I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 51



Aku memejamkan mataku dibangku halaman rumah, sekarang pukul 6 pagi. Walaupun masih sepagi ini tetapi mentari sudah bersinar terang. Selepas pulang dari masjid, Nana mengajakku untuk berolahraga namun Aku masih sangat mengantuk. Bagaimana tidak, jam 4 pagi Nana membangunkanku untuk bergegas kemasjid. Padahal, Aku ingin solat saja dirumah. Tetapi, Nana terus mendesakku hingga Aku terpaksa menerima ajakannya.


"Hhoammm..." Aku menutup mulutku karena menguap.


Rasanya Aku ingin kembali kekamar, dan merebahkan tubuhku diatas kasur yang empuk. Tetapi, apa nanti kata orang anak gadis malas-malasan.


Aku duduk bersandar dikursi halaman rumah, memejamkan mata sekaligus tidur. Walaupun, posisi ini tidak begitu nyaman tetapi asalkan Aku bisa menutup mata dan tidur lelap sudah cukup bagiku.


"Brughhh" suara benda yang dibanting.


"Eh, ayam ayam...." Ucapku yang tiba-tiba kaget dan bangun dari tidurku.


Aku melihat benda apa yang dibanting itu, dan siapa yang melakukan itu.


"Astaghfirullah, Nana... Aku kaget tahu." Jeritku.


"Maaf, Kak. Hehehehe." Sahut Nana.


"Kamu kenapa? Mukamu masam gitu?" Tanyaku.


"Ihhh, Kak Chi lihat tuh. Masa Aku masih ingin main badminton tetapi disuruh berhenti. Kan Aku sebal ihhh.." Oceh Nana.


"Siapa yang suruh kamu berhenti?" Tanyaku lagi.


"Tuh, Om Archi sama kawan-kawannya. Padahal, Aku duluankan yang main tahu." Cerca Nana.


"Kan kalian bisa ganti-gantian." Ucapku.


"Kalau itu nggak masalah, tapi tuh manusia sok cantik. Masa Aku udah nunggu giliran buat main dia malah nyelonong aja. Pas Aku menegurnya Aku malah dimarah sama Om Archi, dibilang Aku tidak sopan sama yang lebih tua." Oceh Nana.


"Manusia sok cantik? Siapa?" Tanyaku.


"Siapa lagi kekasih yang tidak akan pernah direstui. Tuh, si Dea." Cicit Nana.


"Mulutmu dek, panggil Kakak! Dia lebih tua darimu." Titahku.


"Ihhhh, Kak Chia sama saja kayak Om Archi. Nana kesal tahu."


"Iya, iya maaf. Tapi, nggak boleh panggil namanya saja nggak sopan." Ucapku.


"Habisnya Kak Dea itu sok banget tahu. Ih, mana suaranya sok dihalus-halusin gitu." Oceh Nana.


Aku hanya melihat Nana terus mengoceh dan mengatai Kak Dea. Aku ingin mengeluarkan suara tawaku tetapi Aku takut Nana akan lebih kesal lagi.


"Kak Chia, bantuin Aku dong." Pinta Nana.


"Bantu apa sih, Na."


"Bantu ngatasin perempuan itu. Dia pikir dia sangat cantik gitu, jadi semua laki-laki hanya melihatnya. Bahkan, dia dibandingkan dengan Kakak ajah jauh banget." Ucap Nana.


"Ih, kakak nggak mau ah. Kamu saja dimarah sama Kak Archi. Apalagi, Kakak. Ih bisa dimakan hidup-hidup. Lagian, Kakak nggak suka nyari masalah sama orang." Jawabku.


"Aaaaa, Kak Chia. Bantuin Nana..." Rengek Nana dengan manja kepadaku.


Dia merengek dan menarik-narik lengan bajuku hingga melorot.


"Iya, ditarik aja baju kakak. Bila perlu tarik sampai bajunya lepas dari badan kakak." Ucapku.


"Upsss, sorry. Hehehe, tapi Kak Chia ayokkkklah bantuin Aku." Pinta Nana manja.


"Bantuin apa sih, Na?"


"Buat Kak Dea nggak ganjen lagi sama Om Archi dan lainnya."


"Ih, apasih Na. Ide buruk apa lagi tuh? Lagian, Na. Kak Dea memang cantik. Siapa pun yang melihatnya pasti terpesona lah."


"Enggak, enggak cantik sama sekali. Lebih, cantik Kak Chia tahu. Dia hanya kegatelan aja." Ucap Nana manyun.


"Astaghfirullah, Na. Mulutmu jika didengar Kak Archi kau bisa dibuang diluar angkasa."


"Habisnya dia tuh dimana banyak cowok-cowok ngumpul pasti tebar pesona. Padahal, nggak ada yang ajak main, dia datang tanpa diundang 'Aku boleh main nggak' cihhhh..." Oceh Nana.


Jika Kak Archi mendengar ini pasti Kak Archi akan memukul gadis kecil ini. Suara tawaku semakin terdengar karena melihat wajah Nana yang begitu menggemaskan saat mengoceh.


"Kak Chia jangan ketawa mulu, ihhhh..."


"Iya, iya. Trus apa yang harus Aku lakukan untuk membantumu."


Wajah Nana tiba berubah menjadi riang dan sangat antusias.


"Kakak gabung main deh sama mereka trus buat Kak Archi cemburu. Nggak hanya itu, buat juga Kak Dea sampai merasa insecure."


"Ha, nggak nggak. Ih, ide yang sangat tidak masuk akal. Lagian, mana mungkin Kak Archi cemburu sama Kakak. Jangan ngadi-ngadi deh, Na. Daripada urusin mereka mending kita kembali kekamar trus tidur."


"Aaaa, Kak Chia. Ayokkkk..." Ucap Nana sembari menarik tanganku.


Nana pun menyeretku hingga tiba dilapangan lapang, yang terletak dipusat desa. Tempatnya tidak terlalu ramai. Banyak orang-orang desa yang beraktivitas di lapangan yang cukup menampung 200 orang. Lumayan besar sih, walaupun cuman di semen kasar tetapi tempat ini sangat cocok untuk aktivitas olahraga seperti sepakbola, voli dan olahraga lainnya. Namun, lebih banyak anak kecil yang bermain di lapangan ketimbang orang dewasa.


"Kamu bilang Kak Dea main. Tapi, kakak lihat Kak Dea hanya duduk manis dibangku tuh."


"Ih, tadi dia tuh maksa banget main tahu. Mungkin, dia sedang beristirahat. Ayok kita kesana."


"Aih, Na. Balik aja deh, kakak ngantuk."


"Nggak boleh, ayok."


Nana menarikku hingga kami tiba dibangku taman dimana Kak Dea sedang duduk. Aku pun ikut duduk disamping Kak Dea, sementara Nana duduk disampingku.


"Pagi, Kak Dea." Sapaku.


"Pagi." Jawabnya ketus.


"Ih, biasa aja kali. Kak Chia nyapanya lembut malah dijawab ketus." Ucap Nana.


Aku pun mencubit Nana untuk menegurnya secara tidak langsung, sungguh sangat canggung. Aku tidak ingin berada disituasi seperti ini.


"Kak Chia, mau main badminton nggak? Biar Aku bilangin ke Kak Archi." Tutur Nana.


Aku menoleh ke arah Nana, Aku melototnya memberikan isyarat untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat membuat masalah.


"Kak Chia kenapa melihat Aku seperti itu? Jadi, gimana Kak Chia mau. Aku panggil nih Kak Archinya."


"Oh my...." Ucapku.


Nana benar-benar tidak mengerti isyaratku. Atau dia memang sengaja.


"Kenapa kak?" Tanya Nana.


"Kakak nggak bisa main badminton."


"Yang benar?"


Suara tawa terdengar tetapi sangat kecil hanya Aku dan Nana yang mendengar. Kak Dea menertawakan ucapanku. Namun, Aku bersikap biasa saja. Malah yang emosi adalah Nana.


"Nggak papa kak Chia, ntar Aku suruh Kak Archi ngajarin kakak." Tutur Nana.


Saat Nana berdiri dan siapa memanggil Kak Archi, Kak Dea lebih dulu dan melangkah. Tetapi, dia tiba-tiba saja terjatuh. Aku dan Nana terkejut, Aku pun bangkin dan berniat untuk menolong Kak Dea. Sementara itu, Nana hanya tertawa sepertinya dia sangat bahagia lihat orang lain menderita.


"Kak Dea tidak apa-apa kan? Sini Aku bantu." Ucapku mengulurkan tanganku.


Namun, Kak Dea menepis tanganku. Membuat Aku kebingungan. Sementara, orang-orang yang ada di lapangan berpaling melihat kearah kami. Tidak hanya itu, Kak Archi pun menghampiri kami.


"Ada apa?" Tanya Kak Archi.


"Nggak tahu, Kak Dea tiba-tiba jatuh." Jawabku.


"Kamu nggak papakan." Ucap Kak Archi kepada Kak Dea.


"Iya, nggak papa. Tadi pas Aku mau jalan kelapangan, kaki Chia menyenggol kakiku jadinya Aku jatuh." Tutur Kak Dea.


Aku pun terkejut mendengar apa yang diucapkannya. Kak Archi menatapku tajam. Aku bahkan bingung dan membuka mulutku karena sesuatu yang baru kudengar ini benar-benar membuatku sangat tidak percaya.


"Kak Dea bohong, perasaan kaki Kak Chia tenang-tenang saja. Kakaknya aja jalannya nggak pake mata." Teriak Nana.


"Aku tidak bohong, mungkin Chia juga nggak sengaja kan. Kakinya dipanjangkan trus nyenggol kakiku saat Aku ingin berjalan." Ucap Kak Dea.


"Awww, Kak Dea ini selain sok cantik juga suka akting yah." Ucap Nana.


"Nana...." Bentak Kak Archi.


Tidak hanya Nana yang kaget, Aku pun yang tadi masih dalam proses mengingat kejadian sebelum Kak Dea jatuh pun ikut terkejut mendengar suara bentakan Kak Archi.


Aku menoleh kearah Nana, matanya berkaca-kaca. Wajahnya memerah sangat terlihat karena kulitnya yang putih bak salju itu. Aku tidak ingin masalah ini jadi panjang.


"Kak Dea maaf yah. Mungkin Aku tidak sengaja." Ucapku.


Kak Dea memalingkan wajahnya dariku. Kak Archi membantunya berdiri.


"Aku dengar Chia ingin bermain badminton, tetapi dia takut bilang ke kamu. Jadi, Aku ingin bantu bilang ke kamu. Eh, malah kakinya nyenggol Aku trus Aku jatuh deh." Ucap Kak Dea kepada Kak Archi.


"Oh, kamu mau main juga. Kenapa nggak bilang langsung saja sama Aku, kenapa harus merepotkan Dea." Ucap Kak Archi kepadaku.


"Dia malu, karena dia nggak bisa main. Makanya, Aku mau ngajarin dia. Tapi, sepertinya dia tidak mau makanya menyenggolku." Sahut Kak Dea.


"Oh, gitu. Kamu mau dibantuin malah melakukan hal yang kejam gitu." Ujar Kak Archi.


Aku dibuat melongo bahkan Aku tidak punya kesempatan untuk berbicara. Jadi, inilah yang dimaksud Nana. Wah, tiba-tiba Aku menjadi kesal. Padahal, Aku tidak ingin bermasalah dengan siapapun.


"Wah, Kak Dea sangat baik sekali. Aku SANGAT menyesal telah menyenggol kakak. Bukankah kakak ingin membantu mengajariku, kalau begitu tidak perlu Kak. Bagaimana kalau kita langsung bermain saja. Kita main ganda campuran saja. Kakak sama MANTAN kakak, Aku sama Kak Adit. Tapi, mainnya jangan terlalu serius yah soalnya Aku baru belajar, ya udah Aku bilang Kak Adit dulu." Tuturku tersenyum kecut sembari meninggalkan mereka.


Aku berjalan ke arah lapangan, Aku menghampiri Kak Adit yang sedang berdiri dilapangan.