang haram? Kamu pikir aku ba*i yang haram."
"Perempuan dan wanita nggak boleh bersentuhan tahu bukan muhrim."
"Hah? Perempuan dan Wanita"
"Eh, maksudnya Pria dan Wanita tidak boleh bersentuhan. Sorry, otak Aku agak dikit eror."
"Lagipula Aku kan cuman bantu oleskan minyak. Nggak ngapa-ngapain juga. Udah sini, biar cepat sembuh."
"Nggak boleh Faris, nggak boleh. Keselo itu nggak boleh dipijat sembarangan. Bukannya sembuh tapi nanti tambah parah..."
"Heleh, kami di desa kalau jatuh langsung dipijat sembuh kok."
"Ih, nggak boleh sembarangan. Kecuali sama ahli fisioterapinya langsung. Lagian yah kalau kaki keseleo itu dikompres pakai es batu, trus kakinya diperban, posisi kakinya harus lebih tinggi dari kepala gitu tahu."
"Oh, gitu. Ya udah Aku ambilkan es batu dulu biar aku bantu kompres." Ucap Faris yang kemudian melangkah keluar kamar.
Beberapa detik kemudian dia kembali membawa semangkuk es batu.
"Ini esnya, aku bantu kompres yah."
"Pake sarung tangan." Ucapku dengan wajah memelas.
"Ha, ngapain pake sarung tangan?"
"Biar nggak bersentuhan langsung."
"Astaga, segitunya. Lagian tadi sama Zaid kamu pegangan."
"Ih enggak yah. Aku pegang lengan bajunya doang. Nggak bersentuhan langsung."
"Oke oke bawel." Ucap Faris yang sudah tidak mau berdebat denganku.
Faris pun membantu mengompres pergelangan kakiku yang terkilir. Aku hanya meringis namun dengan suara cukup pelan.
"Kalau mau nangis dan teriak. Lakukan saja nggak usah malu." Ucap Faris yang masih fokus mengompres kakiku
"Ha? Idih siapa juga yang mau nangis dan teriak. Aku nggak selemah itu yah."
Faris yang mendengar itu kemudian menekan es batunya lumayan agak kuat.
"Awww, Faris...." Teriakku dengan mata yang sudah berkaca-kaca
"Katanya nggak lemah." Ucap Faris
Dia pun menoleh kearahku, dia melihat mataku yang sudah berkaca-kaca.
"Eh, maaf... Maaf." Ucap Faris
Dia pun bergegas memeluk kepalaku. Dan kemudian mengusap kepalaku. Aku pun tanpa sadar meneteskan air mata. Aku semakin lemah, sisi kefeminimanku semakin menjadi-jadi. Hanya seperti ini saja sudah membuat Aku menangis. Aku pun menangis tersedu-sedu dengan mengkomat-komat sembarangan. Faris menepuk-nepuk pundakku. Dan membiarkan Aku menangis. Padahal hanya perkara keselo tapi sedrama ini. Memang naluri cewek benar-benar drama.
"Udah udah nangisnya. Ini sudah Aku kompres. Trus mau diapakan lagi."
"Di di per...bannn..." Ucapku yang bersamaan dengan segukan habis menangis
Faris pun membalut pergelangan kakiku. Setelah itu, dia meletakkan kakiku diatas bantal yang telah ia tumpuk menjadi dua tumpukan. Setelah melihat ku membaringkan badan, dia pun izin untuk keluar.
Bombom dan Nana tidak kembali masuk. Mungkin, Faris yang mencegat keduanya. Nana dan BomBom malam ini tidak tidur bersama denganku. Mereka tidur dikamar Faris. Sementara, Faris nginap dirumah Kakek.