I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 86



Dua Minggu berlalu, Chia masih sibuk dengan pertandingan basket yang diikutinya. Dia juga tidak menyangka bahwa timnya bisa sampai ke babak final.


Tidak hanya sibuk dengan pertandingan, Chia juga sibuk dengan jurnal yang dirancangnya bersama dengan dosennya. Dia sering bolak balik ruang dosen demi menyelesaikan jurnal itu.


Jam kuliah telah berakhir, Naina, Aris, Anton dan Cherly sedang duduk didepan gedung fakultas menunggu Chia yang sedang konsultasi jurnal di ruang dosen.


"Jadi, Chia masuk final nih?" Tanya Anton.


"Iya." Jawab Naina.


"Aku pikir mereka langsung gugur gitu hahaha... Hebat juga bisa sampai final. Aku nggak lihat pertandingan selanjutnya setelah pertandingan pertama mereka seri." Tutur Anton.


"Emang, kamu kan nggak setia kawan." Oceh Naina.


"Soalnya, Chia kayak nggak ada guna tahu dilapangan. Semua dikuasai kating jadinya malas deh nontonnya." Balas Anton.


"Nggak tuh, 2 kali pertandingan Chia yang masukin bola loh." Ucap Cherly.


"Yang benar?" Tanya Anton.


"Iya, sumpah weh. Baru kali ini Aku lihat Chia seserius itu saat pertandingan." Tutur Cherly.


"Emang diakan suka kadang-kadang. Kadang serius, kadang gila ketawa sendiri." Sahut Aris.


"Kapan pertandingan finalnya?" Tanya Anton.


"Lusa." Jawab Naina.


"Oke deh, Aku mau nonton."


......................


Naina dan lainnya sedang asyik ngobrol tiba-tiba saja mata mereka tertuju pada mobil yang berhenti disamping gedung dekat pondok tempat mereka nongkrong.


"Weh Weh, siapa tuh?" Tukas Aris.


"Gila ***, mobilnya." Sahut Anton.


Seseorang turun dari mobil, seorang pria dengan style seperti CEO perusahaan ternama. Wajahnya yang tampan dan tubuh tegak mencuri perhatian sekitar dalam sekejap. Dengan kacamata hitam yang dikenakannya, pria itu bersandar diluar mobil seperti sedang menunggu seseorang.


"Na, cogan..." Jerit Cherly.


"Wah, apakah dia seseorang aktor atau model? Amazing." Tutur Naina.


"Orang kaya tuh. Stylenya aja pasti bermerk tuh." Ucap Anton.


"Dia sepertinya lagi nunggu orang deh." Ucap Aris.


"Nungguin Aku mungkin." Sahut Cherly.


"Nggak dia lagi nungguin Aku tahu." Ucap Naina.


"Halu bet dah kalian. Dia lagi nungguin Aku." Sambung Aris.


"Jis najis..." Sarkas Cherly.


"Tapi, Aku kayak pernah lihat loh." Ucap Naina.


"Halah, ngehalu lagi."


"Enggak, benar deh Aku pernah lihat tapi lupa dimana?" Tutur Naina.


"Dalam mimpi."


"Is ya udah kalau nggak percaya tapi Aku pernah lihat pokoknya."


Tidak hanya menyita perhatian Naina dan lainnya. Bahkan orang-orang digedung lantai dua pun sedang melihat pesona pria itu dan juga pastinya banyak gadis-gadis yang juga mulai menghalu seperti Naina dan Cherly.


Dilantai dua, Nadin dan gengnya sedang memperhatikan pria itu. Tidak hanya mereka bahkan Alif, Kay, Andi, Sandi, Angga, Ria, Bian, Yeni juga melihat dari lantai dua gedung fakultas.


"Ih, dia tampan sekali." Ucap cewek-ceweknya.


"Apaan lebih cakepan Aku lah." Sahut Alif.


"Idih, ngaca dong."


"Mobil mahal loh itu." Ucap Bian.


"Harganya loh beh." Sahut Kay.


"Pasti dia pengusaha tuh." Jawab Sandi.


"Eh, jangan-jangan dia mau ngajar kali disini. Kan ada kuliah umum siapa tahu dia yang mengisi materi." Ucap Nadin.


"Mungkin aja, kalau benar... Aku mau ikut."


"Dasar ciwi-ciwi." Ungkap Bian.


......................


Sementara itu, diruang dosen. Chia sedang membahas jurnal yang sudah pada revisi akhir.


"Yah, bapak rasa ini sudah perfect." Ucap Pak Dosen.


"Alhamdulillah, jadi ini langsung Aku ngirim saja ke email bapak?" Tanya Chia.


"Iya, langsung kirim saja nanti bapak yang upload."


"Oke, Pak."


"Chia lusa ada tanding basket yah?"


"Iya, Pak. Babak Final."


"Mantap Chia, semua diembat yah." Sahut Pak Arga.


"Enggak, Pak. Aku cuman ikut-ikutan." Jawab Chia.


"Oh, iya Chi ntar ada lomba debat kamu ikut aja lagi sama ada lomba gemastik ikut juga yah." Sambung Pak Rio.


"Insya Allah, Pak. Kalau Aku sanggup ntar Aku ikut hehehe." Tutur Chia.


"Semangat, semoga sukses terus." Tutur Pak Roni.


"Aamiin, Pak. Oh iya Aku pamit dulu yah Pak. Sudah ditunggu sama teman-teman soalnya."


"Iya iya, silahkan. Lusa kan pertandingannya. Nanti bapak hadir yah kita jadi sporter."


"Wah, jadi gugup. Oke, Pak. Saya pamit dulu. Permisi." Ucap Chia.


Chia pun keluar dari ruangan, dia berjalan keluar gedung karena teman-temannya sudah menunggunya.


Didepan pintu keluar banyak orang yang berdiri entah apa yah mereka lihat. Bahkan, Chia pun penasaran.


"Kok rame yah? Apa yang berantem?" Batin Chia.


Chia pun bergegas keluar, melewati keramaian. Dia pun mencari keberadaan teman-temannya yang ternyata ada tepat disamping pintu.


"Gays. Ada apa ini kok rame kali?" Tanya Chia.


"Hah? Lah iya dong rame?" Ujar Naina.


"Kirain cuman kami yang terpesona ternyata..." Ucap Cherly dibarengin dengan wajah mereka melihat sekeliling.


"Ada apa sih ini?" Penasaran Chia.


"Itu loh, cogan loh... Mana tajir lagi."


Chia menoleh ke arah yang ditunjuk Anton, wajahnya perlahan berubah.


"Eh eh dia lagi telpon siapa tuh." Tutur Cherly.


"Oh dia mau nelpon Aku." Sahut Naina.


"Halah, dia sebenarnya mau nelpon Aku. Sabar yah Aku angkat telpon dulu." Ucap Aris.


"Ngarep lu Ris. Ingat jangan belok."


Chia melihat ponselnya ada panggilan masuk, Chia pun langsung mengangkat telpon itu.


"Hadeh, nih anak juga ikut-ikutan." Tutur Anton.


*Percakapan Chia ditelpon


"Iya, Kak?" Jawab Chia.


"Kamu dimana?"


"Dikampus."


"Nih, Aku dikampus kamu tahu."


"Iya, Aku lihat kok."


"Kalau lihat langsung kesini yah, cepat panas nih."


"Titt... Tittt ..." Sambungan telpon terputus.


*Percakapan telepon selesai


"Kamu benar ditelpon? Aku pikir kamu becanda." Ujar Aris.


"Apaan, Aku bukan kalian yang suka halu. Bentar yah Aku kesana dulu." Ucap Chia bergegas pergi.


"Dia mau kemana?"


"Jangan-jangan..." Ucap mereka menatap kearah Chia.


Chia menghampiri pria yang sejak tadi jadi pusat perhatian banyak orang.


"Kamu lama banget dah."


"Hah? Kakak nggak bilang kalau mau datang. Lagian, kakak apa-apaan sih tampilannya kayak gitu? Nggak malu apa dilihat banyak orang. Risih tahu." Ungkap Chia.


"Oh, jadi mereka sejak tadi melihat Aku. Bagus dong emang pesonaku begitu mengikat banyak mata."


"Alah, kakak kok bisa disini?"


"Aku gantiin mama Aku untuk hadir pertemuan bisnis. Mama mau bangun hotel di kota ini. Sekalian deh Aku mampir lihat kamu. Udah lama nggak ketemu yah."


"Weh, orang kaya..." Tutur Chia.


"Nggak juga. Trus kamu udah kuliahnya?"


"Udah, nih mau pulang."


"Kalau gitu ayok, temani Aku jalan-jalan. Kamu kan pernah janji kalau Aku kesini kamu bakal ngajak Aku jalan."


"Eh, kapan? Tapi, bareng teman-teman Aku boleh?"


"Iya boleh, lebih banyak orang lebih seru."


*Disudut lantai dua gedung fakultas.


"Loh, cowok itu kenalannya Chia yah?" Tutur Yeni.


"Wah, iya? Gila sih, Chia bisa kenal dengan pria kaya."


"Jangan-jangan pacarnya lagi."


"Enggak lah." Sahut Ria.


"Trus dia siapa?"


"Mungkin, dia mau nanya alamat."


"Mungkin saja, eh tapi kalau dilihat-lihat mereka serasi juga."


"Mana ada." Ucap Alif dan Kay kompak.


Mereka pun menoleh ke Alif dan Kay dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kenapa kalian yang nge-gas?"


"Maksudnya nggak serasi lihat tuh si Chia aja berdirinya jaga jarak gitu." Tutur Kay.


"Ehhh, alasan deh." Sahut Angga.


"Oh iya, lusa pertandingan final basket putri kan? Timnya Chia loh yang masuk final."


"Mau nonton?"


"Tadi Aku dengar dosen-dosen mau nonton, kebetulan lusa kan hari Sabtu jadi bisa nonton."


"Kalau gitu yuk nonton."


*Balik ke Chia


"Na, Cher, Ris, Anton sini..." Teriak Chia memanggil teman-temannya.


Teman-temannya pun bergegas datang menghampiri Chia.


"Kak kenalkan ini teman-teman Aku."


"Hallo, Aku Adit." Sapa Adit ramah.


Adit pun berkenalan dengan teman-teman Chia. Chia pun menjelaskan kepada teman-temannya untuk menemani Adit jalan-jalan.


"Chia sama Aku kan?" Tanya Adit.


"Hah? Enggak, Aku mau sama Naina." Ucap Chia.


"Kan Aku nggak tahu jalan."


"Ih, Aku nggak mau naik mobil kakak. Malu dilihatin orang-orang gitu. Tuh, Anton sama Aris aja yang ikut kakak." Tutur Chia.


"Chia jangan gitu." Ucap Aris.


"Lagian, kakak dikota kecil gini pake mobil kayak gitu, jadi pusat perhatian tahu." Tutur Chia.


"Ya udah kalau gitu, Aku pake motor aja. Tapi, Chia sama Aku yah." Ucap Adit.


"Trus mobilnya kakak?"


"Nanti ada yang ambil."


"Tapi, Aku nggak mau naik motor yang biasa kakak pake di kota M."


"Iya, tenang ini motor beat kok. Wait, yah."


Adit pun mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk mengambil mobilnya. Beberapa menit kemudian orang itu tiba, Adit dan orang itu bertukar kunci. Adit mengambil kunci motor kemudian mengajak Chia bersamanya. Sementara, Naina dan lainnya ikut dari belakang.