I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 89



Chia bersama teman-temannya menikmati makanan mereka masing-masing.


"Kay, kamu mau kulit nggak?" Tanya Nadin.


"Emm, enggak." Jawab Kay.


"Kalau gitu kulit ayam kamu Aku ambil yah, please." Ucap Nadin dengan suara manjanya.


"Hmm, ini." Ucap Kay memberikan kulit ayamnya pada Nadin.


Nadin dan Kay duduk bersebelahan di meja sebelah. Sementara itu, Chia terus melirik kearah Kay dan melihat tingkah manja Nadin dengan mata tajamnya.


"Apaan sih minta dengan suara biasa aja kali." Batin Chia menyindir Nadin.


Chia melirik sembari mengopek kulit ayam dan memakannya dengan kesal. Adit yang melihat tingkah konyol Chia hanya bisa tersenyum tipis.


Adit mengopek kulit ayam miliknya dan meletakan dipiring Chia.


Chia pun menoleh melihat Adit karena menaruh kulit ayam dipiringnya.


"Kenapa Kak Adit baruh kulit dipiringku?" Tanya Chia.


"Aku nggak suka kulit ayam jadi Aku kasih kamu aja." Tutur Adit.


"Tapikan Aku nggak minta." Ucap Chia.


"Yah, daripada Aku buangkan mubasir." Ujar Adit.


"Hmm, nggak sekalian aja tuh dengan ayamnya." Ucap Chia.


"Oh, boleh nih buat kamu." Ucap Adit memberikan ayam yang ada dipiringnya.


"Ih, Aku cuman becanda kak. Nih ambil kembali." Ucap Chia mengembalikan ayam Adit.


"Nggak papa kamu makan aja biar kenyang." Adit kembali mengover ayam miliknya.


"Nggak perlu, nih aja Aku udah kenyang." Ucap Chia.


Mereka terus mengover ayam, membuat disekitar mereka menatap tajam mereka.


"Mereka berdua selalu ributin hal kecil yah? Nggak akur banget." Ucap Via.


"Apa mereka akan saling jambak lagi?" Tanya Sari.


"Hadeh, Kalian berdua dilihatin orang-orang loh." Tegur Naina.


"Nih, Kak Adit yang mulai duluan." Sahut Chia.


"Kamu kan yang minta." Jawab Adit.


"Kan Aku becanda lagian kalau Kakak ngasih Aku semuanya terus kakak makan apa nanti." Tutur Chia.


"Aku dah kenyang lihat kamu makan tahu." Ucap Adit.


"Dih apaan sih." Ucap Chia.


"Udah kalau kamu nggak mau kasih Aku aja." Tutur Aris.


"Iya bagi ke kita aja." Sambung Anton.


"Dih, enak banget kalian. Nih, Kak Adit makan." Ucap Chia.


Chia mengembalikan ayam ke piring milik Adit.


"Pokoknya Kak Adit makan, kalau perlu Aku suapin." Ucap Chia.


"Wah, ide bagus tuh. Aaaaa..." Tutur Adit sembari membuka mulutnya."


"Dih, gila kali nih Kak Adit." Cerca Chia.


"Mana?"


Chia pun memasukan potongan ayam kemulut Adit, sekaligus dengan gumpalan nasi yang lumayan besar sehingga membuat Adit kesulitan menguyah suapan dari Chia.


Chia pun tertawa lepas karena melihat Adit yang kerepotan dengan makanan yang ada di mulutnya. Tidak hanya Chia beberapa dari temannya juga ikut tertawa.


"Sorry sorry, nih Kak Adit minum jangan sampe keseleo trus pingsan yah." Ucap Chia menyerahkan segelas Coca-Cola.


Adit menerima Coca cola yang diberikan oleh Chia setelah susah payah menelan makanannya.


"Pftttt...." Tawa Chia.


"Uhuk uhuk..." Adit tersedak.


Chia dengan sigap mengelus pundak Adit dengan wajahnya yang awalnya tertawa girang berubah menjadi panik.


"Kak Adit okay? Pelan-pelan Kak minumnya." Tutur Chia.


Adit kembali meneguk airnya secara perlahan berdasarkan arahan Chia.


"Hahhh...." Celetuk Adit menarik napas lega.


"Aku minta maaf yah Kak." Ucap Chia sesal.


"Maaf untuk apa?" Tanya Adit.


"Gara-gara Aku kakak jadi kesedak gitu." Celetuk Chia.


Adit mengelus kepala Chia kemudian tersenyum kepada Chia.


Teman-teman Chia yang semeja dengan Chia dan Adit termangu dan ada juga yang termangap saat Adit dan Chia bermesraan.


"Chia yang disenyum dan dielus Aku kok yang baper?" Tutur Sari.


"Mingkep guys." Ujar Anton kepada teman-teman ceweknya.


"Adit kalau senyum mirip Oppa Kim Bum nggak sih." Bisik Cherly kepada Chia.


"Ges jantungku nggak aman deh kayaknya." Tutur Via.


"Apanya gak aman?" Ucap Gio.


"Nah, nah nah pacarnya cemburu." Tutur Aris.


"Enggak enggak becanda kok." Ucap Via.


"Btw kenapa Kak Adit sama Chia nggak pacaran aja." Tutur Chia.


"Uhuk uhuk...."


"Kamu nggak papa." Suara lembut Nadin.


Kay hanya memberikan isyarat dengan tangannya, bahwa dia baik-baik saja.


"Kamu kenapa berdiri, Chi." Tanya Adit.


"Oh, uhm itu. Kaki Aku kesemutan, Kak." Sahut Chia yang entah kenapa spontan dia berdiri.


"Kesemutan? Mana semutnya." Ucap Adit mencari semut dikaki Chia.


"Bugh..." Chia menjitak kepala Adit.


"Kaki Aku kram bukan disemutin sama semut asli." Oceh Chia.


"Sakit Chia gila, Aku juga cuman becanda." Tutur Adit.


"Aku nggak suka becanda." Tutur Chia kembali duduk dikursinya.


Chia terus melirik ke arah Kay, mendengar Kay tersedak diapun langsung berdiri namun Nadin sudah memberikan perhatian lebih dulu.


"Nadin kok bisa ikut? Siapa yang ajak?" Batin Chia menatap sinis Nadin.


"Kamu yang ajak." Sahut Naina seolah tahu apa yang diucapkan Chia dalam batin.


"Masa sih?"


"Heleh kata kamu, mana mungkin Aku merasa tersaingi dia ikut atau tidak aku nggak bakal cemburu." Cicit Naina mengulang ucapan Chia saat Nadin meminta untuk ikut.


"Yah, masa sih Aku ngomong gitu. Kalau tahu tadi nggak bakal Aku ucapin kayak gitu. Wait, kok kamu bisa nyambung sama pikiranku?" Tanya Chia.


"Ya iyalah, mata kamu aja lihatnya kayak mau membunuh orang tahu." Ucap Naina.


"Ketahuan yah, hehehehe..." Tukas Chia.


Chia makan sembari terus melirik ke arah Kay, terkadang dia senyum saat melihat Kay. Namun, ekspresinya berubah saat melihat Nadin yang terus bermanja-manja.


Chia yang terus melirik ke arah Kay, membuat Kay tersadar dan melirik juga ke arah Chia. Mereka saling bertatapan seperkian detik namun Chia bergegas membalikkan wajahnya namun dengan elegan agar Kay tidak kegeeran jika tahu Chia terus menatapnya.


...----------------...


Setelah makan, Adit mengajak mereka untuk bermain di game center. Mereka dengan senang mengiyakan ajakan dari Adit.


Sesampainya di game center, Adit memberikan mereka masing-masing kartu untuk mencari game yang mereka suka.


"Mereka semua dapat kok Aku nggak?" Tanya Chia.


"Kamu nggak usah?" Ucap Adit.


"Kenapa? Kak Adit masih dendam sama Aku yah?" Tanya Chia.


"Enggak, dendam apaan. Kamu nggak Aku kasih kartu karena kamu bakal temani Aku bermain." Tukas Adit.


"Ih, kok nggak adil gitu. Aku masa cuman jadi penonton doang. Nggak mau ah, ya udah Aku beli sendiri aja." Ucap Chia berjalan kearah kasir.


"Mbak Aku kartunya satu yah." Ucap Chia.


"Nggak usah mbak." Ucap Adit bergegas menarik kerah baju Chia dan menyeretnya pergi.


"Ih, Kak Adit jangan main tarik-tarik gitu dong." Ucap Chia.


Adit pun melepaskan tangannya dari kerja baju Chia.


"Kamu mau main apa?" Tanya Adit.


"Aku nggak mau main sama Kak Adit, Aku mau main sama teman-teman Aku." Ucap Chia.


"Nggak boleh, kamu sama Aku. Kita main basket aja gimana?" Tanya Adit.


"Duh baru aja Aku tanding basket, yang lain aja."


"Mau ambil boneka nggak?"


"Boleh, Ayok yang itu Kak." Jawab Chia.


Adit dan Chia pun bergegas ke arah capit-capit boneka.


......................


Beberapa menit kemudian, Adit juga belum mendapatkan boneka.


"Kak Adit payah ah." Ucap Chia.


"Susah Chi, coba kamu main." Ujar Adit.


Chia pun mengambil alih untuk mencapai boneka namun seperti yang diucapkan Adit, mencapit boneka susah bagi orang yang tidak memiliki trik khusus.


"Kan Aku juga bilang apa, susah kan." Oceh Adit.


"Dih..." Sahut Chia.


"Kamu kenapa Chi?" Tanya Kay.


"Nih, kak Adit payah." Ucap Chia.


"Kamu juga sama." Jawab Adit.


"Kalian lagi main ini yah? Boleh Aku coba." Tanya Kay.


"Main aja nggak usah izin, ini bukan punyaku loh." Tukas Chia.


"Kamu mau boneka yang mana?" Tanya Kay.


"Aku? Aku mau boneka panda itu." Tutur Chia.


Kay pun menggesekkan kartunya, lalu mulai untuk mencapit boneka. Dengan mahirnya Kay mencapit boneka dan mendapatkan boneka yang ditunjuk Chia.


Chia dan Adit seketika mangap melihat skill Kay yang bisa mencapit boneka dalam sekali coba.


"Apakah dia super hero?" Tanya Adit.


"Bukan Kak, mungkin Harry Potter." Sahut Chia.


"Nih, buat kamu." Ucap Kay sembari memberikan boneka Panda kepada Chia.


"Thank You." Ucap Chia masih dengan wajah terheran-heran.